Berakhirnya Angan Kahar Muzakkar Tentang Republik Persatuan Islam Indonesia


Membaca Motif Gerak DI/TII di Sulawesi Selatan (Bagian 5)

 

Seputarsulawesi.com – Gerakan pemberontakan Darul Islam (DI) / Tentara Islam Indonesia (TII) yang dilancarkan Kahar Muzakkar dibelantara hutan selama lima belas tahun (1950-1965), terbukti gagal mewujudkan negara Islam. Padahal, segala upaya untuk mempengaruhi publik sudah ditempuhnya demi meraih dukungan politik dan simpati publik, khususnya di wilayah Sulawesi Selatan. Mulai dari menggelorakan nasionalisme agama (Islam), hingga nasionalisme etnik (Bugis). Upaya itu pada akhirnya tetap kandas.

Kehadirannya bahkan meresahkan dan menakutkan sebagian masyarakat. Di kawasan pedesaan terutama, gerakan DI/TII dirasakan sebagai teror. Maka tak heran pada fase itu, migrasi orang-orang desa pedalaman ke kota, seperti Makassar cukup tinggi. Disini, gerakan DI/TII bagai pesta tanpa gemuruh tepuk tangan, atau laksana pameran tanpa pengunjung.

Baca juga: Para Korban dan Pernyataan Perang Kahar Muzakkar Melalui Piagam Makalua

Penumpasan gerakan separatis di Indonesia pada tahun 1950-an menurut Daliar Noer dalam buku Partai Islam di Pentas Nasional (1945-1965)(1987), umumnya dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu pendekatan persuasif kompromi politik dan pendekatan bersenjata atau operasi. Kendatipun kedua pendekatan tersebut memiliki tujuan yang sama, namun dalam menentukan pendekatan apa yang akan digunakan tergantung pada perkembangan situasi.M.Rasyid Ridah dalam emtha1110.blogspot.co.id.

Pendekatan pertama kurang efektif, sekalipun hal itu berdampak terhadap perubahan struktur kekuatan DI/TII, namun tidak dapat dipungkiri bahwa hal itu berdampak pada perubahan struktur kekuatan pasukan DI/TII. Tetapi, upaya tersebut tidak berhasil membawa pemimpin pemberontakan, Kahar Muzakkar kembali ke masyarakat. Oleh sebab itu, pemerintah RI kemudian menempuh jalur yang kedua yakni pedekatan operasi militer.

Selama berlangsungnya gerakan ini, pasukan DI/TII menerapkan taktik gerilya yang bersifat totaliter, yakni meminjam taktik gerilya Mao Tse Tung.Pemerintah pun harus menggunakan taktik antigerilya yang bertujuan untuk memisah rakyat dari musuh, dengan tetap menyadari soal-soal politik, ideologi, dan sosial-ekonomi. Oleh karena itu, dibentuk pertahanan total, di mana rakyat dilibatkan untuk bersama-sama dengan TNI melakukan upaya penumpasan DI/TII.

Salah satu bentuk pelibatan rakyat ini, terjadi di wilayah Sidrap, tepatnya pada Komunitas Tolotang. “Pada masa itu, orang-orang Tolotang juga melakukan perlawanan, di antaranya dengan bergabung menjadi pasukan sukarela yang membantu TNI memerangi Kahar Muzakkar dan kawan-kawan,” tulis Heru Prasetia dalam Riwayat Tolotang, Narasi Kecil yang Terlupakan (Agama dan Kebudayaan; Pergulatan di Tengah Komunitas, 2010).

Antara tahun 1952-1953 TNI melancarkan operasi Halilintar, yang dihadapi bukan hanya gerombolan pimpinan Kahar Muzakkar, tetapi juga TKR pimpinan Hamid Gali dan Usman Ballo, dan Tentara Republik Indonesia (TRI) yang dipimpin Andi Makkulau dan Andi Ismail.

“Operasi penumpasan DI/TII di Sulawesi Selatan dan Tenggara dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode TT.VII Wirabuana (1951-1957) dan periode Kodam XIV Hasanuddin (1957-1965)),” tulis Anhar Gonggong dalam buku Abdul Qahhar Mudzakkar, dari Patriot Hingga Pemberontak (1992).

Setelah operasi Halilintar, Komando TT VII Wirabuana menyusun satuan organisasi operasi militer yang diberinama Gevechts Groep dibawah pimpinan Letkol Chandra Hasan pada tahun 1954 sampai terbentuknya organisasi operasi yang lain pada tahun 1956. Antara tahun 1955-1956 telah berturut-turut dibentuk kesatuan komando operasi yaitu Komando Operasi Wirabuana yang langsung dibawah, Komando Operasi Musafir, dan Komando Daerah Pengamanan Sulawesi Selatan Tenggara (Ko.DPSST).

Upaya pemulihan keamanan (1959-1962) melalui operasi militer ditempuh dengan membentuk Komando Operasi “45” (1959-1960) yang dipimpin Mayor Andi Sose, Komando Operasi Guntur (1960-1961), dan Komando Operasi Kiklat (1961-1962). Di samping operasi militer, pemerintah juga melakukan pendekatan persuasif.

“Pendekatan persuasif dalam periode ini sempat menunjukkan titik terang ke arah penyelesaian. Hal itu dibuktikan dengan kesediaan Abdul Qahhar Mudzakkar, pemimpin DI/TII untuk melakukan perundingan dengan Pangdam XIV/Hasanuddin, Letkol AndiMuhammad Yusuf di Bonepute pada tahun 1961,”tulis Anhar Gonggong.

Namun ternyata perundingan tersebut tidak berhasil menyelesaikan persoalan. Karena itu, pemerintah semakin gencar melakukan operasi militer.Sejumlah operasi TNI terhadap DI/TII di Sulawesi Tenggara membuat Kahar Muzakkar semakin terdesak, terutama setelah kembalinya komandan Resimen II DI/TII, Muhammad Jufri Tambora bersama anak buahnya pada tahun 1962 sebagai realisasi dari hasil perindingan di Bone Pute.

Meski demikian, hal itu tidak menyurutkan perjuangan Kahar Mudzakkar, dan bahkan di sela kemunduran peregerakannya, ia sempat memproklamirkan berdirinya Republik Persatuan Islam Indonesia (RPII) pada tanggal 14 Mei 1962 yang oleh Anhar Gonggong disebut sebagai ‘Angan-angan dalam kesendirian’.

Penumpasan gerombolan DI/TII mencapai titik terang pada akhir Januari 1965. Perwira kepercayaan Kahar Muzakkar, Letkol Kadir Junus yang menyerahkan diri kepada TNI, memberitahu tempat persembunyian Kahar Muzakkar di sekitar Sungai Lasolo, Kabupaten Kendari Sulawesi Tenggara. Kepastian lokasi persembunyian Kahar Muzakkar kemudian diperkuat setelah pasukan RPKAD menyergap sekelompok orang di sekitar Lawate pada 22 Januari 1965. Hal ini sebagaimana dituturkan oleh Brigadir Jenderal (Brigjen) TNI M Jusuf.

Tepat dini hari, 3 Februari 1965, pasukan TNI yang dipimpin oleh Peltu Umar, melakukan pengepungan terhadap perkemahan yang diyakini sebagai tempat persembunyian Kahar Muzakkar. Menjelang subuh, baku tembak terjadi. Pertempuran pun hanya berlangsung selama lima menit. Mayat-mayat di perkemahan, kemudian diidentifikasi satu persatu, dan salah satu mayat diyakini sebagai mayat Kahar Muzakkar.

“Operasi Tumpas yang dilancarkan oleh Kodam XIV Hasanuddin berhasil mendesak pasukan DI/TII hingga akhirnya pimpinannya, Kahar Mudzakkar tertembak mati di dekat Sungai Lasolo Kolaka pada tahun 1965,” tulis Harvey dalam buku Pemberontakan Kahar Muzakkar: dari Tradisi ke DI/TII (1987).

Jenazah Kahar Muzakkar kemudian dibawa ke rumah sakit di Makassar. Deputi I/Pangad Mayjen TNI Moersid langsung diutus oleh Achmad Yani, guna memastikan bahwa mayat tersebut memang Kahar Muzakkar. M Jusuf juga memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk melihat jenazah itu dan memastikan sendiri bahwa yang mati benar-benar Kahar.

Dalam buku Jenderal M Jusuf; Panglima Para Prajurit (2006) yang ditulis Atmadji, menceritakan bagaimana mayat Kahar Muzakkar dikenali lewat celana dalam yang ia kenakan. “Sejak di Pakue saya telah memastikan bahwa yang meninggal adalah Kahar. Ciri utama dari Kahar adalah tahi lalat, gigi emas dan yang paling penting adalah celana dalam dengan bordiran huruf KM (Kahar Muzakkar). Beliau tidak mau memakai sembarang celana dalam, kecuali yang dibordir khusus oleh istri keempatnya,” tulisnya.

Setelah berbagai elemen masyarakat berdatangan ke rumah sakit untuk memastikan wajah Kahar Muzakkar, M. Jusuf memerintahkan jenazah Kahar dikuburkan. Melansir dari laman historia.id, hanya sedikti pejabat militer yang mengetahui di mana Kahar dikuburkan. Jusuf dan Kolonel Solichin GP, Kepala Staf Operasi Kilat, tidak pernah menceritakan di mana Kahar dimakamkan dan siapa yang diperintahkan memakamkannya.

Hingga hari ini, keberadaan kuburan Kahar Muzakkar masih jadi “misteri” tersendiri bagi masyarakat Sulawesi Selatan. “Jusuf sendiri tetap konsisten dengan sikapnya dan tidak pernah mau menceritakan di mana dia memerintahkan Kahar Muzakkar dimakamkan sampai ia meninggal pada September 2004.”tulis Atmadji.

 

  • 342 Dibaca