Jonny Deep pemeran Jack Sparrow dalam film Pirates of the Carribean (int)

Bajak laut Dalam Industri Budaya Populer


Seputarsulawesi.com - Era bajak laut, yang disebut sebagai ‘masa keemasan’ telah berlalu beberapa abad silam. Masa keemasan tersebut terjadi pada sekitar tahun 1690 sampai tahun 1722. Kapal-kapal swasta boleh melakukan pembajakan di perairan Karibia dan Atlantik, selama mereka memiliki surat izin dari pemerintahan tertentu dan memberikan sebagian hasil perompakan ke pemerintah.

Bersama-sama dengan angkatan laut resmi, aksi para perompak dapat diterima. Mereka berasal dari kapal-kapal Inggris, Belanda, dan Prancis yang memangsa kapal saingan dari Spanyol. Pemerintah kerajaan bergantung pada orang-orang seperti ini, yang berada di luar kekuasaan. Penolakan terhadap hukum, dianggap sangat berguna bagi pemerintah tertentu.

Namun, setelah ditandatanginya Treaty of Utrecht (fakta perdamaian) di tahun 1713, antara Spanyol dan beberapa negara lainnya, timbul rentetan permasalahan. Puluhan kapten perompak kehilangan pekerjaan. Akibatnya, banyak dari mereka yang kemudian beralih menjadi penyamun di laut lepas. Bahkan, Kapten Edward Teach yang sangat terkenal sebagai Blackbeard, kemudian berseberangan dengan hukum yang sudah ditetapkan tersebut.

Ada juga nama Captain Kidd yang keluar masuk Angkatan Laut Inggris, hingga berakhir sebagai seorang preman laut ilegal. Dia dikejar-kejar di Samudra Atlantik karena kejahatan perompakan yang dilakukannya. Pada akhirnya, dia dihukum oleh pihak Inggris pada tahun 1701.

Para perompak banyak terlibat dalam perdagangan budak yang sangat masif terjadi di perairan Karibia dan Afrika. Bahkan membuat para penegak hukum di laut, tampak tak berdaya. Namun, seiring waktu, akhir masa keemasan itu terjadi. Awak perompak terakhir diburu oleh angkatan laut resmi dan dihukum pada tahun 1720-an.

Berselang satu abad kemudian, aksi perompakan muncul lagi akibat perang. Ketika Perang Napoleon akan berakhir, muncul perompak, terutama di lepas pantai Amerika Latin, di mana perompak seperti Benito de Soto yang sangat melegenda. Meski pada akhirnya, dia diadili dan dihukum pada tahun 1830.

Bahkan, hingga beberapa tahun terakhir, aksi-aksi perompakan kembali marak terjadi di lepas pantai Somalia. Hal ini terjadi akibat absennya pemerintah pusat yang kuat. Kekosongan kekuasaan ini dipakai oleh para pemimpin perang setempat. Perompakan menurun sejak dunia internasional menegaskan kembali kebijakan jalur laut. Patroli-patroli yang melibatkan antar negara, sering dilakukan secara bersama.

Hadirnya Perompak Dalam Budaya Populer

Seiring bertumbuhnya dunia percetakan pada abad XVIII, legenda para perompak mulai banyak dinarasikan. Begitu masa keemasan berakhir, Captain Charles Johnson (nama palsu) menerbitkan riwayat hidup tokoh-tokoh perompak terkenal. Salah satu karyanya berjudul A General History the Robberies and Murders of the Most Notorious Pyrates, yang diterbitkan pada tahun 1724. Buku ini berisi narasi berdarah yang ditulis dengan bersemangat dan mencatat legenda Black Beard, Black Bart dan sejumlah tokoh lainnya.

Selain itu, pamflet-pamflet yang merinci kejahatan serius dan hukuman setimpal dari penjahat legendaries tersebut, mulai laku dibaca sejak dicetak dan perompak menjadi subjek yang popular pada permulaan abad XVIII. Salah satu yang terkenal adalah sejumlah pamflet tentang perompak yang ditulis oleh Daniel Defoe. Pamflet ini bersamaan dengan penyelesaian cerita terkenal tentang kapal terdampar, Robinson Crusoe (1719).

Mungkin karya Jhonson bisa dianggap sebagai bintang, sekaligus menjadi rujukan semua karya budaya tentang perompak selanjutnya. Buku Jhonson edisi kedua, yang lebih berwarna diterbitkan pada tahun 1728. Dalam buku tersebut, Jhonson menampilkan sosok Blackbeard, yang membuat tokoh legenda ini semakin terkenal.

Kalimat dalam buku yang mungkin paling menginspirasi seperti ini, “Dia memakai nama lain, Blackbeard, karena banyaknya rambut, mirip meteor, yang menutupi seluruh wajah dan membuat Amerika lebih takut kepadanya dibandingkan terhadap komet. Jenggotnya hitam dan panjang, serta tumbuh sampai ke mata. Biasanya dia mengikatnya dengan pita atau dibuat buntut.” Jhonson menggambarkan sosok Blackbeard sebagai “orang kasar yang pemberani”.

Karya Jhonson yang berjudul General History ini kemudian menginspirasi Long John Silver di buku Treasure Island karya Robert Louis Stevenson (1883) dan Captain Hook pada drama JM Barrie, Peter Pan (1904). Karya-karya ini memang menggambarkan sosok yang menakutkan tetapi di sisi yang lain, justru menghibur di fiksi anak-anak. Sekarang, tokoh Peterpan, lebih gandrung sebagai tokoh fiksi kesukaan bocah-bocah.

Penerbitan massal puisi epik Lord Byron, berjudul The Corsair pada 1814, adalah yang paling mencuri perhatian. Sang penulis adalah seorang yang penuh skandal dalam hidupnya. Meski begitu, karya ini dapat terjual sebanyak 10.000 buah pada penerbitan pertama. Bahkan, Bryon yang memadu citranya dengan perompak dan sejak saat itu membentuk persepsi tentang dirinya, kemudian ditiru bintang rock tahun 70-an.

Pada akhir abad XIX, gaya romantika sedang jadi trend di kalangan penulis. Robert Louis Stevenson, menghidupkan gaya itu dalam karya Treasure Island, dan cukup menghibur anak-anak dan para remaja. Stevenson memenuhi karakter bajak laut dengan kaki palsu, peta harta karun dan burung beo. Karyanya kemudian laku keras. Berkat karya-karya ini, perompakan di zaman keemasan tidak bisa lagi dipisahkan dalam kebudayaan popular Eropa dan Amerika Serikat.

Hal ini juga diperkuat oleh kehadiran Hollywood. Novelis Rafael Sabatini memperkenalkan Captain Blood pada tahun 1922. Novel ini pun diadaptasi dalam sebuah film bisu pada permulaan tahun 1920-an, yang diperankan oleh Douglas Fairbanks dan pada tahun 1930-an oleh Errol Flynn yang pada saat itu, suara aktor sudah diperdengarkan.

Tapi yang paling terkenal saat ini adalah Pirates of the Carribean yang diproduseri oleh Jerry Bruckheimer. Seri pertama film ini berjudul Pirates of the Carribean: The Curse of the Black Pearl, pada tahun 2003. Film-film The Pirates of The Carribean yang menceritakan masa keemasan tersebut, telah menghasilkan lebih US$4 Miliar atau Rp53 triliun dari pemutaran di dunia. Film kelima dan yang terbaru Dead Men Tell No Tales yang pada bulan Juli lalu ditayangkan di bioskop, mendapat cukup banyak perhatian dari khalayak.

Dalam industri manga Jepang, kisah bajak laut One Piece karya Eiichiro Oda, juga sangat terkenal dan mendunia. Manga ini mulai menghiasi majalah khusus manga, Weekly Shonen Jump, pada 22 Juli 1997. Melansir duniaku.net, pada awal 2017 lalu, manga One Piece memecahkan rekor yang bisa dibilang cukup membanggakan. Percetakan manga One Piece karya Eiichiro Oda menyentuh 350 juta kopi di seluruh dunia dan sekaligus menjadikan One Piece sebagai manga yang paling banyak terjual di seluruh dunia sampai saat ini versi Guinnes Book of Records.

Daya Tarik Bajak Laut

Kekaguman terhadap bajak laut yang didorong oleh ditampilkannya mereka dalam industri budaya popular, menimbulkan pertanyaan tersendiri. Mengapa kita takut terhadap perompakan modern di jalur perkapalan lepas pantai Afrika Timur, tetapi menikmati kekerasan dan pencurian perompak seperti Blackbeard, ‘Calico’ Jack Rackham dan ‘Black Bart’ Roberts di tahun 1720-an?

Jawaban dari pertanyaan itu, bisa dijumpai dari karya-karya mengenai bajak laut dalam kebudayaan popular, yang begitu meromantisir tokoh pelanggar hukum. Hal lain yang menarik adalah munculnya negara birokratis modern, di mana tingkah laku sangat diatur, sehingga kebebasan para perompak menjadi sangat menarik. Pandangan ini sama, jika dikaitkan dengan penjahat Barat, gangster zaman pelarangan alkohol dan ksatria abad pertengahan.

“Pirates of the Carribean telah menjadi sumber kekaguman selama lebih 300 tahun, selain itu, juga memperlihatkan kecemasan terhadap masyarakat modern,” tulis Roger Luckhurts, sebagaimana dilansir dari BBC.

Seperti yang ahli sosiologi Mark Weber katakan tentang “iron racket” atau penjara besi akal. Artinya, bahwa di zaman di mana para pemilih menolak para politikus dan birokrat, dan mendukung para pelanggar hukum yang bertingkah laku sembarangan. Para perompak akan terus hidup.

Kehidupan bajak laut yang serba bebas dan setara, juga memberikan daya tarik bagi para penggemar. Anders Hanson dalam buku Biggest, Baddest Book of Pirates (2013), menuturkan beberapa aturan bajak laut. Salah satunya adalah “Setiap orang memilih dan mendapatkan makanan dan minuman yang sama,” tulisnya.

Aturan perompak, yang sebagian berlaku saat ini, mirip pernyataan masyarakat anarki, lewat pengambilan keputusan kolektif, tidak adanya hierarki, pemimpin terpilih dan pembagian merata pekerjaan dan keuntungan. Dan tentu saja, alkohol.

Tokoh fiksi perompak sejak Jhonson dan Byron memberikan citra kebebasan radikal yang menolak administrasi modern yang membosankan. Pelarian dan kejahatan dalam kisah Jack Saprrow, merupakan fantasi yang ada dalam diri para penggemar.

 

 

 

Tag :

  • 243 Dibaca