Wakil Rektor III Unibos Sebut Aparat Kepolisian Tak Profesional Jalankan Tugas


Seputarsulawesi.com, Makassar - Wakil Rektor III Universitas Bosowa (Unibos) Makassar, Haris Hamid menyangkan kasus penembakan dan tindakan refresif yang diduga dilakukan oleh oknum anggota polisi terhadap dua orang mahasiswa Unibos berinisial AK dan NP. Menurutnya, tindakan refresif tersebut sangat tidak profesional.

"Sebagai aparat, sejatinya mereka bisa melakukan tugasnya sesuai dengan koridornya," kata Haris saat dihubungi via  sambungan telepon, Sabtu, 8 Oktober 2017.

Haris mengatakan, oknum polisi yang melakukan tindakan refresif itu tidak bisa membedakan mana pelanggaran dan kejahatan. 

"Kalau kejahatan, misalnya narkoba atau begal mungkin saja pendekatannya lewat represif seperti itu. Menurut saya, kasus yang menimpa dua mahasiswa Unibos itu merupakan pelanggaran, bukan kejahatan," ujar Haris Hamid.

Hal senada juga disampaikan oleh Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar, Haswandy Andi Mas. Ia mengatakan, oknum anggota kepolisian yang telah melakukan pemukulan dan penembakan terhadap AK dan NP haruslah diberi sanksi sesuai dengan aturan yang berlaku, yakni sanksi pidana dan sanksi administrasi.

"Pelanggaran Kode Etik dan Peraturan Disiplin. Hal ini tertuang dalam Undang-undang Nomor 39 Tahun 2009 tentang Hak Asasi Manusia," ungkap Haswandy Andy Mas yang akrab disapa Wawan. 

Adapun kronologis kejadian berdasarkan rilis dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Makassar menyebutkan, kedua mahasiswa Unibos tersebut ditembak oleh oknum anggota kepolisian di Jalan Urip Sumihardjo, Jumat 6 Oktober 2017 lalu saat keduanya pulang dari rumah keluarganya usai mengerjakan skripsi.  

Di jalan tiba-tiba korban dicegat oleh Polisi dan langsung memukul korban, sehingga korban pun mengaku panik dan langsung menancap gas motor yang dikendarainya. Saat itulah oknum polisi tersebut mengeluarkan tembakan, dan mengenai punggung korban berinisial AK. 

  • 153 Dibaca