Komunitas Bissu Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan.

Bissu Sang Penjaga Adat yang Dipaksa Tobat


Seputarsulawesi.com, - “Ketika tengah hari itu cuaca gelap gulita, topan dan badai turun. Puang Matowa Bissu dari Lae-Lae, We Salareng dan We Apanglangi, kepada Bissu dari Ware dan Luwu, turun ke bawah bersama perlengkapannya, topan dan badai pun reda”. Kisah yang termuat dalam naskah La Galigo ini menyebutkan nama bissu, yang telah datang bersama tokoh-tokoh dari dunia langit menuju ke bumi. Ini menandakan, keberadaan bissu yang sudah sejak lama menghiasi peradaban di tanah Sulawesi Selatan.

Bissu dalam bahasa daerah Bugis berarti orang yang suci. “Nama Bissu, berakar dari kata “bessi” yang artinya suci. Bissu dikatakan suci karena tidak datang bulan, tidak berpayudara, dan tidak berdarah,” tulis Syamsurijal Ad’han dan Muh. Mabrur dalamMenjajakan Bissu: Siapa yang Untung? (Agama dan Kebudayaan; Pergulatan di Tengah Komunitas, 2010).

Komunitas Bissu dipimpin oleh seorang ketua yang bergelar Puang Matoa atau Puang Towa. Melansir Shrintil.org, Puang Matowa adalah figur feminim dengan wajah yang licin bak seorang kasim. Meski begitu, Bissu dari laki-laki berbeda dengan laki-laki yang keadaan jasmaninya abnormal. Umumnya para Bissu ini adalah wadam atau calabai.

Bissu mempunyai posisi penting dalam kebudayaan Bugis Pra Islam. Dalam sebuah kerajaan, Bissu dipercaya sebagai penasehat raja dan seluruh keluarganya, juga menjaga Arajang atau benda pusaka keramat. Selain itu, Bissu memiliki peran spiritual atau disebut pendeta. Di mana ia bertindak sebagai penghubung untuk berkomunikasi dengan pada dewata. Komunikasi mereka menggunakan bahasa tersendiri yang dianggap suci. Dalam bahasa daerah Bugis kuna disebut, basa Torilangi.

Basa Torilangi digunakan para Bissu dalam setiap upacara adat untuk berkomunikasi dengan dewa-dewa. Demi menyampaikan doa-doa, agar persembehan masyarakat dibalas dengan kemakmuran dan kesejahteraan. Para Bissu melalui doa-doanya, menghubungkan antara roh nenek moyang dengan keturunan mereka yang mendiami bumi. Sebelum islam datang, upacara yang melibatkan Bissu, sangat penting kedudukannya dalam masyarakat.

Komunitas Bissu, dulunya tersebar di berbagai penjuru wilayah Sulawesi Selatan. Sebagaimana dipaparkan oleh Syamsurijal dan Mabrur (2010), hal ini tidak lain karena Bissu telah menjadi bagian integral dari kosmologi masyarakat Bugis. Namun kini, komunitas Bissu hanya bisa dijumpai di beberapa daerah, misal di Soppeng, Luwu, Bone dan Polewali. Itu pun dalam jumlah yang sedikit dan terus menyusut. Satu wilayah yang masih memiliki komunitas Bissu dalam jumlah lebih banyak, terdapat di Segeri, Kabupaten Pangkep.

Keberadaan Bissu di wilayah Segeri, memiliki cerita tersendiri sebagaimana dituturkan oleh Puang Matowa Saidi (alm), yang dikutip dari shrintil.org. Bissu di wilayah Segeri, sebenarnya dulu berasal dari Bone. Salah satu versi cerita yang berkembang di Bone dan Segeri menyatakan bahwa suatu hari raja Bone sangat sedih karena bajak kebesaran Bone tiba-tiba lenyap secara misterius. Ini pertanda bahwa malapetakan kelaparan akan menimpa kerajaan Bone.

Sang Raja segera memerintahkan 40 orang Bissu mencari bajak keramat tersebut. Ia berpesan jangan kembali sebelum menemukan dan membawa pulang pusaka tersebut. Ternyata bajak keramat tersebut ditemukan di Segeri. Tetapi malang bagi para Bissu, sebab masyarakat Segeri tidak mau mengembalikan ke Bone. Karena takut kembali, para Bissu menetap di Segeri sambil menjaga bajak yang dikeramatkan sebagai Arajang hingga kini.

Sebagai komunitas yang masih mengemban risalah kebudayaan dan keyakinan bugis kuna, Bissu tak pernah lepas dari anggapan miring. Sejak Islam datang yang ‘mengecilkan’ peranan Bissu dalam masyarakat Bugis, hal ini diperparah oleh identitas gender mereka yang sering diperlakukan sebagai “yang lain”. Pada akhirnya, keberadaan komunitas Bissu, baik dari segi kuantitas kemudian terus menyusut, dan keberadaan mereka juga mulai tak dianggap lagi.

 

Operasi Mappatoba Karena Status Gender 'Yang Lain'

Bissu yang dulunya terhormat, pernah dan kini sedang berusaha dibabat. Mereka kian terpinggirkan dan sering mendapatkan cemohan dari masyarakat luas. Keberadaan komunitas Bissu kadang dianggap sebagai bukan bagian dari masyarakat, baik dari kalangan pemerintah hingga agamawan.

Syamsurijal dan Mabrur (2010) menggambarkan tekanan dan peminggiran paling keras yang dialami oleh komunitas Bissu adalah saat menjamurnya gerakan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) yang dipimpin oleh Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan, menganggap bahwa kegiatan para Bissu sebagai satu kegiatan yang menyekutukan Allah, sehingga layak untuk dibasmi.

Bagi komunitas Bissu, masa ini merupakan periode yang sangat kelam. Gerombolan DI/TII melakukan serangan terhadap komunitas Bissu. Menghancurkan peralatan-peralatan upacara adat yang dianggap sebagai berhala dan membunuh para Bissu yang tidak mau bertaubat. Banyak Bissu yang berhasil melarikan diri, tapi tak sedikit yang mati di tangan gerombolan.

Berakhirnya pemberontakan DI/TII di Sulawesi Selatan, juga tak membuat kehidupan para Bissu malah lebih baik. Pada awal-awal orde Baru, komunitas Bissu kembali mendapat tekanan dari negara. Akibat meletusnya peristiwa PKI pada 1965, pemerintah Orde Baru menganggap Bissu sebagai pendukung PKI. Pemerintah pun menggelar operasi yang dinamai Operasi Toba’ (operasi taubat).

Operasi ini membuat para Bissu kembali ketakutan. Peralatan upacara adat mereka, dihancurkan. Para Bissu juga ditangkapi dan dipaksa untuk berubah menjadi laki-laki. “Semasa Operasi Toba’ gencar dilakukan, upacara-upacara Bissu tidak lagi diselenggarakan secara besar-besaran. Para Bissu bersembunyi dari ancaman maut yang memburunya,” tulis Syamsurijal dan Mabrur (2010).

Akibat kejadian ini, nasib Bissu semakin tak menentu. Pun, jumlah mereka kian menyusut drastis. Halilintar Lathief dalam tulisannya berjudul Pudarnya Peran Bissu Bugis Kuno (2017), mengungkapkan tidak sedikit dari para Bissu yang beralih ke agama resmi. Penganut agama Bugis Kuno dan Komunitas Bissu menyusut. Tidak banyak lagi yang berminat menjadi Bissu. Menjadi Bissu bukannya menaikkan status sosial seperti yang terjadi pada waktu lampau, melainkan mendatangkan petaka.

Meski peristiwa itu telah berlangsung berpuluh tahun lalu, cemoohan bagi Bissu masih sering terdengar hingga kini. Bagi sebagian orang, terutama beberapa agamawan, Bissu adalah orang-orang yang menyalahi kodrat Tuhan dan melakukan tindakn yang musyrik. Hingga kemudian, malah ada yang men-cap Bissu sebagai kafir.

Namun, menurut temuan Syamsurijal dan Mabrur (2010), komunitas Bissu sebenarnya bukannya menolak islam secara mentah-mentah. Islam bagaimana pun merupakan tradisi yang juga turut membentuk budaya para Bissu dewasa ini. Bahkan sebagian Bissu turut melaksanakan ibadah haji, seperti yang telah dilakukan oleh Puang Matoa sebelum Puang Matoa Saidi.

Bahkan dalam berpakaian, kadang para Bissu mengenakan pakaian ala haji. Mereka juga bersorban dan memakai pakaian-putih-putih. Selain itu, lanjut Syamsurijal dan Mabrur (2010), dalam doa-doa, para Bissu meniru doa-doa islam namun tetap mencampurkan dengan doa tradisi Bissu. Mereka memang menyebut Nurung Muhammad, Puang Allah Ta’ala, sahaba’ nabi’e, namun bersamaan dengan itu mereka juga mengucapkan wali tujue, mula sawange, dan riahtanku yang merupakan bagian dari lokalitas komunitas Bissu.

Kini komunitas Bissu, semakin berkurang seperti kata Usman salah seorang Bissu asal Kecamatan Segeri Kabupaten Pangkep kepada tribunpangkep.com “Bissu sekarang susah dibentuk, mereka tidak ada yang bergabung karena takut dengan pelbagai ritual adatnya, padahal itu harus belajar dulu hingga mahir,” ujar Usmar, Selasa 12 September 2017.

Kegelisahan Usman bukan hanya terhadap semakin berkurangnya komunitas Bissu yang saat ini hanya tersisa tujuh dari 17 orang yang dulu dibentuk Wa Made dan Puang Matoa .Tetapi kegelisahan yang lainnya, Usman berharap agar pemerintah memikirkan aset budaya asal Segeri Kabupaten Pangkep tersebut bisa bertahan.

Tag :

  • 1428 Dibaca