Gambar via Belanja.com

Belanja Dulu, Mudik Kemudian


Seputarsulawesi.com, Makassar - Kini, ramadhan memasuki bagian akhir. Berarti sebentar lagi, orang-orang akan menyambut hari raya idul fitri. Euforia hari raya semakin terasa di sepanjang hamparan perkotaan. Apalagi, di beberapa pusat perbelanjaan, baik di pasar tradisional dalam kota maupun pusat perbelanjaan modern, orang-orang kian tumpah ruah. Berdesak-desakan berburu apapun yang serba baru. Memilah dan memilih, apa yang cocok dikenakan pada hari yang fitri nanti.

Orang-orang kota punya etos belanja yang luar biasa tinggi. Saat menjelang lebaran seperti ini, tabungan siap dipecahkan, demi menunjang kantong belanjaan. Uang rela dihamburkan, agar di hari raya nanti, tubuh tetap dibalut oleh sesuatu yang serba baru. Hari raya lebaran, bukan hanya dianggap sebagai hari di mana lahirnya kembali jiwa yang baru, tetapi lebih pada penghargaan berlebih pada tubuh. Tubuh yang dililit pembungkus yang baru, pertanda bahwa ia maju, seiring dengan nalar perkotaan yang tak menginginkan ketertinggalan.

Ramai-ramai orang mengerubungi pusat grosir tradisional hingga pusat perbelanjaan modern. Mall Ratu Indah di Kota Makassar misalnya, sepert yang diberitakan oleh inikata.com, menjelang lebaran memperkirakan lonjakan pengunjung hingga 45.000 orang/ hari. Begitu pula dengan Pusat Grosir Tradisional Butung, pantauan Gubernur Sulawesi Selatan yang dilansir dari antarasulsel.com menyebutkan aktivitas pedagang yang mampu menambah barang tiga kali dalam sehari, menandakan lonjakan pengunjung yang sangat signifikan.

Seiring perkembangan teknologi, belanja orang-orang kota juga tak melulu mendatangi pusat perbelanjaan. Menjelang lebaran, belanja secara online sedang ramai peminat. Berdasarkan hasil survei ShopBack Indonesia, 81,9 % konsumen belanja online mengutamakan mencari produk kategori fashion; 43,1 % elektronik; 40,7 % makanan; 33,8 % perabotan rumah tangga; 32,4 % groceries; dan 31,9 % travel menjelang lebaran. Alokasi rata-rata pengeluaran belanja online masyarakat Indonesia menjelang lebaran nilainya bervariasi. Sebanyak 64,6 % konsumen mengaku mengeluarkan Rp. 500.000 sampai Rp 5 Juta. Sedangkan 34,4 %-nya hanya mengeluarkan dana sekitarRp 100.000 – Rp 499.000.

Lebih lanjut, survei tersebut juga menyajikan data mengenai besar biaya pengeluaran konsumen selaman bulan ramadhan hingga lebaran datang. Sebanyak 78,3 % konsumen menambah biaya pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan mereka selama bulan ramadhan dan lebaran. Rata-rata (52,2 %) memanfaatkan uang tunjangan hari raya (THR) dan 23,9 % juga menggunakan tabungan serta 23,9 % memanfaatkan gaji mereka.

Belanja online, kian hari kian diminati. Cara belanja seperti ini tentu sangat memudahkan dan efektif. Apalagi menjelang lebaran, pusat-pusat perbelanjaan sangat ramai didatangi pengunjung. Akses jalan ke pusat perbelanjaan akan sangat macet dan di dalam tempat tersebut, orang-orang akan saling berdesak-desakan. Belanja online juga bisa dilakukan di waktu-waktu santai. Seperti dilansir dari accuratecloud.com, riset fakta lapangan yang dilakukan oleh CFO Bukalapak, Muhammad Fajrin Rasyid, menemukan bahwa aktivitas belanja online diakui sangat tinggi. Lonjakan pengunjung, untuk sekedar mengecek penawaran atau berbelanja, di waktu sore hari menjelang berbuka atau sebelum pagi hari setelah waktu sahur.

Praktik belanja konvensional ataupun secara daring menjelang lebaran, telah menjadi habitus tersendiri bagi masyarakat muslim perkotaan. “Ibadah” belanja, telah menjelma sebagai ritus modernitas yang tiap tahunnya, terus menerus direproduksi. Apalagi, di era ekonomi libidinal, berbagai macam iklan, penawaran khusus dan diskon besar-besaran, menarik hasrat masyarakat untuk mengonsumsi tiada henti. Berasas pada keinginan yang dijejalkan terus menerus, bukan pada logika kebutuhan.

Artikel yang tulis oleh Lina Lazuarni (Newsletter KUNCI No. 1, Juli 1999), memaparkan bahwa dalam kebudayaan konsumen, persepsi tentang tubuh didominasi oleh meluasnya dandanan untuk citra visual. Citra membuat orang lebih sadar akan penampilan luar dan presentase tubuh. Itulah sebabnya, konsumsi fashion menjelang lebaran memiliki presentase yang cukup tinggi. Citra dan penampilan luar saat lebaran menjadi prioritas utama bagi masyarakat konsumsi.

Mudik; Saatnya Mengosongkan Kota

“Ibadah” masyarakat kota pasca belanja besar-besaran menjelang lebaran, tentunya mudik ke kampung halaman. Meski tidak semua orang kota menjalani mudik, tapi tingginya presentase pendatang yang berdomisili di kota besar, tentu mengakibatkan besarnya arus mudik ke daerah-daerah menjelang lebaran. Di Kota Makassar sendiri, jumlah pendatang yang terdiri dari pelajar-mahasiswa dan pekerja di berbagai sektor, tiap tahunnya bisa mencapai 100 ribu orang, sesuai dengan data Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil.

Mudik menjelang lebaran punya makna tersendiri. Ritus ini adalah wahana untuk berkumpul dengan orang tua, sanak saudara dan teman-teman di kampung halaman. Mudik telah menjadi tradisi yang tiap tahun dilaksanakan oleh masyarakat muslim perkotaan di negeri ini, menjelang lebaran. Orang-orang kota sangat sibuk mempersiapkan segala sesuatu menjelang mudik.

Bukan hanya para pemudik, negara juga sangat sibut mempersiapkan beragam infrastruktur guna melancarkan tradisi tahunan ini. Mulai dari perbaikan jalan besar-besaran, pembangunan tol yang dikebut, penambahan armada transportasi, hingga menjamin keselamatan para pemudik (keamanan berkendara, fasilitas istirahat dan layanan kesehatan, dan posko mudik kepolisian). Mudik bak pesta besar-besaran di negeri ini, yang membuat awak media berlomba-lomba melaporkan arus mudik di berbagai tempat.

Saat mudik, sebagian besar masyarakat urban meninggalkan kota. Kota akan tampak lengang, bahkan seperti keliatan kosong. Kompleks perumahan terasa sepi dan jalanan tak seperti sebelumnya, yang didera macet terus menerus. Macet berpindah ke desa-desa. Orang-orang kota membawa serta kendaraan yang diisi beragam barang bawaan.

Tapi, ada yang tak dibawa pulang oleh orang-orang kota. Mereka sejenak menanggalkan identitas ke-kotaan mereka. Seno Gumira Ajidarma, dalam tulisannya berjudul Jakarta Kosong (Tiada Ojek di Paris, 2015), identitas Homo Jakartanensis tak bisa ditentukan secara teritorial. Ketika tiba di kampung, mereka bukan lagi “yang lain dari Jakarta”, tapi orang sini atau daerah tertentu “yang hidup di Jakarta”.

Meski saat di kampung halaman, orang-orang yang hidup di Kota, memiliki penampilan dan citra yang berbeda. Tetap saja, identitas selalu kembali merujuk pada “keaslian”nya. Seno Gumira Ajidarma memaparkan bahwa, mereka yang lahir dari di Jakarta dari keluarga Minang tidak akan pernah direlakan menganggap rendang terlalu pedas atau dari keluarga Batak tidak akan pernah dibiarkan tak paham adat perkawinan antar marga.

Mudik atau pulang kampung, membawa “identitas asal” orang-orang kota. Orang Bugis atau orang Mandar yang lama hidup di Kota Makassar misalnya, saat pulang ke kampung halaman, melekatkan kembali identitas ke-bugis-an dan ke-mandar-an mereka. Makassar bukan lagi identitas yang mereka miliki untuk beberapa saat. Makassar, dalam hal ini kota yang dihidupi beragam identitas, saat mudik menjelang lebaran akan mengalami “kekosongan identitas”. Bukan hanya kekosongan kompleks perumahan dan jalan raya.

Kontributor: Ilham Bedewe

Tag :

lipsus
  • 168 Dibaca