Agama Kaffah


Kiai Muda Mahmud Suyuti
Ketua MATAN Sulsel

Penceramah, dai, mubalig pada umumnya sering kali awal tausiahnya mengajak untuk selalu bersyukur kepada Allah swt atas nikmat iman dan Islam. Di sini ada terlupakan, sejatinya memasukkan juga nikmat ihsan. Jadi bukan iman dan Islam saja, tetapi juga Ihsan menjadi penting sebagai pilar utama yang diwahyukan Allah swt kepada nabi Muhammad saw.

Al-Ihsan huwa al-akhlak, Ihsan itu adalah akhlak. Iman adalah aqidah dan Islam adalah syariat, ketiganya tidak terpisahkan sebagaimana dalam tasawuf implementasinya dalam bentuk syariat, tariqat dan haqiqat. Ibarat kelapa, syariat sebagai kulitnya. Tareqat adalah isinya dan haqiqat sebagai santannya. Lebih mendalam lagi, syariat sebagai tempurungnya. Tariqat adalah airnya dan haqiqat menjadi santannya.

Itulah agama kaffah, utuh dan menyeluruh yang sebagai universalismenya maka tidak dapat dipisahkan dan diamalkan satu segi saja bagai melihat sosok gajah dari satu arah pandang. Sebagian ada yang berkata gajah seperti mahkota, selainnya mengatakan bahwa gajah bagai pipa air, ada pula berkata gajah seperti kipas dan ada menyebut gajah bagai tiang.

Benar bahwa gajah seperti mahkota karena yang dipandangnya fokus pada bagian gadingnya, dikatakan bagai pipa air karena fokus pada belalainya atau hidungnya yang panjang. Bentuk lain seperti kipas karena daun telinga gajah begitu lebar dan berkibar-kibar, atau dikatakan bagai tiang karena yang diperhatikan hanya sepasang kaki gajah tersebut.

Demikianlah jika agama ini dipersepsikan sebagian saja, hanya fokus pada amalan iman dan Islam atau syariatnya saja tanpa ihsan. Kaum sufi menegaskan, siapa yang berfikih atau bersyariat tanpa be-ihsan yakni berakhlak atau bertasawuf maka ia fasik. Sebaliknya siapa yang bertasawuf tanpa berfikih niscaya ia zindik.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

  • 400 Dibaca