Alasan Bergabung di Diklatsar Banser di Alu


Di kampung kami, di Kecamatan Alu, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat nyaris tak ditemukan pesantren laiknya  Pondok Pesantren Salafiyah Parappe Campalagian atau Ponpes DDI Mangkoso Barru. Meski tidak terdapat pesantren seperti yang saya sebut diatas, kampung kami senantiasa dikunjungi beberapa Ulama tasawuf, mulai dari Annanggguru Haji (AGH) Muhammad Saleh di tahun 70-an, Prof Dr AGH Sahabuddin dan ulama-ulama lainnya. Sehingga di kampung kami  banyak pengikut tarekat Qadiriah yang mayoritas adalah petani. 

Biasa saya mendengar bahwa nama para sesepuh  semisal almarhum Kannai Cenda di Desa Mombi  dikenal sangat bersahabat dengan AGH. Muhammad Saleh. Selain pengikut tarekat Qadiriah, banyak pula pengikut  Ulama tasawuf lainnya yang mu'tabarah silsilahnya ke Baginda Rasul SAW. Ada ajaran  dari Annanggurutta' AGH Muhammad Yahya (Annangguru Pocci') di Napo dan ajaran AGH Muhammad Tahir (Imam Lapeo), juga banyak dikuti warga. 

Selain itu, ada juga pengikut Tarekat Naqsyabandiah dan tarekat mu'tabarah lainnya yang tidak bisa disebut satu persatu dalam catatan singkat ini.  Ketika kita flash back lagi ke masa awal mula penyebaran Islam di Mandar, terutama di Alu akan kita dapati nama besar Tuan di Tanase (Tuan dari Tanah Aceh), petilasan Sang Wali bisa kita dapati di Dusun Tanase Desa Puppuuring. 

Tuan di Tanase dalam menyebarkan Islam sangat menghargai kearifan lokal masyarakat di Alu pada saat itu. Sehingga Islam sangat mudah diterima. Saya biasa mendengar cerita warga Puppuuring, bahwa setiap tahun, setiap warga akan mulai menanam padi (beras merah), akan kita jumpai warga Puppuuring, berbondong-bondong melakukan doa bersama di Petilasan Tuan di Tanase. 

Warga Tabarruk, meminta rezeki kepada Allah, dengan harapan  tanaman padi tumbuh subur dan berkah bagi warga kampung. Kemudian, baru-baru ini, waktu saya sowan ke salah satu murid langsung AGH. Muhammad Saleh yang rumah beliau tak jauh dari rumah orang tua saya, waktu itu saya diceritakan bahwa sebelum leluhur di Alu Puangta' di Saragian memeluk Islam sebagaimana Islam yang dianut oleh warga Alu saat ini, Puang ta di Saragian memiliki seorang anak saleh yang setelah beliau mangkat, beliau digelari Tomatindo di Sambayanna (Yang tidur atau mangkat saat mengerjakan salat). 
Menurut murid AGH Muhammad Saleh tersebut yang tak lain adalah ayah sahabat saya (saya tak berani menulis nama beliau tanpa izin),  bahwa Tomatindo di Sambayannna berangkat ke Aceh, dan belajar tentang Islam di negeri Serambi Mekah itu. Setelah dari sana, Puangta di Saragian mengucapkan kalimat syahadat berkat bimbingan dan ajaran yang dibawa oleh anak kesayangannya itu. Dan sekali lagi, Islam yang diajarkan oleh Puangta Tomatindo di Sambayanna adalah Islam yang ramah, Islam yang bersenyawa dan harmoni dengan kearifan lokal warga, sehingga sangat mudah diterima. 

Begitulah nuansa Islam yang bisa kita saksikan sekarang di kampung-kampung di Kecamatan Alu. Deskripsi diatas adalah salah satu alasan, mengapa Diklatsar Barisan Ansor Serbaguna (Banser) di laksanakan di Kecamatan Alu. Kecamatan Alu sebagai basis jamaah Nahdlatul Ulama, akhir-akhir ini mulai didatangi aliran yang mengatas namakan "Islam", tapi bertolak belakang dengan ajaran yang diajarkan oleh para orang tua di Alu yang berguru ke para Annangguru (Ulama) yang sudah saya sebutkan diatas. Dan para pemuda dan pemudi yang diharapkan menjadi benteng pertahanan atau garda candra dimuka, mengawal dan menjaga ajaran yang telah turun temurun diamalkan oleh para orang tua. 

Dengan niat tulus, kami mengajak para pemuda dan pemudi harapan bangsa, mari bergabung di kegiatan Diklatsar Banser yang dilaksanakan Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Polewali Mandar. Dan untuk pertama kalinya dilaksanakan di Kecamatan Alu.  Mari bersama-sama meraup berkah para Annangguru, para Waliullah, orang-orang saleh yang setiap saat mendoakan ketentraman kampung, bangsa dan negara yang kita cintai. Al Fatihah.

Oleh: Muhammad Arif

Pengurus Ansor Polewali Mandar

Tag :

ansor polman
  • 732 Dibaca