Bertani Memang Keren


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Bagi sebagian orang, bertani bukanlah pekerjaan mudah, karena selain harus berjibaku dengan lumpur atau tanah, juga oleh sebagian anak muda dewasa ini, dilihatnya sebagai pekerjaan yang merepotkan dan dianggap kurang keren.

Bagi mereka, bekerja di dunia kantoran jauh lebih menjanjikan ketimbang harus jadi petani, dan nampaknya cara berpikir seperti ini yang dominan di kepala generasi kita saat ini.  

Tak jelas, sejak kapan cara berpikir seperti ini muncul dalam benak mereka, padahal anggapan seperti ini tidaklah selamanya benar. Pasalnya, dari sekian banyak anak muda yang menceburkan diri di dunia pertanian, ternyata mereka mampu mandiri secara ekonomi. Salah satunya adalah pemuda bernama Anwar Khadafi. 

Pemuda Dusun Tanete, Desa Amola, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar ini lebih memilih bertani, ketimbang harus bekerja di tempat-tempat yang oleh sebagian generasi muda sekarang dianggap beken itu.

Tekad Anwar untuk terjung ke dunia pertanian memang dikenal sangat kuat, dan itu bermula saat ia pertamakali meninggalkan bangku kuliah tahun 2016 lalu.

Kembali ke desa untuk bertani adalah sebuah pilihan, dan sekaligus sebagai wujud terima kasihnya kepada orang tuanya, karena telah berhasil menyekolahkan dirinya dari hasil pertanian.

"Karena saya orang kampung, maka saya harus kembali ke kampung," ucapnya sambil menyeruput kopi saat ditemui di rumah kebun miliknya beberapa hari lalu.

Sambil menatap langit-langit rumah kebun berukuran 3x4 itu, Anwar yang saat itu sedang melenting tembakau dari dalam pelastik bekas pembungkus gula pasir, menyampaikan keluhannya soal harga hasil pertanian yang seolah tak pernah berpihak ke kalangan petani.

Menurutnya, pemilik pemodal sangat kuat memainkan harga di pasar, sehingga petani kerap mengalami kerugian saat menjual hasil buminya. Meski demikian, Anwar tetap optimis, keberuntungan suatu saat akan berpihak kepadanya.

Apalagi saat ini, dirinya sedang menggalakkan konsep pertanian alami. Ia berharap konsep yang tegah dijalankannya itu, mampu mengenjot hasil produksi cabe yang kerap ia panen dalam setiap minggu.

Melihat polpen yang sejak dari tadi terselip di sela-sela atap rumahnya itu, ia pun berinisiatif untuk menuliskan sesuatu. Tak lama kemudian, Anwar menarik sarungnya yang sudah terlihat lusuh hingga ke lutut, lalu menulis sesuatu di betisnya.

Sambil menghisap dalam-dalam asap rokok, ia pun mulai menulis angka-angka. Meski tulisan yang tertera di betisnya itu tak terlalu jelas, namun bisa dipahami, Anwar sedang mengkalkulasi omset penjualan hasil buminya beberapa hari lalu. 

Berdasarkan angka yang tertera, terhitung dalam perminggunya, ia mendapatkan keutungan dari hasil penjualan cabenya sebanyak Rp. 150 ribu. Dalam sebulan, praktis Anwar mendapat keutungan bersih sebanyak Rp. 600 ribu.

"Dari luas tanaman cabe 70 are, saya mendapatkan keuntungan Rp. 600 ribu rupiah perbulan," katanya sambil menunjuk angka-angka di betis yang sudah mulai terlihat legam akibat sengatan matahari itu.

Tanaman cabe yang dikelola Anwar dengan model pertanian alami, perlahan mampu meminggirkan mitos konsep pertanian konvensional warisan revolusi hijau Orde Baru (Orba). Dengan luas lahan cabe 70 are, Anwar bisa memanen cabe minimal 120 kilogram dalam setiap minggu.

Hanya berselang beberapa bulan, melihat hasil panen Anwar yang terus mengalami peningkatan, warga setempat pun berdatangan ke rumahnya. Mereka meminta untuk diajari cara mengelola dan merawat tanaman.

Namun, sebelum praktek pembuatan nutrisi N.P.K Ca, dan lainnya, Anwar terlebih dahulu menjelaskan mengapa harus bertani secara alami, dan mengapa pula penting untuk bertani secara alami.

Dari penjelasan Anwar  tersebut, ia pun berhasil memotivasi masyarakat setempat untuk kembali ke konsep pertanian alami. Menurutnya, kembali ke pertanian alami adalah kembali ke jati diri, dan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat. 

"Kearifan lokal kita sarat dengan nilai gotong-royong," jelas Alumni Fakultas Ilmu Pemerintahan dan Ilmu Sosial (Fisip) Universitas Asyiariah Mandar ini. 

Anwar mengaku optimis, dengan nilai-nilai kearifan lokal tersebut, petani mampu didorong menciptakan kedaulatan pangan. Apalagi di Desa Amola, tempat Anwar bermukim, tradisi massiallo masih tetap dipertahankan hingga saat ini.

Tradisi leluhur yang sarat dengan nilai gotong-royong ini dijadikan Anwar sebagai sarana untuk mengajak petani di desa itu bersatu memajukan hasil bumi mereka. 

Bagi Anwar, mustahil memajukan petani, tanpa semangat massiallo, sebab hanya dengan cara ini, petani mampu bekerjasama, dan saling berbagi kebaikan diantara mereka.

Massiallo, kata Anwar, tak hanya berpotensi mencipatkan ikatan kekeluargaan yang kuat, tapi juga bisa menjadi spirit kebersamaan untuk menjalin kerjasama menyingkirkan segala permasalahan yang dihadapi petani di desa.

Sehingga dengan demikian, lanjut Anwar, bertani bukan lagi sesuatu yang terlihat sulit, melainkan sesuatu yang mudah dikerjakan karena ikatan kebersamaan tersebut.  "Ah…bertani memang keren," tutup Anwar.

Penulis: Harun Mangkulangit

(Pengiat Pertanian Alami Kabupaten Polewali Mandar)

Tag :

polman
  • 408 Dibaca