Bayang-Bayang Gizi Buruk di Polewali Mandar

Menggiriskan, dua warga tersebut harus rela minggat dari rumah sakit karena persoalan biaya


Seputarsulawesi.com - Sofyan yang malang. Sudah setahun lebih, balita berusia 2,5 tahun tersebut menderita gizi buruk. Beberapa waktu lalu, Sofyan sempat dirawat di Rumah Sakit. Namun, karena kondisinya dianggap membaik, ia lantas dipulangkan ke kediamannya di Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman Sulawesi Barat.

Saat ini, penyakit gizi buruknya kian parah dan akhirnya harus kembali mendapat penanganan lebih lanjut di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Polewali "Sekarang kembali masuk ke RSUD Polewali, untuk mendapatkan penanganan dokter," kata Ahmad Zaky, warga Pambusuang, kepada Seputarsulawesi.com, Senin, 16 Oktober 2017.

Sebelumnya, dua kasus gizi buruk yang menimpa warga Polewali Mandar. Menggiriskan, dua warga tersebut harus rela minggat dari rumah sakit, akibat kekurangan biaya pengobatan. Abdul Rasyid bayi berusia delapan bulan ini terpaksa harus dirawat jalan, lantaran orang tuanya tak punya cukup biaya.

Abdul Rasyid sempat dirawat selama dua bulan di RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar. Setelah sebelumnya tak ada tanda-tanda perubahan, kala dia masih ditangani dokter di Rumah Sakit Umum Majene. Kedua orang tua Abdul Rasyid hanya berprofesi sebagai nelayan kecil, tentu tak sanggup membiayai putranya. Sehingga dengan terpaksa memulangkan Abdul Rasyid ke kampung halamannya di Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman.

Nurhalimah, ibu si bayi malang berkeluh kesah. Meratapi nasib bayinya, yang menanggung penyakit sejak usianya masih dua minggu, pasca dilahirkan. "Diguga, bayi saya ini menderita penyakit sitomegalofirus rubella, sebuah penyakit di mana virus menyerang hati dan mata," kata Nurhalimah kepada Seputarsulawesi.com, Sabtu, 13 Oktober 2017.

Kemalangan nasib sang bayi, ditambah pula dengan tanggungan biaya pengobatan yang kian tak mencukupi. "Selama anak saya dirawat, suami saya tidak melaut, saya hanya mengandalkan bantuan tetangga serta keluarga, dan sampai saat ini saya masih punya utang sebanyak Rp 20 juta untuk biaya perawatan anak saya," ungkap Nurhalimah.

Keluh kesah Nurhalimah, sedikit berkurang kala Dinas Sosial Polewali Mandar memberi bantuan sebesar tiga juta rupiah. Juga, tak tinggal diamnya perangkat desa dan para relawan, membantu bayi penderita gizi buruk ini.

“Dana terkumpul saat ini sebesar, Rp 10.700.000. Semoga bantuan tersebut menjadi berkah untuk Abdul Rasyid," kata Ahmad Zacky, fasilitator penggalangan dana untuk Abdul Rasyid saat dihubungi via telepon.

Selain Abdul Rasyid, remaja bernama Nurmaya juga menderita gizi buruk. Sempat dirawat di RSUD Polewali, anak perempuan berusia 12 tahun ini, terpaksa dipulangkan oleh keluarganya karena tak punya cukup biaya untuk melanjutkan pengobatan ke RS Wahidin Sudirohusodo, Makassar, Sulawesi Selatan.

Jihad, selaku pendamping Nurmaya menyayangkan keputusan tersebut. Apalagi Nurmaya telah menderita gizi buruk sejak empat tahun lalu.

"Selama pengobatan, Nurmaya hanya dijaga oleh ibunya, sementara ayahnya sedang di Malaysia merantau. Tentu dengan kondisi seperti ini, kita berharap pihak pemerintah dapat memberi bantuan demi kesembuhan anak tersebut," katanya kepada Seputarsulawesi.com, Sabtu, 14 Oktober 2017.

Ketika Masyarakat Dianggap Biang Gizi Buruk

Kasus gizi buruk di Polman menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) per tahun 2016, merupakan salah satu yang tertinggi di Provinsi Sulawesi Barat. Jumlah penderita gizi buruk di Polman sendiri yaitu sebanyak 46 orang dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) sebanyak 418 orang.

Anggota DPRD komisi IV Kabupaten Polewali Mandar dari partai Golkar, Abubakar turut berkomentar terkait kasus gizi buruk ini. Menurutnya, masyarakatlah yang menjadi biang tingginya kasus gizi buruk.

“Faktor gizi buruk karena masyarakat yang tidak paham tentang kejadian di sekitarnya sehingga gizinya kurang memadai. Mungkin juga mereka tergolong warga kurang mampu sehingga mudah terserang gizi buruk. Gizi buruk itu juga terjadi karena status sosial dan daya tangkap masyarakat kita yang masih rendah,” katanya kepada Seputarsulawesi.com, Jumat, 20 Oktober 2017.

Abubakar juga menampik kabar bahwa pemerintah daerah dan DPR menutup mata terkait kasus ini. “Sejauh ini saya melihat pemerintah tidak menutup mata, mereka juga sudah melakukan langkah-langkah kongkrit. Langkah-langkah yang ditempuh pemerintah misalnya memfasilitasi kalau misalkan dia mau dirujuk ke Makassar. DPR juga terus memantau perkembangan penanganan gizi buruk. Saya berharap dinas terkait melakukan langkah-langkah sosialisasi kepada masyarakat. Semua berpulang kepada keluarga yang tertimpa gizi buruk tersebut,” paparnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Polman, Suaib Nawawi mengatakan bahwa penyakit gizi buruk di Polewali Mandar, banyak terjadi karena kelalaian dari pihak keluarga. “Penyakit gizi buruk ini butuh penanganan medis yang cukup lama, sedangkan keluarganya tidak betah di rumah sakit, ingat rumahnya lah, ingat ternaknya lah. Jadi jangan heran kalau penyakitnya tidak bisa sembuh karena salahnya sendiri,” katanya.

Senada dengan Abu Bakar, ia juga menegaskan bahwa pihak Dinas Kesehatan telah berupaya secara maksimal melakukan pelatihan guna pencegahan gizi buruk. “Kita sudah bekerja secara maksimal dalam melakukan pelatihan-pelatihan ke kader puskesmas dan masyarakat, tentang menu makanan lokal yang diberikan kepada balita untuk mencegah bertambahnya angka penderita gizi buruk,” tegasnya.

Persepsi pemerintah yang menganggap masyarakat sebagai biang gizi buruk, sudah sangat lazim didapati di beberapa tempat, bukan hanya di Polewali Mandar. Namun, hal seperti ini tak boleh dibiarkan terus menerus. Seolah “cuci tangan”, pemerintah menyudutkan masyarakat, di tengah ketidakhadiran mereka dalam kasus yang menimpa masyarakatnya.

Dalam kasus-kasus gizi buruk yang terjadi beberapa waktu lalu tersebut, keluarga yang anaknya menderita gizi buruk, justru harus menanggung beban itu sendirian. Hanya sedikit perhatian dari pemerintah – jika bisa dikatakan tidak ada. Meski ada beberapa pihak yang turut membantu, itupun dari relawan-relawan dari masyarakat setempat.

Seperti pada kasus yang menimpa Nurmaya. Jihad, selaku pendamping Nurmaya menyayangkan sikap dan perhatian para Pendamping Keluarga Harapan (PKH). Menurutnya, PKH lah, yang seharusnya mendampingi Nurmaya. Karena kasus Nurmaya itu bagian dari program keluarga harapan yang dicanangkan oleh Kementrian Sosial.

Lebih lanjut, Jihad menambahkan, meski kinerja PKH di Polewali Mandar cukup baik, namun di beberapa wilayah, termasuk Tutar, program PKH tidak berjalan secara profesional. "Seharusnya yang berhak menerima bantuan justru tidak dapat," tambah Jihad.

Selain ketidakhadiran pemerintah atau bisa jadi program penanggulangan yang tidak tepat sasaran, masalah gizi buruk juga disebabkan oleh pemenuhan gizi yang belum memadai, berikut ketersediaan bahan pangan. Dalam riset yang dilakukan oleh Global Nutrition pada 2016 lalu, menempatkan Indonesia berada di peringkat 108 dunia dalam hal pemenuhan gizi.

Untuk negara di kawasan Asia Tenggara, Indonesia hanya unggul dari Laos di peringkat 124 dan Timor Leste pada posisi 132. Padahal, negara Asia Tenggara lainnya jauh di atas Indonesia. Misalnya Thailand (46), Malaysia (47), Vietnam (55), Brunei (55), Philipina (88) dan Kamboja (95).

Pemenuhan gizi yang memadai, tentu dibarengi dengan ketersediaan pangan yang cukup. Karena pangan merupakan salah satu kebutuhan pokok, yang sangat dibutuhkan tubuh setiap hari dalam jumlah tertentu sebagai sumber energi dan zat-zat gizi. Kekurangan atau kelebihan dalam jangka waktu lama akan berakibat buruk terhadap kesehatan.

Ironisnya, ketersediaan pangan di Polewali Mandar sebenarnya bisa dikatakan cukup melimpah. Polewali Mandar merupakan lumbung pangan Provinsi Sulawesi Barat. Setiap tahunnya, kabupaten ini mengalami surplus pangan. Polewali Mandar memiliki luas lahan pertanian 17.631 ha sawah dan 169. 603 ha pertanian bukan sawah . Dengan hasil produksi 205.135,27 ton padi sawah dan 8.369 ton padi ladang pada tahun 2016.

Hal ini berkebalikan dengan kenyataan yang didapati sekarang, di mana Polewali Mandar sedang dibayangi kasus gizi buruk, yang seolah tak ada habisnya. Surplus pangan malah tak menjamin pemenuhan gizi yang baik di wilayah ini. Dan kenyataan paling menggiriskan, masyarakat dibiarkan bertahan sendirian dan bahkan disudutkan sebagai biang “gizi buruk”.

 

  • 289 Dibaca