Bid ah


Kiai Muda Mahmud Suyuti
Ketua MATAN Sulsel

 

Hadis, Wasyarrul Umuri Muhdatsatuha wakullu bid'atin dhalalah ... (seburuk-buruk perkara adalah yang baru dan setiap yang baru adalah sesat, bid'ah...)

Tekstual hadis tersebut menyangkut keseluruhan (kullu) yang tidak ada contoh dari Nabi SAW terutama dalam hal persoalan ibadah. Contoh, khutbah jumat yang dicontohkan Nabi SAW berbahasa Arab, jika khutbah dengan berbahasa Indonesia, apalagi bahasa Bugis atau Makassar dan selainnya adalah bid'ah.

Kontekstual hadis itu harus digeneralisasi ke kaidah mafhum mukhalafah (analogika terbalik), setiap yang baru adalah sesat sehingga dipahami jika tidak sesat makan bukan bid'ah, setiap sesuatu yang jika tidak menyesatkan bukanlah bid'ah.

Berkhutbah dengan bahasa Indonesia tentu bukan hal yang sesat dan menyesatkan sehingga tidak masuk kategori bid'ah. Sebaliknya jika khatib menggunakan bahasa Arab boleh jadi jamaah tidak paham isi khutbah yang karena ketidakpahamnya justru bisa jadi menyesatkan jamaah dan karena kesesatanya dalam memahami khutbah, praktis itu adalah bid'ah.

Jamaah yang zikir berjamaah setelah salat tentu menambah kekhsyu'an mereka bukan bid'ah, dan karena zikir tersebut masih rangkaian salat berjamaah. Naif bila salat berjamaah dirangkai dengan zikir sendiri-sendiri. Kecuali jika salat sendiri tanpa berjamaah maka zikirnya pun tentu sendiri-sendiri.

Jika zikir berjamaah diklaim bid'ah karena menyesatkan yakni mengganggu kekhusyu'an bagi yang masbuk, maka antitesanya adalah kenapa anda masbuk ? atau seharusnya anda jangan masbuk !

Sebelum salat berjamaah, Nabi SAW memberi warning up, luruskan saf dan rapatkan demi kekhusyu'an salat. Untuk masa sekarang, boleh ditambah, dan "matikan handphoone" itu bukan bid'ah. Walau lurus dan rapat saf jika ada HP berdering diyakini dapat mengganggu kekhusyuan salat.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

  • 262 Dibaca