Akuntansi dan Adatongeng dalam Budaya Bugis


Informasi akuntansi merupakan hal yang sangat penting dalam sebuah entitas. Arah sebuah entitas ditentukan seberapa akuratnya pengambilan keputusan oleh pihak manajemen. Dan akuratnya sebuah keputusan sangat ditentukan oleh data akuntansi yang disajikan.

Hampir semua perusahan menjadikan informasi akuntansi sebagai dasar pengambilan keputusan. Informasi tersebut dapat memberikan gambaran atas keadan entitas. Sehat tidaknya entitas dapat dilihat dari informasi akuntansi.

Selain entitas, dalam pemerintahan informasi akuntansi sama pentingnya. Terutama dalam hal pertanggungjawaban atas pengelolaan dana, baik yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maupun Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (ABPD). Informasi akuntansi juga akan memberikan gambaran atas realisasi dan anggaran, apakah penggunaannya sesuai dengan rencana atau tidak?

Entitas maupun pemerintahan sangat membutuhkan informasi akuntansi yang valid, terukur, tepat waktu dan dapat diandalkan. Agar proses pengambilan keputusan berjalan dengan lancar dan tepat sasaran. Artinya bahwa informasi akuntansi harus betul-betul disajikan secara benar (dalam konsep akuntansi disebut wajar) dan bebas dari manipulasi dan kecurangan.

Manipulasi dan kecurangan akan berdampak pada pengambilan keputusan untuk masa yang akan datang. Jika dalam entitas bisa berakibat kerugian atau bahkan kolapsnya sebuah perusahan, namun pada pemerintahan terjadinya kasus korupsi dan kegagalan pembangunan Negara. Dapat disimpulkan informasi akuntansi sangat urgen dalam entitas maupun pemerintahan.

Adatongeng dalam akuntansi

Pentingnya informasi akuntansi diharuskan agar disusun berdasar nilai-nilai adatongeng. Dalam bahas bugis adatongeng diartikan ke dalam bahasa indonesia sebagai kebenaran, perkataan yang benar. Ada tongeng menurut Rahman, (2011) adalah yakin berkata dengan benar.

Nilai yang berkaitan dengan adatongeng yaitu lempu (kejujuran), asitinajang (kepatuhan/kewajaran) dan getteng (keteguhan/konsisten). Lempu menurut Rahim (2011) dalam perkataan Bugis disebut integritas. Menurut arti logatnya, lempu sama dengan lurus lawan dari bengkok.

Dari berbagai konteks, adakalanya kata ini berarti ikhlas, benar, baik, atau adil, sehingga kata-kata lawannya adalah culas. Kaitannya dengan informasi akuntansi bahwa dalam penyusunan laporan keuangan harus didasarkan atas nilai-nilai lempu yang biasa diartikan kejujuran.

Pencatatan atas transaksi harus dilakukan dengan benar dan terbebas dari manipulasi, kecurangan, keculasan dan korupsi. Agar informasi akuntansi yang dihasilkan benar-benar menunjukan keadaan sebenarnya.

Asitinajang Rahim (2011) kata ini berasal dari tinaja yang berarti cocok, sesuai, pantas atau patut. Cendekiawan Luwu sebagaimana dikutip oleh Ambo Enre (1992) sebagai berikut. Ri pariajanngi ri ajannge, ri parialau'i alau'e, ri parimanianngi maniannge, ri pariase'i ri ase'e, ri pariawai ri awae. (Ditempatkan di barat yang di barat, ditempatkan di timur yang di timur, ditempatkan di selatan yang di selatan, ditempatkan di atas yang di atas, ditempatkan di bawah yang di bawah).

Artinya informasi akuntansi harus disusun berdasarkan aturan-aturan yang berlaku atau sitinaja. Misalnya dalam entitas laporan keuangan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan (SAK) dan pemerintahan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) jadi patut terhadap standar tersebut.

Selain itu, informasi akuntansi harus mencerminkan asitinajang atau kewajaran atas transaksi yang disajikan. Getteng menurut Rahim (2011) adalah teguh, kuat dan tangguh dalam pendirian atau biasa juga diartikan konsisten.

Pembuat laporan keuangan atau biasa disebut akuntan harus memiliki sikap getteng. Informasi yang disajikan betul-betul apa adanya, sehingga tidak ada keraguan dan tidak ada yang bisa mengganggu-gugat atau mengintervensi atas informasi akuntansi yang disajikan. Informasi yang dihasilkan terbebas dari manipulasi, kecurangan dan praktik korupsi.

Dalam suku bugis suatu nilai utama yang dilanggar mestilah menimbulkan krisis karena sifatnya sakral. Misalnya dalam dunia akuntansi kasus Enron menjadi malapetaka bagi profesi akuntansi, karena kecurangan dan manipulasi dalam informasi akuntansi membuat perusahaan besar tersebut mengalami kerugian sampai dengan runtuh.

Sedangkan dalam pemeritahan, akibat dari penyajian informasi akuntansi yang seleweng. Tidak sesuai dengan aturan-aturan yang berlaku, membuat sejumlah pejabat yang menyeleweng harus diadili dan dihukum karena kasus korupsi.

Adatongeng dalam informasi akuntansi adalah sebuah nilai yang berfungsi untuk menjaga kebenaran, kevalidan dan keandalan laporan yang dihasilkan. Sehingga aktualisasi adatongeng dalam akuntansi dipandang perlu oleh penulis sebagai kode perilaku bagi akuntan.

Penulis: Muhammad Aras Prabowo
Mahasiswa Magister Akuntansi Univ. Mercu Buana Jakarta

Tag :

aras-prabowo
  • 612 Dibaca