Annangguru Saleh, Menyebarkan Tarekat dari Kampung ke Kampung

Berguru hanya dalam waktu lima tahun di tanah Mekah, beliau pun dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram.


Seputarsulawesi.com – Kiai H Muhammad Saleh merupakan ulama besar dari tanah Mandar Sulawesi Barat, yang sangat tertarik dengan ajaran sufi, ketika beliau mengikuti pengajian di bawah asuhan Syekh Muhammad al-Idrus, salah satu praktik ritual yang beliau jalankan adalah penyucian diri di salah satu gua di kaki bukit Jabal Qubais. Setelah lama berguru dan mengajar di Mekah, KH Muhammad Saleh kembali ke tanah Mandar pada usia 30 tahun.

Dengan berhaji saat usianya 16 tahun dan belajar ilmu agama di Madrasah al-Falah, di Mekah ia mempelajari bermacam ilmu tentang Al Quran, Hadits, Lugah, Fiqih, dan Tasawuf. Dan atas bimbingan guru Sayyid Alwi al-Maliki, Syekh Umar Hamdan, Sayyid Muhammad al-Idrus dan Syekh Hasan Masysyat, hanya dalam waktu lima tahun, memperdalam ilmu agama, beliau pun dipercaya untuk mengajar di Masjidil Haram, kala itu.

KH Muhammad Saleh lahir di Pambusuang, pada tahun 1913. yang kini merupakan salah satu desa dalam wilayah administratif Kecamatan Balanipa. Dikenal, sebagai ulama bersahaja dan begitu sangat dihormati. Ajaran-ajarannya pun sangat membumi, sehingga banyak memberi maslahat bagi umat Islam di Mandar dan sekitarnya.

Ridwan Alimuddin (2009), dalam Biografi Singkat Annangguru Saleh menyebutkan bahwa sampai saat ini, ada dua ulama besar yang belum ada yang bisa menyamai kharisma dan pengaruh ajarannya.

“Parameternya amat gampang, ulama (Mandar) ini yang fotonya dipasang oleh banyak orang di dinding rumah mereka. Kalau bukan foto Imam Lapeo, ya foto Annangguru Saleh,” tulisnya.

Berbeda dengan KH Muhammad Thahir yang diberi penambahan istilah “Imam”, sehingga lebih dikenal sebagai Imam Lapeo. KH Muhammad Saleh, diberi penambahan istilah “Annangguru”. Ridwan Alimuddin (2009), menduga bahwa hal ini dikarenakan metode “pengajaran” KH Muhammad Saleh yang dilakukan dari rumah ke rumah, atau berpindah-pindah tempat, tidak berpusat di satu tempat saja.

Annangguru Saleh merupakan penganut tarekat Qadiriyah. Berbeda dengan Imam Lapeo yang menganut Tarekat Khalwatiyah. Annangguru Saleh juga lebih dikenal sebagai seorang sufi. Di mana beliau membawa, mengajarkan dan mengembangkan Tarekat Qadiriyah di tanah Mandar.

Penyebaran, pengembangan dan pelestarian Tarekat Qadiriyah, dilaksanakan langsung oleh Annangguru Saleh. Beliau juga dibantu oleh beberapa murid kepercayaannya, yakni KH Sahabuddin pendiri Universitas Al Asyariah Mandar (Unasman). Pemberian ajaran biasanya dilangsungkan di rumah muridnya di beberapa kampung. Annangguru kemudian di undang untuk datang ke tempat tersebut. Annangguru mengajar dengan berbekal sejumlah kitab, yang dibacakan, lalu dijelaskan makna-maknanya.

Apabila hendak mendatangi suatu kampung untuk mengajar, Annangguru Saleh ketika itu, menggunakan kendaraan tradisional, yakni dokar. Tetapi, apabila kampung tersebut sudah bisa dilalui kendaraan bermotor, Annangguru Saleh akan diboncengkan oleh salah satu muridnya. Seperti yang kerap dilakukan Salah satu murid beliau Annangguru, yakni H Murad, seorang wiraswasta yang tinggal tak jauh dari pasar ikan Tinambung.

Bagi para muridnya, Annangguru Saleh adalah sosok guru yang penuh kebersahajaan dan kesederhanaan. Menurut cerita H. Murad yang dituturkan oleh Ridwan Alimuddin (2009), pernah suatu ketika di mesjid Ujung, Polewali, Annangguru Saleh tidak berada di tenpat-tempat “VIP” (dekat mimbar) di dalam mesjid. Melainkan di bagian belakang, di dekat beduk. Bagi H Murad, hal itu sangat mengesankan, karena beliau tidak ingin menonjolkan dirinya.

Annangguru Saleh juga dan masih berlangsung hingga sekarang. “Massambayang Bukku” dilakukan setiap 27 Ramadhan, dengan prosesi salat-salat sunat yang dilakukan sampai puluhan rakaat, memperkenalkan satu tradisi ibadah, yaitu “Massambayang (di) Bukku”. Tradisi ini dimulai pada 1966.

Sang Annangguru yang bersahaja, berpulang ke Rahmatullah hari ahad, pada pukul 12.30 siang, 10 April 1977. Sebelum meninngal, beliau menderita sakit flu biasa dan krisis selama dua hari dua malam. Berpulangnya beliau adalah sebuah kehilangan besar. Meski demikian, beliau adalah panutan yang telah banyak membawa maslahat bagi orang Islam di tanah Mandar.

Cerita Karomah Sang Annangguru

Sebagai seorang ulama sekaligus sufi, cerita tentang karomah yang melekat dalam diri Annangguru Saleh cukup banyak beredar. Terlebih di kalangan keluarga dan murid-murid beliau. Ridwan Alimuddin (2009), banyak menuturkan perihal karomah sang ulama besar, dari KH Ilham Saleh dan beberapa informan lainnya.

Kala Annangguru Saleh bermukim di Mamuju karena alasan pekerjaan, beliau pernah mengisi khutbah di sebuah masjid di Tappalang. Saat itulah, beliau dikirimi ilmu hitam. Namun berkat karomah beliau, ilmu hitam yang berwujud cahaya bola api tidak mengenai dirinya. Beberapa waktu kemudian, malah si penyihir yang melakukan hal tersebut, meminta maaf kepada beliau.

Pernah juga beliau hendak diracun. Kejadian ini masih berlangsung di Tapalang. Racun itu disematkan pada hidangan nasi beliau, yang kemudian mengubah nasi tersebut menjadi ulat dan ular. Namun, hal itu juga tak mempan untuk mencelakai Annangguru Saleh.

Di masa “gurilla” atau pemberontakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII), sering terjadi penculikan, khususnya kepada ahli-ahli agama. Pada saat beliau hendak menuju Pambusuang dari Tomadio, beliau dan rombongan dikepung oleh kelompok Gurilla. Tetapi, beliau tenang-tenang saja dan memberitahu kepada seluruh rombongan untuk diam, saat melewati para pengepung tersebut. Alhasil, dokar beserta rombongan beliau menjadi tak terlihat dan lolos dari pengepungan.

Cerita yang lain juga dituturkan oleh H Murad. Dalam satu perjalanan ke Matakali untuk menghandiri acara buka puasa, ban mobil yang dipakai beliau dan rombongan pecah. Hampir lima jam lamanya, ban mobil tersebut diperbaiki. Setelah itu, masalah lain datang menghampiri. Saat menyeberangi sungai dengan perahu yang bisa mengangkut kendaraan roda empat, di depan rombongan ada mobil truk besar yang kerepotan naik ke darat.

Mobil truk itu membutuhkan waktu yang cukup lama untuk naik. Barulah saat senja hampir tiba, rombongan bisa berhasil menyeberang. Saat tiba di Matakali, rombongan kemudian merasa heran. Pasalnya, sesampai di sana, belum masuk waktu berbuka, padahal rombongan merasa rintangan yang dilalui agak lama, lebih dari satu jam. Dari cerita inilah, Annanggur Saleh dianggap bisa “melambatkan” waktu.

 

 

Tag :

mandar sulbar
  • 555 Dibaca