Foto: Tribuntimur.com

Akbar, Ular, dan Sawit di Sulbar (2-Selesai)


Seputarsulawesi.com, Mamuju Tengah- Tetapi sawit tak selamanya adalah emas. Terutama dalam tata pengelolaannya memiliki sejumlah problem. Pada 13 Maret lalu, KPK menemukan adanya kelemahan tata kelola komuditas kelapa sawit di Indonesia. Di Gedung KPK, Wakil Ketua KPK Laode M. Syarif memaparkan hal itu.

Baca Tulisan sebelumnya : Akbar, Ular, dan Sawit di Sulbar (1)

Kelemahan itu, pertama; sistem pengendalian perizinan usaha perkebunan tidak akuntabel untuk memastikan kepatuhan pelaku usaha. Hal ini disebabkan antara lain; Tidak adanya perencanaan usaha perkebunan kelapa sawit; serta Tidak adanya koordinasi antara pemerintah daerah dengan kementerian/lembaga dalam proses penerbitan dan pengendalian perizinan.

Akibatnya, pengendalian izin tidak efektif (kasus tumpang tindih lahan) dan menimbulkan ketidakpastian hukum, kasus IUP yang tidak pemiliki HGU karena berada dalam kawasan hutan atau kasus izin usaha perkebunan yang izin lingkungannya sudah dicabut tetapi perusahaanya masih beroperasi.

Kedua, tidak efektifnya pengendalian pungutan ekspor komoditas kelapa sawit. Hal ini disebabkan Sistem verifikasi ekspor tidak berjalan baik; Penggunaan dana perkebunan kelapa sawit habis untuk program subsidi biofuel; serta tiga grup usaha menjadi penerima manfaat
utama dana perkebunan kelapa sawit.

Ketiga, tidak optimalnya pungutan pajak sektor kelapa sawit oleh Direktorat Jenderal Pajak. Hal ini disebabkan DJP tidak mendorong kepatuhan Wajib Pajak sektor perkebunan kelapa sawit; Tidak ada sistem integrasi data perkelapasawitan dengan data perpajakan; dan Belum terpungutnya potensi pajak di sektor kelapa sawit secara maksimal.

Selain persoalan itu, soal lain perkebunan kelapa sawit memiliki sejumlah dampak negatif yang cukup membahyakan keberlanjutan lingkungan hidup, diantaranya;

1. Memicu hilangnya keragaman hayati dan kerentanan alam seperti kualitas lahan menurun, terjadinya erosi, serta merebaknya hama dan penyakit tanaman.

2. Umumnya, pembukaan lahan kelapa sawit dilakukan dengan metode tebang habis (land clearing) agar menghemat biaya dan waktu. Akibatnya makhluk hidup yang tinggal di dalamnya pun menjadi terganggu.

3. Kelapa sawit membutuhkan air dalam jumlah sangat banyak mencapai 12 liter/pohon. Proses pertumbuhan tanaman ini juga acapkali dirangsang memakai pestisida, zat fertilizer, dan bahan kimia lainnya.

4. Kebun sawit pun dapat mengakibatkan kemunculan hama baru. Penyebab utamanya tidak lain karena penerapan sistem lahan monokulturasi.

5. Aktivitas pembukaan kebun yang dikerjakan dengan membakar hutan menimbulkan polusi udara yang parah. Bahkan asap pencemaran ini bisa terbawa angin sampai ke negeri tetangga.

6. Timbulnya konflik baik yang bersifat horisontal maupun vertikal. Misalnya konflik antar-pekerja daerah dengan para pendatang atau konflik antara pemilik kebun dengan pemerintah setempat.

7. Di beberapa kasus sebelumnya, perkebunan sawit sering menjadi penyebab utama timbulnya bencana alam seperti tanah longsor dan banjir bandang. Hal ini dikarenakan struktur tanah mengalami perubahan sehingga kondisinya menjadi labil.

Dengan dampak negatif itulah (terutama dampak point ke 2) barangkali kita segera memahami mengapa ular piton kelaparan dan murka. Sawit memang menjadi berkah bagi korporasi dan petani, tetapi ia menjadi bencana bagi mahluk hidup dan ekosistem lainnya. Dan nampaknya, dengan ambisi besar manusia, bencana sawit bagi mahluk hidup dan ekosistem lainnya itu, berpotensi pula menjadi malapetaka bagi manusia.

TIM Redaksi Seputarsulawesi.com

Tag :

matra
  • 380 Dibaca