Dr, Arifuddin Ismail Penulis Buku Prahara yang Terselubung

Arifuddin Ismail, Mempertanyakan Kembali Perdamaian di Ambon


Seputarsulawesi.com,- Perdamaian yang kini terasa di Ambon, ternyata menampakkan kesemu-an belaka. Setidaknya, itu yang dirasakan oleh Arifuddin Ismail, kala dirinya bertemu dan berbincang langsung dengan masyarakat di Ambon. Dari situ, inspirasi untuk menggali lebih dalam tentang perdamaian “semu” di Ambon mulai menyeruak.

“Inspirasinya itu ketika ada undangan dari IAIN Ambon sebagai narasumber. Terus saya jalan-jalan ke masyarakat bertemu dengan mereka. Dari perbincangan itu muncul inspirasi, tentang kondisi di Ambon ketika terjadi dan pasca konflik. Pemulihan pasca konflik dilakukan oleh pemerintah dengan mengambil kebijakan untuk melakukan segregasi,” ungkap pria kelahiran Majene, Sulawesi Barat ini kepada seputarsulawesi.com, Rabu, 11 Oktober 2017.

Segregasi ini, menurut temuannya, memang berlangsung sejak periode Belanda, yang kemudian diadaptasi kembali oleh pemerintah. Katanya, demi jalan resolusi konflik.

“Sebenarnya, segregasi pemukiman antara muslim dan nasrani telah berlangsung lama sejak jaman belanda. Setelah kemerdekaan, dan masuk ke jaman orde baru, sudah mulai hilang dengan munculnya banyak pendatang dari Bugis, Jawa, dll. Sudah ada pembauran khususnya di kota. Tapi setelah konflik, pemerintah mengambil kembali kebijakan seperti itu,” katanya.

Namun, segregasi pemukiman berlatar agama yang dituliskan Arifuddin Ismail dalam buku berjudul Prahara yang Terselubung, menjadi faktor kenapa perdamaian di Ambon hanya tampak dipermukaan saja.

“Kondisi segregasi pemukiman yang berlatar agama, keliatannya memang tidak terbangun interaksi yang intens di antara umat beragama dalam kehidupan sosial. Yang terbangun itu interaksi formal di kantor-kantor dan ruang publik. Seperti pasar, sekolah dan tempat-tempat umum,” papar Kapala Balai Litbang Agama Semarang tahun 2009-2014 ini.

Akibatnya, perdamaian yang nampak “semu” ini, bak api dalam sekam, yang sewaktu-waktu bisa tersulut. Terlebih jika ada yang hendak kembali menunggangi isu sensitif ini.

“Ternyata apa yang menjadi kecurigaan saya itu memang benar adanya. Ada yang menarik dari sini, di satu sisi disuarakan keluar bahwa Ambon itu sudah damai. Namun, sesungguhnya kayak api dalam sekam dengan adanya segregasi. Masing-masing umat beragama kembali memperkuat kelompoknya masing-masing. Jadi ketika tidak tercipta interaksi yang positif, akan berakibat pada tergesernya suasana harmoni di tengah-tengah masyarakat dan bisa-bisa muncul kembali konflik,” imbuhnya.

Dengan segregasi ini pula, menurut Arifuddin Ismail, luka lama akan semakin terbalut sebagai trauma yang tak kunjung hilang.

“Nah yang kedua di masyarakat ini, akan melanggengkan trauma masa lampau akibat segregasi. Konflik belum bisa dihilangkan dari hatinya, termasuk suasana konflik itu. Bahkan satu kasus, tidak mau ikut berpartsispasi dalam hari-hari besar kegamaan. Luka yang pernah terjadi, tidak hilang. Kemudian yang ketiga, persoalan yang dulu, jadi dengan ada segregasi pemukiman, menghilangkan perhatian orang terhadap nilai budaya yang pernah diagung-agungkan di sana. Misal pelo gandong, dulu sangat efektif. Tapi sekarang justru hilang. Karena agama yang dimunculkan,” paparnya.

Peneliti Senior Balai Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Agama Makassar ini, menambahkan perlu ada solusi yang tepat dan cermat dari pemerintah provinsi Maluku. Bukan hanya segregasi yang sifatnya jangka pendek.

“Solusinya saya tulis juga dalam buku saya berjudul Prahara yang Terselebung (2017). Dulu segregasi pemukiman bisa dijadikan peregang konflik tapi sifatnya sementara. Tapi konteks kekinian segregasi boleh saja diterapkan tapi pemerintah mesti terlibat aktif. Pemerintah mesti serius menangani ini, sabaiknya dibentuk satu lembaga untuk mengatasi konflik itu khusus di Ambon. Lewat lembaga itu , pmerintah menciptakan satu kegaiatan, dimana umat beragama harus ikut semua di dalamnya,” tambahnya.

Buku Prahara yang Terselubung merupakan buku ke 12 yang pernah ia tuilis. Tulisan yang pernah ia publikasikan diantaranya : Pola Kerukunan Umat Baragama di Berbagai Daerah (1995), Religi Manusia Nelayan (2006), Perkawinan Adat Etnis Mandar (2007), Menakar Kultur Pesantren (2008), Potensi Organisasi Sosial Keagamaan (2009), Dakwah di Daerah Terpencil (2010), Sejarah Islam Mandar (2010), Agama Nelayan (2012), Harmoni Umat Beragama (2013), Pemikiran dan Gerakan Keagamaan Mahasiswa (2015), Tradisionalitas : Menyoal Pesantren Assalafy (2016).

  • 298 Dibaca