Baharuddin Lopa, Sosok Malaqbiq di Zaman Moderen

Baharuddin Lopa juga banyak menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan orang-orang besar yang terbilang kebal hukum. Seorang pengusaha besar, Tony Gozal berhasil diseret Lopa ke pengadilan dengan tuduhan manipulasi dana reboisasi sebesar 2 miliar. Arifin Panigoro hingga Nurdin Halid pun, masuk dalam daftar nama yang diselidiki Lopa, dalam berbagai kasus korupsi.


Seputarsulawesi.com - Tak ada yang akan menyangkal ketokohan seorang Baharuddin Lopa. Baik itu di level nasional, terlebih di tanah kelahirannya sendiri, Mandar. Baharuddin Lopa dikenal sebagai seorang jaksa yang sangat jujur, tegas, dan tidak pandang bulu dalam soal penegakan hukum. Kala menjabat sebagai jaksa agung, Lopa membuat khawatir banyak tokoh yang sedang tersandung kasus korupsi.

Idham dan Saprillah dalam Malaqbiq; Identitas Orang Mandar (2011), menyebut Baharuddin Lopa sebagai contoh tokoh Malaqbiq di zaman modern, berkat karakter positif yang melekat pada dirinya tersebut. To Malaqbiq sendiri adalah konsep manusia yang memiliki kelebihan yang tercermin dalam perilaku sehari-harinya. Kelebihan yang dimaksud adalah sesuatu yang sifatnya positif.

Suatu ketika, Baharuddin Lopa diberi pertanyaan, “Mengapa Anda begitu berani, tegas dan jujur?”. Sederhana saja jawabannya, “Karena saya orang Mandar”. Dari jawaban tersebut, terlihat kebanggaan Baharuddin Lopa akan ke-Mandar-annya. Pun bagi Lopa, menjadi Mandar adalah dengan berperilaku berani, tegas, dan jujur.

Bagi masyarakat Mandar, Baharuddin Lopa adalah sosok yang sangat membanggakan, karena telah membawa karakter Mandar dalam dirinya. Pria yang lahir di Pambusuang pada tahun 1935 ini, begitu disegani oleh semua kalangan di Mandar. Bahkan, ketika terjadi friksi antara pejuang pembentukan Provinsi Sulawesi barat, proses penyelesaian konflik ini dapat terwujud berkat ketokohan Baharuddin Lopa.

Sebelum menjadi jaksa agung, beragam jabatan pernah diduduki oleh Baharuddin Lopa. Bahkan, di usia yang baru 26 tahun, ia sudah diangkat sebagai Bupati Majene. Kemudian, ia beberapa kali menjabat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi di Sulawesi Tenggara, Aceh, dan Kalimantan Barat. Pada 1982, Baharuddin Lopa diangkat sebagai Kepala Kejaksaan Tinggi Sulawesi Selatan.

Karirnya di level nasional dimulai ketika dirinya menjabat sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Latihan (Pusdiklat) Kejaksaan Agung RI pada tahun 1985. Selepas itu, ia diangkat sebagai Menteri Hukum dan HAM. Menjelang akhir periode Presiden KH. Abdurrahman Wahid pada 2002, Baharuddin Lopa menggantikan Chandra Darusman sebagai Jaksa Agung.

Di setiap jabatan yang ia tempati, Baharuddin Lopa memegang teguh nilai ke-Mandar-annya. Sikap hidupnya sebagai abdi negara, berbeda dengan pejabat-pejabat pada umumnnya. Kejujuran dalam menjalankan amanah dan kesederhanaan, selalu ia junjung dalam mengarungi hidup. Baharuddin Lopa adalah sosok yang tak pandang bulu, jika sudah terkait dengan kejujuran.

Hal itu pernah dirasakan oleh Akbar Tanjung, tokoh partai Golkar. Hanya dalam seminggu kepemimpinannya sebagai Jaksa Agung, Baharuddin Lopa dengan berani menetapkan Akbar Tanjung dan beberapa orang lainnya sebagai tersangka kasus korupsi. Padahal, jaksa agung sebelumnya, tidak pernah seberani itu untuk melakukan langkah yang ditempuh Baharuddin Lopa.

Baharuddin Lopa juga banyak menyelidiki kasus-kasus yang melibatkan orang-orang besar yang terbilang kebal hukum. Seorang pengusaha besar, Tony Gozal namanya, berhasil diseret Lopa ke pengadilan dengan tuduhan manipulasi dana reboisasi sebesar Rp 2 miliar. Arifin Panigoro hingga Nurdin Halid pun, masuk dalam daftar nama yang diselidiki Lopa, dalam berbagai kasus korupsi.

Namun, lengsernya Gus Dur pada 2003, membuat jabatan Jaksa Agung harus ia tanggalkan. Kasus-kasus besar tersebut, kemudian seakan tertutup kembali pasca berakhirnya masa jabatan Baharuddin Lopa. Dan tak berselang lama, Baharuddin Lopa wafat secara misterus dalam perjalanan spiritual di Mekah.

Ada hal menarik seputar kewafatan beliau, seperti diungkapkan Hamim Jazuli dalam tulisannya mengenai Baharuddin Lopa. Pada waktu malam kewafatan Baharuddin Lopa, cuaca di Riyadh dan sebagian wilayah Indonesia khususnya hampir seluruh pulau Jawa secara bersamaan di landa hujan deras dengan disertai angin dan guntur. Seolah langit meraung dan menangis atas kewafatan Baharuddin Lopa.

Sementara itu di Istana Negara, beberapa saat sebelum Baharuddin Lopa wafat, Gus Dur terhenyak. Sesaat kemudian, Gus Dur masuk kamar dan mengurung diri selama beberapa saat. Setelah keluar kamar, Gus Dur bersimbah air mata. "Malam ini, salah satu tiang langit bumi Indonesia telah runtuh," kata Gus Dur.

Tidak ada yang paham ucapan Gus Dur, bahkan Yenni Wahid yang selalu mendampingi ayahnya saja tidak paham. Baru sekitar pukul 11 malam, akhirnya semua paham bahwa yang dimaksud Gus Dur "tiang langit" itu adalah Baharuddin Lopa. Ini menunjukkan kejernihan hati Gus Dur bisa menangkap sebuah kejadiaan luar biasa yang belum terjadi. Kabar kewafatan Baharuddin Lopa 3 jam lebih awal diterima Gus Dur daripada berita duka yang dikirimkan dari Riyadh Arab Saudi.

Balutan Kesederhaan dalam Hidup Baharuddin Lopa

Sebagai seroang pejabat, Baharuddin Lopa hidup di tengah kesederhanaan. Hal itu ditunjukkannya dalam hal-hal yang bersifat materi. Rumah Lopa yang terletak di di kawasan Pondok Bambu, Jakarta Timur, begitu tampak sederhana. Selain itu juga, untuk bepergian ia hanya menggunakan mobil Toyota Kijang. Untuk ukuran seorang pejabat sekelas menteri, tentu hal itu sungguh diluar anggapan umum.

Lopa juga sangat tegas kepada keluarganya agar tidak menggunakan fasilitas-fasilitas negara untuk urusan pribadi. Lopa lantas dikenal sebagai sosok yang tegas memisahkan urusan dinas dan pribadi. Bahkan, telepon dinas dirumahnya selalu terkunci, agar anggota keluarganya tidak menggunakan telepon tersebut untuk kepentingan pribadi. Lopa kemudian memasang telpon koin di rumah jabatannya, khusus untuk kepentingan pribadi.

Pernah juga, Lopa pernah melarang istrinya menggunakan mobil dinas untuk pergi ke pasar dan melarang salah seorang pegawai Pusdiklat menggunakan sepeda motor inventaris Pusdiklat, meski kendaraan itu dimaksudkan untuk menolong temannya."Ini motor dinas bukan untuk urusan pribadi," kata Lopa seperti dikutip Hamim Jazuli dari merdeka.com.

Beberapa kisah kesederhanaan Lopa terhampar sepanjang hidupnya. Suatu ketika, Lopa membelikan mainan anak-anak yang akan diberikan kepada cucunya, yang hanya seharga Rp. 7.500 di sebuah mal. Peristiwa ini sontak membuat heran seorang kasir dan berpikir hanya sosok menteri Lopa yang membelikan mainan sebagai hadiah dengan harga semurah itu.

Bukan soal murah atau mahalnya mainan yang dibelikannya itu, tetapi perhatian dan ketulusan lah yang paling penting di saat-saat kesibukan dan kelelahannya, beliau justru menyempatkan diri memberikan sisa-sisa tenaganya demi cucunya tersebut.

Bagi Hamim Jazuli, kisah Baharuddin Lopa kemudian menjadi teladan di panggung para pejabat nasional sebagai sosok yang sederhana, jujur, serta memiliki nyali bak harimau. Beliau tegas, dalam hal apapun, termasuk menentukan salah-benar suatu perkara hukum, serta tidak pandang bulu. Inilah kisah teladan seorang pejabat negara yang patut dicontoh serta dijadikan inspirasi bagi setiap orang, termasuk para pejabat negeri ini.

Hingga sekarang, masyarakat Mandar begitu merindukan sosok Baharuddin Lopa dan berharap akan lahirnya kembali tokoh sekaliber beliau. Terlebih saat ini, Mandar sedang diselimuti awan gelap kasus korupsi yang melibatkan sejumlah pimpinan DPRD Provinsi Sulbar. Awan gelap korupsi itu, tentu mencederai identitas Malaqbiq yang dipegang teguh Baharuddin Lopa dan masyarakat Mandar pada umumnya.

Kendati kapal akan karam, tegakkan hukum dan keadilan!

"Baharuddin Lopa (1935-2001), mantan Jaksa Agung RI"

  • 497 Dibaca