Gambar oleh aonbet.com

Belanda; Dulu Total Voetball, Kini Total Gagal


Seputarsulawesi.com, Makassar- Tak ada yang menyangka kalau Belanda bakal dua kali ketiban sial. Belum habis cerita perihal nasib buruk tak lolos ke Euro 2016 lalu. Kini, Robben cs harus puas jadi penonton di Piala Dunia Rusia tahun depan. 

Roda hidup memang berputar. Namun bagi publik Belanda, putaran roda ini malah bikin syok. Satu grup dengan Prancis di kualifikasi, bikin Belanda harus kerja ekstra. Sempat memepet di posisi runner up, apa daya Swedia mampu menyalip. 

Bertemu Swedia di laga pamungkas, Belanda ditarget menang minimal dengan skor 8-0. Dick Advoocat, pelatih Belanda, malah tak sesumbar. Justru dirinya menampilkan keraguan. 

Pada pertandingan yang dihelat Rabu, 11 Oktober 2017 kemarin, Belanda cuma menang 2-0 atas Swedia. Poin kedua tim sama, namun nasib Belanda diruntuhkan lewat selisih gol. Swedia memiliki selisih gol lebih baik dari De Oranje. Namanya juga nasib, Belanda harus menerima.

Saking kecewanya, Robben pada akhirnya memilih pensiun dari Timnas Belanda. Kenyataan itu, harus ia terima meski dengan rasa kecewa yang amat berat.

"Saya ingin fokus ke klub sekarang, ini saat yang tepat untuk memberikan obor ke generasi selanjutnya," kata Robben seusai laga melawan Swedia, seperti dikutip dari Mirror.

Pasca tak lolos ke Piala Dunia 2018, banyak yang menganggap Belanda bukan lagi raksasa persepakbolaan dunia. Padahal, Robben cs sebenarnya tampil hebat di Piala Dunia 2010 dan 2014. Di Afrika Selatan, mereka mencapai final. Namun dipaksa menyerah oleh tim matador Spanyol. Sedang di Brazil, Robben cs mampu ke semifinal, sebelum diseruduk panser Jerman.

Kejadian yang sama pernah dialami Belanda pada awal 2000-an. Dihuni banyak pemain bertalenta, De Oranje malah gagal ke Korea-Jepang 2002. Belanda kala itu diperkuat nama-nama beken, seperti Van der Sar, Jaap Stam, Marc Overmars, hingga sang penyihir Dennis Bergkamp.

Kali ini ceritanya berbeda. Praktis sisa pak Tua Robben, sebagai nama beken, yang membela Belanda di babak kualifikasi. Saking tak adanya nama mentereng, pelatih Belanda sering menggonta-ganti pemain, bahkan formasi. Inilah yang menjadi salah satu alasan gagalnya Belanda ke Piala Dunia 2018.

Selain kurang padunya para pemain, faktor regenerasi 'pemain bintang' juga jadi penyebab. Tak ada penerus Robben di sisi sayap. Juga tak ada lagi striker pembunuh macam Van Nistelrooy, Van Persie dan Jan Hunteelar. Janseen yang dijadikan tumpuan saat ini, tumpulnya bukan main.

Di lini belakang, kenyataan yang sama dipertontonkan. Hanya Van Dijk yang tampil hebat, selebihnya biasa-biasa saja. Menemukan penerus Van Bronckhorst, masih hal yang mustahil. Sementara di lini tengah, tidak ada lagi gelandang sehebat Sneijder dan Van der Vaart. Kevin Strootman dan Memphis Depay, tak berkembang secara maksimal. Ini yang membuat permainan Belanda di laga kualifikasi, minim kreativitas. 

Padahal, akademi tim-tim Eredivisie dikenal sebagai pencetak pemain bertalenta. Dan itu adalah fakta, bukan bualan semata. Setidaknya, sebelum beberapa tahun belakangan. Akademi di Belanda, sepertinya sedang kelimpungan. Bak mesin cetak yang lagi kehabisan tinta. 

Selain itu, Belanda juga dikenal sebagai negara yang membawa permainan sepakbola ke level berbeda. Rinus Michel, sebagai orang pertama yang mendedahkan taktik toetal voetball ke dalam sepakbola. Di mana salah satu perubahan mendasar dibanding taktik kuno sebelumnya adalah pergerakan tanpa bola dan pertukaran posisi yang lebih fleksibel antar pemain. Perubahan inilah yang membawa sepakbola dunia ke jalan yang lebih modern.

Taktik yang dikembangkan sejak 1969 oleh Ajak Amsterdam, kemudian dipakai Rinus Michel kala menukangi Belanda pada Piala Dunia 1974. Kemudian dimodifikasi menjadi lebih baik oleh Johan Cruyff saat di Barcelona. Dan taktik ini kemudian dipakai hingga kini. Bahkan hingga Belanda gagal lolos ke Piala Dunia 2018. 

Meski Toetal Voetball hanya mampu membuat Belanda meraih tiga kali runner-up Piala Dunia, yakni 1974, 1978 dan 2010. Gaya permainan ini mampu membuat lompatan besar dalam strategi-strategi sepakbola dalam beberapa dekade ke depan sejak kemunculannya. 

Namun Toetal Voetball, kini tak terlihat lagi di Belanda. Atau mungkin tak ada lagi pemain Belanda yang mampu menerjemahkan taktik ini di lapangan. Bisa jadi pula, pelatih-pelatih asal negeri kincir angin, yang mulai tak paham Toetal Voetball itu sendiri.

Jika demikian, toetal voetball lantas perlahan menguap, seiring nasib sial Belanda. Bukan lagi kejayaan yang ditawarkan, tapi kegagalan yang ditonjolkan. Apabila tak ingin terpeleset lagi, Belanda harus berbenah. Seperti yang Rinus Michel lakukan puluhan tahun silam.

  • 94 Dibaca