sumber gambar : blog punakawan suroboyo

Bayangan Misterius di Puncak Bawakaraeng

Serial Burik Cilampakna Kindang

Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng Episode X


By : IjhalThamaona

Baca cerita sebelumnya : Satria dari Lereng Gunung Bawakaraeng (9)

Senja di puncak gunung Bawakaraeng mulai ditelan malam. Langit berwarna kemerahan. Matahari semakin tersuruk di balik lazuardi. Perlahan-lahan gelap menyelimuti mayapada. Lalu gelita betul-betul runtuh di puncak gunung itu. Suasana gelap di puncak gunung itu, sepertinya tidak tertolong dengan bulan purnama yang mulai menggantung di langit. Saat itu bulan sedang purnama penuh. Cahayanya sekali-kali menyeruak di balik dedaunan rimbun pepohonan yang ada di tempat itu, seperti berusaha mengusir kegelapan yang mengelumuni tempat itu. Walau demikian, cahaya rembulan tidak bisa mengurai kegelapan di tempat tersebut. Bahkan terasa sekali suasana angker menyelimuti puncak gunung Bawakaraeng yang letaknya berada di sebelah selatan itu.

Gelap yang menghembuskan hawa angker, semakin lama terasa semakin pekat. Suasana senyap. Suara binatang malam yang lazimnya terdengar di tengah hutan atau di tempat-tempat lain di Gunung Bawakaraeng, justru tidak terdengar di tempat ini. Sesekali memang terdengar lolongan anjing liar dan auman harimau, tapi terdengar dari tepat yang jauh. Angin di tempat itu bahkan seperti tidak bertiup, tidak terdengar gemeresik dedaunan yang kena hembusannya.

Dalam gelapnya suasana, tempat itu sebenarnya tidak betul-betul senyap. Sesekali suara-suara mengemu terdengar bersahut-sahutan. Namun tak ada sosok sama sekali yang terlihat. Suara itu seakan-akan dimuntahkan dari kegelapan. Dengan suara-suara seperti itu dan dalam suasana yang mulai disungkupi kegelapan, tempat itu betul-betul terasa semakin angker.

Tempat ini berada di puncak selatan Bawakaraeng. Berpuluh-puluh tahun tempat ini tak pernah dijamah manusia. Jangankan di malam hari seperti sekarang ini, di siang hari bolong pun tak ada seseorang yang berani menyambangi tempat ini. Tempat ini terkenal sebagai tempatnya para jin dan makhluk halus. Tempat ini adalah tempat yang dianggap menyeramkan oleh para penghuni yang berdiam di sekitar lereng gunung Bawakaraeng. Orang-orang menamainya tanah para lelembut.

Namun siapa sangka, di atas sebuah altar yang terbuat dari batu, sesosok tubuh duduk bergeming. Wajahnya berada dalam bayangan kegelapan. Sosok tubuhnya yang duduk memancang, tak bergerak sama sekali. Sesekali sosok itu tertimpa cahaya rembulan. Namun masih sulit dikenali makhluk apa adanya sosok ini.

Siapakah gerangan dalam kegelapan yang mulai melingkupi mayapada berada di tempat yang angker ini ? Jika sosok ini bukan sejenis jin atau makhluk halus, maka bisa dipastikan Ia bukanlah manusia sembarangan.

Waktu terus berjalan, malam bergerak semakin dalam. Tempat ini masih dibungkus kesunyian, sesekali terdengar gumaman dari kegelapan. Ketika bulan di langit semakin merangkak menuju titik tertingginya, sosok tubuh di atas altar tersebut bergerak. Perlahan Ia berdiri dari tempat duduknya. Kepalanya mendongak ke atas melihat ke arah bulan purnama yang merangkak semakin tinggi. Bersamaan dengan
bergeraknya sosok ini dari altar batu itu, suara-suara gumaman dari kegelapan semakin riuh. Kepala sosok ini yang tadinya mendongak, terlihat berpaling ke arah kegelapan, lalu terdengar suaranya.

“Diam kalian, jangan ribut !” Orang itu berucap biasa saja, tapi gelombang suaranya mengalun dengan tajam menerpa kegelapan yang angker itu. Daun-daun pepohonan yang seperti bayangan gelap di atas sana, yang sedari tadi membeku, terlihat bergoyang-goyang. Suara sosok ini jelas dilambari dengan tenaga dalam yang kuat. Tapi meski dilambari tenaga dalam, samar-samar suara itu masih bisa dikenali
sebagai suara seorang perempuan. Suara-suara dari balik kegelapan tiba-tiba terhenti. Kesunyian yang mencekam kembali mengelumuni suasana.

Sosok ini kembali mendongak ke langit. Pandangan matanya untuk sesaat terhalang oleh rimbunnya pepohonan. Sosok ini lantas bergeser, mencari tempat yang memungkinkan Ia bisa memandang rembulan yang berada pada purnama yang sempurna itu.

Ketika sinar rembulan menerpa wajahnya, terlihatlah dengan jelas paras sosok ini. Wajahnya adalah raut muka seorang yang sudah berusia cukup lanjut. Keriput tampak menghiasi wajahnya yang cekung. Letak kelopak matanya menjorok ke dalam. Saking dalamnya rongga matanya, sepintas orang ini seakan-akan tidak memiliki mata. Yang ada hanya dua rongga yang menyeramkan. Di dalam rongga itulah, jika
diperhatikan dengan seksama , sepasang mata terlihat bersinar angker. Tak ada yang sanggup berlama-lama menantang matanya yang selalu terlihat menyorot dengan tajam itu.

Jika diperhatikan paras muka makhluk ini, Ia tak lain adalah seorang manusia jua adanya. Raut wajahnya menunjukkan Ia seorang perempuan. Namun yang aneh adalah di atas matanya yang mencorong tajam itu, tumbuh alis yang sangat tebal, tidak seperti lazimnya perempuan yang biasa beralis halus. Sementara itu, ketidak- laziman lainnya, adalah rambutnya yang dipotong pendek seperti laki-laki. Padahal saat itu, seorang perempuan, baik yang tua apalagi yang muda biasanya membiarkan rambutnya panjang menjela sampai ke punggung. Rambut perempuan ini hanya sampai di tengkuknya.

Sementara di atas kepalanya sendiri melingkar passapu putara padompe. Ini adalah ikat kepala para hulubalang dan satria-satria dari Makassar. Ikatannya, simpul biasa saja. Sementara ujung passapu tidak berdiri tegak ke atas tapi lemas menjulai ke pipi kiri atau pun
kanan. Perempuan ini sendiri membiarkan ujung passapunya menjulai ke kanan. Pakaian yang dikenakan perempuan ini berwarna hitam, demikian pula celananya.

Sementara sarung putih melingkar di pinggangnya, terentang ke bawah sampai di atas lutut. Di luar sarung itu melingkar ikat pinggang besar yang lazim disebut dengan sulepe. Dua tongkat sepanjang lengan orang dewasa terselip di kiri kanan di balik sulepe itu. Melihat dari penampilan perempuan ini, ia lebih terlihat seperti sosok laki-laki di banding dengan perempuan. Namun jelas parasnya menunjukkan Ia adalah seorang perempuan tua.

“Hemm...”. Orang ini bergumam pelan. Sekali lagi Ia menatap purnama yang kini persis berada di titik puncaknya.

“Purnama yang sempurna begini biasanya menjadi kesenangan makhluk jahanam dari puncak Lompobattang itu turun mencari mangsa”. Kata orang ini, perlahan, seakan bicara pada dirinya.

“Tapi apa peduliku, selama ia tidak mengganggu kediamanku di sini saya juga tidak akan mengusiknya”. Sekali lagi ia berkata perlahan.

“Nenek Kamannyang....kau di mana jangan tidur melulu”. Orang tua ini, tiba-tiba berteriak. Suaranya menggelegar dalam kesunyian malam itu. Daun-daunan terlihat kembali bergoyang-goyang. Tanah terasa sedikit bergetar. Suara-suara bergumam dari dalam gelap namun yang sama sekali tak kelihatan wujudnya kembali terdengar, tapi hanya sebentar kemudian senyap lagi.

“Aih...kenapa berteriak-teriak segala Nenek Cenning, mengagetkan aku saja dan teman-teman kita yang sedang istirahat”. Terdengar satu suara manja menimpali dari kegelapan. Meski suara itu seakan-akan dibuat manja, mirip suara perempuan yang  tengah merajuk, tapi nadanya juga mengalun dan menggetarkan udara di sekitarnya. Orang yang berbicara dari balik tabir kegelapan itu melambari suaranya dengan kekuatan tenaga dalam pula.

“Sudah kau juga istirahat saja, malam sudah semakin larut, atau kau mau saya temani tidur…hik…hik….hik…”. Kembali terdengar suara dari kegelapan, kali ini diiringi dengan tawa mengikik yang seakan-akan menusuk-nusuk pendengaran. Begitu suara tawa itu lenyap, sekali lagi dari balik kegelapan, suara bergumam muncul bersahut- sahutan. Namun jangankan sosoknya, bayangannya pun tidak kelihatan meski sesekali cahaya bulan purnama menerpa beberapa tempat di area itu.

“Sebenarnya malam purnama seperti ini sangat bagus untuk berjalan-jalan turun ke bawah, tapi ah….ucapan si Kamannyang itu ada benarnya, lebih baik aku tidur saja”. Gumam perempuan tua yang dipanggil Canning tadi perlahan.

Segera ia melangkahkan kakinya menunju ke arah pohon yang sangat besar. Namun baru dua tindak Ia melangkah, dari arah samping tiba-tiba berhembus angin, perlahan saja, namun dinginnya terasa menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum.

Bersamaan dengan itu dari atas, dari sela-sela dedaunan, kabut tebal perlahan-lahan melayang turun. Anehnya kabut itu hanya tepat di atas nenek yang dipanggil Canning tadi. Sementara di tempat yang lain tidak terlihat kabut sama sekali. Kabut itu turun seakan-akan mengikuti cahaya purnama yang menerobos di sela dedaunan. Nenek Canning menghentikan langkahnya. Ia berdiri tegak memperhatikan sekelilingnya.

“Ada makhluk berilmu sangat tinggi datang ke tempat ini. Saya belum bisa merabanya, dia manusia atau sejenis makhluk halus”. Ucap Nenek Canning nyaris seperti berbisik.

Sementara itu kabut tebal yang hanya segugus itu bergerak turun semakin rendah. Suasana makin sunyi, bahkan gumaman yang kadang-kadang terdengar dari balik kegelapan juga tiba-tiba lesap sama sekali.

“Sial si Kamannyang itu, seharusnya dia tidak tidur saja, bagaimana kalau yang datang ini bermaksud buruk ?” Sekali lagi Nenek Canning bergumam. Meski suaranya hanya berbisik saja, tetapi Ia sendiri kaget karena bisa mendengar dengan jelas gumamannya dalam situasi yang sangat senyap itu.

“Hai orang yang terlahir bernama Canning, dan memiliki gelar hebat Calalai Maut dari Bawakaraeng, lihatlah kemari”.

Tiba-tiba terdengar suara dari balik kabut yang sedang mengapung beberapa tombak di atas tanah. Suara itu perlahan, dan sareh, tapi Nenek Canning yang mendengarnya merasakan dadanya berdentam-dentam. Nenek Canning perlahan mendongakkan kepalanya. Ia memandang ke arah kabut yang menggantung di atasnya. Nenek Canning berusaha mempertajam pandangan matanya. Ia menghimpun tenaga saktinya lalu menyalurkan pada kedua matanya. Inilah ilmu yang bisa digunakan melihat sesuatu dalam kegelapan atau melihat dalam jarak jauh. Ilmu ini bernama Melihat Dalam Delapan Tabir Kegelapan, lazim pula disebut dengan Accini Sagantuju Kasassangngang. Mata Nenek Canning yang cekung itu menyorot tajam, seakan-akan berusaha menembus kabut yang menggantung beberapa tombak di atas tanah itu.

Perlahan-lahan Ia memang bisa menembus kabut yang tebal itu, namun di balik kabut itu Ia tak melihat apa-apa kecuali bayangan yang memancarkan cahaya warna putih. Nenek Canning sama sekali tidak bisa dengan jelas melihat wujud bayangan di balik kabut yang memancarkan cahaya putih itu.

Nenek Canning berusaha meningkatkan tenaga murninya ke arah matanya. Namun sampai matanya terasa sakit, sosok dibalik kabut itu tidak juga bisa dilihatnya kecuali dalam bentuk bayang-bayang yang memancarkan cahaya.

“He...he...he..., terdengar suara tawa, perlahan saja dari balik kabut itu. Namun pengaruhnya bagi Nenek Canning luar biasa. Telinganya terasa berdenging dan jantungnya berdetak semakin cepat.

“Apakah begitu asingnya aku bagimu, sehingga engkau sulit mengenaliku Calalai Maut dari Bawakarang?”. Terdengar kembali suara dari balik kabut itu. Perkataannya bernada tanya dan ia memanggil nenek Canning dengan gelarnya.

“Hei...kau siapa sebenarnya, dan kenapa bertanya pula?”. Bertanya Nenek Canning dengan nada membentak. Nenek yang digelari oleh sosok dibalik kabut itu sebagai Calalai Maut dari Bawakaraeng terlihat mulai gusar. Mungkin karena Ia tida berhasil mengenali sosok di balik kabut itu atau nenek Canning merasa sedang dilecehkan oleh sosok tersebut, maka amarahnya naik di kepala. Apalagi nenek Canning memang pemberang dan mudah naik darah.

“He..he..., kau memang telah melupakan semuanya, tapi sudahlah tak perlu kita memperpanjang hal itu, sekarang dengarkan perkataanku !”.

Sosok di balik kabut itu menghentikan perkataannya, seakan-akan menunggu reaksi dari Nenek Canning si Calalai Maut dari Bawakaraeng ini. Namun si Calalai Maut ini juga tidak menanggapi. Ia hanya tegak dan diam di tempatnya.

“Kali ini kau harus turun gunung, berjalanlah ke arah timur. Kau harus mencegah tindakan yang akan dilakukan oleh Siluman Puncak Lompobattang dengan para binatang piaraannya terhadap seseorang”. Bayangan di balik kabut itu melanjutkan perkataannya.

“Hik..hik..., peduli apa aku dengan segala urusan si keparat Siluman Puncak Utara itu, selama ia tidak mengusikku, saya juga tidak akan mengganggunya. Nenek Canning tertawa mengikik, suaranya membahana dalam kesunyian tempat itu. Biasanya jika Ia tertawa, dari balik kegelapan akan muncul suara-suara gumaman, namun kali ini tak ada suara sedikit pun. Nenek Canning tidak memedulikan hal itu, Ia malah melanjutkan perkataannya.

“Lagi pula siapa kau, berani-berani memerintah saya? ”

“Kali ini kau harus dengar perkataan orang Canning. Aku tahu selama ini tidak ada orang yang berani menyuruh-nyuruh engkau. Siapa yang tidak kenal Calalai Maut dan pasangannya Calabai Maut dari Bawakaraeng, yang orang-orang dunia persilatan mengenal sebagai Sepasang El-Maut Aneh Bawakaraeng. Mendengar julukan itu saja orang-orang sudah gemetar ketakutan ?”. Kembali orang ini menjeda ucapannya.

“Tapi kali ini adalah takdirmu. Mungkin ini adalah jalan untuk memperbaiki tindak-tandukmu yang selama ini bisa dibilang tidak betul-betul berada pada jalan yang lurus”. Kata bayangan dalam kabut itu selanjutnya.

“Aku tidak tahu siapa kau, engkau pun tidak memperkenalkan dirimu, peduli apa aku dengan segala yang kau katakan. Sekarang sebaiknya segera kau tinggalkan tempat ini, sebelum amarah betul-betul merasuki benakku”. Kata Nenek Cenning, Satu kakinya di tarik mundur, dua tangannya disilangkan di depan dadanya. Nenek ini rupanya tidak main-main dengan ucapannya.

Melihat sikap nenek Canning, bayangan dalam kabut itu hanya tertawa mengekeh. Suaranya terdengar memantul-mantul di tengah hutan yang sunyi senyap itu. Merasa dipermainkan Nenek Canning berteriak geram. Sambil memanggil orang yang disebutnya tadi Kamannyang, Ia menghantamkan tangannya ke arah bayangan dalam kabut tersebut. Satu sinar putih berkilau menerjang ke arah kabut tersebut.Suara bergemuruh bagai deru ombak besar yang menghempas ke pantai terdengar mengiriskan. Tanah berhamburan ke angkasa membuat suasana semakin gelap. Beberapa dedaunan yang dekat dengan terjangan sinar putih berkilau ini layu dan luruh ke tanah.

Bersamaan dengan selesainya teriakan nenek Canning, dan melesatnya sinar pukulan yang berwarna putih itu terdengar sahutan dari balik tabir kegelapan.

“Mari kita beri pelajaran pada tamu tak tahu adat itu daeng Canning, semoga dia bukan seorang pemuda yang tampan, sayang kalau tubuhnya harus lumat..hik..hik... ”. Sesosok bayangan berkelebat cepat dari kegelapan sambil tertawa-tawa, tangannya juga menghantam ke depan. Sinar merah berkiblat menyusul sinar putih yang lebih dahulu menderu ke arah kabut tersebut. Pukulan ini tidak mengeluarkan suara, tapi panas yang dikeluarkannya bukan olah-olah. Cuaca yang dingin membeku itu seakan-akan dibungkus oleh udara yang panas. Untuk sesaat di tempat itu menghampar udara panas. Pukulan yang dilepaskan sosok bayangan ini seakan menopang pukulan yang dilepaskan Nenek Canning.

Melihat dahsyatnya dua pukulan ini, mungkinkah bayangan dalam kabut itu bisa menghadapinya, setidaknya bisa menghindarinya ?

Bersambung...

  • 746 Dibaca