Bentrok Mahasiswa; Misterius, Tapi Mentradisi


Seputarsulawesi.com, Makassar - Bentrok antar mahasiswa di Makassar memang kerap terjadi, namun faktor penyebab dan akar masalah penyebab bentrok kadang tidak jelas. Bentrokan di kalangan mahasiswa tersebut seperti sudah menjadi tradisi.

Sebagaimana yang kita ketahui, bentrok antar mahasiswa di Kampus Universitas Negeri Makassar (UNM) terjadi lagi pada Selasa (11/4/2017) kemarin siang. Bentrok antara mahasiswa dari Fakultas Bahasa dan Sastra (FBS) dan Fakultas Teknik (FT) ini adalah bentrok pertama dalam masa kepemimpinan Rektor Prof. Dr. Husain Syam MTP.

Tindakan kekerasan dalam konflik antar mahasiswa yang terjadi di Kota Makassar yang dilakukan antara fakultas dengan fakultas, fakultas dengan kelompok mahasiswa dan jurusan/program studi adalah fenomena konflik kekerasan sebagai perwujudan dari konflik yang tidak dapat diselesaikan dengan damai.

Sebagian besar konflik kekerasan yang dilakukan antar mahasiswa berawal dari konflik atau aksi kekerasan personal, kemudian menjadi aksi kekerasan kolektif.

Menurut Jumadi, Dosen Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Makassar (UNM) dalam jurnal Walasuji (Volume 5, Nomor 2 tahun 2014) mengupas tentang beberapa hal yang menyebabkan tindakan kekerasan antar mahasiswa di Makassar.

Aksi kekerasan kolektif yang dilakukan antar mahasiswa lebih bersumber dari adanya perbedaan pandangan dan ideologi mahasiswa, perbedaan budaya kepentingan dan nilai, deprivasi, dominasi, dan bahkan kelemahan kontrol sosial.

Tindakan kekerasan dalam bentuk konflik sosial antar mahasiswa juga dapat diartikan sebagai bentuk pelepasan ketegangan akibat perubahan sosial yang cepat dan ekstensif yang menciptakan ketidakpastian, kebimbangan, dan tekanan yang berakumulasi sehingga orang mencari kesempatan untuk melepaskannya dalam bentuk protes kekerasan dan aksi massa.

Penyebab terjadinya konflik sosial mengarah pada perilaku dekstruktif adalah sentimen primordial, seiring dengan penerapan otonomi daerah telah turut menjadi sumber dalam penguatan identitas keetnisan, komunitas, dan kelompok.

Munculnya identitas-identitas lokal tersebut telah mengatar mahasiswa pada munculnya prasangka kelompok. Pembentukan identitas tersebut telah membawa kepada fanatisme yang berlebih-lebihan terhadap nilai kelompok yang akan menimbulkan sikap apriori terhadap kelompok dan rasa saling curiga terhadap kelompok lain (Jumadi, 2008:41).

Akar penyebab terjadinya aksi kekerasan antar mahasiswa diataranya yaitu berkurangnya hingga hilangnya nilai yang mengikat, seperti idealisme, tanggung jawab, kecerdasan intelektual, dan spiritual.

Pemahaman terhadap nilai-nilai Sulawesi Selatan seperti siri na pacce sudah hampir terkikis habis, sehingga setiap aktivitas konflik di kalangan mahasiswa selalu ditanggapi dengan bentuk kekerasan, tidak diselesaikan melalui cara-cara akademik penuh dialogis dan jauh dari kekerasan.

Penyebab lainnya adalah hilangnya ikatan-ikatan secara universal mahasiswa dalam sebuah perguruan tinggi, mereka terkelompok pada kajian-kajian keilmuan dan organisasi intra dan ekstra bahkan kedaerahan yang cenderung kurang menerima perbedaan-perbedaan antara yang satu dengan yang lainnya.

Berkembangnya struktur dan pergerakan kemahasiswaan tidak diikuti dengan institusi kemahasiswaan dalam perguruan tinggi sesuai dengan perubahan sosial.

Fenomena sosial dalam bentuk kekerasan kolektif dalam kampus antar mahasiswa tentu bertolak belakang dari manifestasi kampus sebagai sebagai institusi pendidikan yang didalamnya diisi oleh orang-orang berpendidikan yang seharusnya jauh dari tindakan kekerasan. (Win)

Tag :

lipsus
  • 384 Dibaca