Akuntansi Intuisi Pedagang Cabe


Judul di atas bukanlah suatu yang mainstream dalam pembahasan ilmu akuntansi. Sebab jika membahas akuntansi selalu diidentikkan dengan sebuah perusahaan, gedung bertingkat, pakaian yang mewah dan semua berbau kapitalis. Hingga seringkali ilmu akuntansi dianggap sebagai ilmu kapitalis, karena ilmu tersebutlah yang menjadi penopang utama kelompok kapitalis dalam mencapai tujuan dalam korporasi. Sangat jarang akuntansi dibahas dalam praktik ekonomi pedagang kaki lima atau bahkan pedagang cabe yang ada di pasar-pasar tradisional.

Dalam Standar Akuntansi Keuangan (SAK) akuntansi dikenal sebagai sebuah proses identifikasi transaksi, pencatatan, pengelompokkan, pengikhtisaran sampai dengan pelaporan keuangan. Perusahaan dalam menyususn laporan harus sesuai dengan kaidah-kaidah yang tertuang dalam SAK serta berlaku umum. Sehingga dapat dipahami oleh pihak-pihak yang berkepentingan atau harmonisasi laporan keuangan.

SAK yang dirancang sedemikian rupa untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi pelaku ekonomi lambat laung semakin berpihak hanya kepada perusahaan-perusahaan besar tidak pada pelaku ekonomi kecil seperti pedagang kaki lima. Keterbatasan ekonomi membuat para pedagang kecil semakin jauh dari akses ilmu akuntansi, sehingga ilmu akuntansi dikuasai oleh para pemodal besar bahkan arahnya pun ditentukan olehnya.

Keterbatasan tersebutlah yang membuat pedagang kaki lima tidak mampu melakukan pencatatan akuntansi sesuai SAK dalam menjalankan aktivitas ekonominya. Bahkan dalam melakukan aktivitas ekonomi, mereka hanya mengandalkan intuisinya. Tapi realitas membuktikan bahwa intuisi tersebut mampu membuatnya bertahan dan berkelanjutan dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

Misalnya, saat penulis berkunjung disebuah pasar tradisional dan mengamati aktivitas ekonomi dalam pasar tersebut. Para pedagang kaki lima dengan lugas menawarkan jualannya kepada para pengunjung/konsumen yang ingin belanja kebutuhan rumah tangga. Penawarannya pun begitu fleksibel  seakan menjadi salah satu trik untuk menarik konsumen. Seperti salah satu konsumen  yang sedang tawar menawar dengan pedagang cabe, namun konsumen tersebut menawar sebuah kuantitas atau harga tidak pada umumnya.

Biasanya jika transaksi pada mini market atau pasar modern semua sudah ditentukan daftar harga beserta kuantitasnya. Hal tesebut untuk memudahkan dalam memperhitungkan Harga Pokok Penjualan sehingga dapat mengestimasikan keuntungan yang akan dihasilkan. Namun tidak pada pedagang cabe, semua bisa diatur sesuai dengan harga dan kuantitas yang akan dibeli tanpa ada ukuran formal seperti pada mini market. Tentunya tetap memperhitungkan keuntungan yang akan dihasilkan. Bedanya dengan mini market, keuntungan pada pedagang cabe ditentukan oleh ketajaman intuisi si penjual. Si penjual harus bisa memperkirakan bahwa jika kuantitasnya sekian harganya sekian, begitupula sebaliknya. Konsumen bisa membeli cabe mulai dari harga ratusan ribu hingga harga paling kecil yang tidak dapat diukur dengan timbangan seperti 3.500, 3.000, 2.500 sampai 1.500 atau dengan kuantitas ganjil misalnya ¼, ½, dan 1 kg yang tidak dapat ditentukan harganya secara rill namun keduanya diukur dengan intuisi penjual.

Intuisi beda tipis dengan firasat dan feeling. Dalam KBBI, intuisi diartikan dengan kemampuan untuk mengetahui atau memahami sesuatu tanpa dipikirkan dan dipelajari, diartikan juga dengan bisikan hati atau gerak hati. Perbedaannya dengan firasat atau feeling, kata intuisi lebih banyak digunakan untuk hal-hal yang bersifat metafisika atau di luar jangkauan rasional, biasanya dipakai untuk menyebut indera keenam. Pedagang cabe itu lebih banyak menggunakan kekuatan intuisinya dalam mentukan sebuah nilai transaksi daripada menggunakan logikanya.

Praktik inilah yang kemudian disebut oleh penulis sebagai akuntansi intuisi pedagang cabe. Sebuah praktik akuntansi yang tidak mengandalkan sebuah pencatatan atau sesuatu yang formal sesuai dengan kaidah akuntansi dalam aktivitas ekonomi, namun intuisilah yang dijadikan sebuah ukuran dalam menilai transaksi tanpa mengabaikan laba yang akan dicapai. Tidak hanya itu, akuntansi intuisi pada pedagang cabe juga mampu menjalin komunikasi yang ramah antara si penjual dan konsumen sehingga terbangun kemistri transaksi diantara mereka. Artinya akuntansi intuisi mampu menjaga nilai kemanusiaan dalam bertransaksi saat menjalankan ektivitas ekonomi.

Muhammad Aras Prabowo
(Mahasiswa Magister Akuntansi Univ. Mercu Buana Jakarta)

Tag :

aras-prabowo
  • 739 Dibaca