Bunuh Diri di Sulbar, Ada Apa Sesungguhnya?


Seputarsulawesi.com, Makassar - Astrid (18) ditemukan tewas gantung diri di ruko orang tuanya, di Kompleks Pasar Baru Jl. Kemakmuran, Kec. Polewali, Polman pada Minggu (21/05/2017). Siswi SMAN 1 Polewali ini ditemukan tak bernyawa lagi oleh pamannya tergantung di bawah tangga menuju lantai dua di ruko itu. Warga sekitar geger dengan tewasnya Astrid.

Dugaan yang berkembang, Astrid bunuh diri dikarenakan motiv asmara. Benar atau tidak dugaan ini, yang jelas kasus Astrid ini bukanlah fenomena baru bunuh diri di kawasan Sulbar. Sejumlah kasus bunuh diri di provinsi Sulbar kerap terjadi beberapa tahun lampau.

Pada 4 Januari 2016 lalu, di Kelurahan Rimuku, Kecamatan Mamuju, Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat warga dihebohkan dengan penemuan mayat seorang pemuda atas nama Kuling (19), sekitar pukul 06.00 Wita. Kuling ditemukan tergantung dirumahnya, Puncak, Mamuju.

Mahasiswa Universitas Tomaka (Unika) Mamuju itu gantung diri dengan mengunakan tali pinggang di leher.

Nasib malang pung dialami gadis Fika (16). Siswi SMK Bina Bangsa di Polman ini nekat bunuh diri dengan cara gantung diri dan minum racun tikus, Jumat (29/1/2016) malam, tahun lalu. Di dalam kamar mandi di rumahnya, Jalan Semangka, Polman, Sulawesi Barat (Sulbar), ia ditemukan gantung diri. Motiv asmara pun ditengarai sebagai penyebabnya.

Pada September 2016 juga, seorang ibu rumah tangga berusia 40 tahun berupaya bunuh diri dengan menyertakan bayinya. Modusnya, dengan mencoba membuang dirinya di pantai Labuang, Kecamatan Pasangkayu, Kabupaten Mamuju Utara, Selasa (6/9/2016). Diduga, ia nekat mencoba bunuh diri depresi berat setelah mendengar kabar suaminya selingkuh dengan wanita lain. Untungnya, sejumlah warga sekitar menggagalkan niat buruk itu.

Pada Desember 2015 silam, paling naas dialami Bripka Ricky Ricrdo (23). Polisi muda yang baru dua tahun bertugas di Polres Mamuju itu tewas setelah menembak kepalanya sendiri dengan senjata rovolever miliknya pada 2/12/2015, pagi, sekira 10.45 Wita. Ia nekat mengakhiri hidupnya setelah berselisih dengan kekasihnya, seorang Polwan, Bripda Fitria (21). Sebelumnya, diatas Honda Brio, nomor polisi DC 37 RR, mantan ajudan Kapolres Mamuju ini cekcok dengan Bripda Fitria, saat mobil yang ditumpangi keduanya sedang berada di jalan KS. Tubun, Kota Mamuju.

Kebelakang lagi, pada September 2014 silam, Jamaluddin (38), warga Pasar Baru, Polewali Mandar, Sulawesi Barat, gantung diri. Ayah tiga anak ini ditemukan tewas tergantung di dalam rumah orangtuanya, Jumat petang (12/9/2014).

Jamaluddin pergi meninggalkan tiga orang anak dan seorang istri yang sedang hamil tujuh bulan. Kala itu, warga menduga, Jamaluddin menyudahi hidupnya lantaran tak kuasa menanggung penyakit yang dideritanya.

***

Begitulah rangkaian kasus bunuh diri di kawasan Sulbar. Sampai kini, belum ada analisis rasional yang dapat menjelaskan mengapa fenomena bunuh diri di Sulbar begitu marak. Oleh karena itu, membaca fenomena bunuh diri tetap mesti dilakukan agar kasus serupa dapat terhindarkan dimasa datang.

Lantas, mengapa orang bunuh diri? Dalam tinjauan Psikologi, Leenars (dalam Corr, Nabe, & Corr, 2003) mengidentifikasikan tiga bentuk penjelasan psikologi bunuh diri.

Penjelasan pertama didasarkan pada Freud yang menyatakan bahwa “suicide is murder turned around 180 degrees”, dimana dia mengaitkan antara bunuh diri dengan kehilangan seseorang atau objek yang diinginkan. Secara psikologis, individu yang beresiko melakukan bunuh diri mengidentifikasi dirinya dengan orang yang hilang tersebut.


Penjelasan kedua memandang masalah bunuh diri pada dasarnya adalah masalah kognitif. Pada pandangan ini, depresi merupakan faktor kontribusi yang sangat besar, yang khususnya diasosiasikan dengan hopelessness (kehilangan harapan).

Beck (dalam Pervine, 2005) memperkenalkan model kognitif depresi yang menenkankan
bahwa seseorang yang depresi secara sistematis salah menilai pengalaman sekarang dan masa lalunya. Model ini terdiri dari 3 pandangan negatif mengenai diri, dunia, dan masa depan. Dia memandang dirinya tidak berharga dan tidak berguna, memandang dunia menuntut terlalu banyak darinya, dan memandang masa depan itu suram. Ketika skema kognitif yang disfungsional (automatic thoughts) ini diaktifkan oleh kejadian hidup yang menekan, individu beresiko melakukan bunuh diri.

Penjelasan ketiga menyatakan bahwa perilaku bunuh diri itu dipelajari. Teori ini berpendapat bahwa sebagai seorang anak, individu suicidal belajar untuk tidak mengekspresikan agresi yang mengarah keluar dan sebaliknya membalikkan agresi tersebut menuju pada dirinya sendiri.

Sedangkan dalam pandangan agama, bunuh diri jelas sangat dilarang. Dalam pandangan Agama Islam sendiri, bunuh diri dianggap sebagai dosa besar. Seperti yang dikatakan dalam satu hadist Nabi Muhammad.

“Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka di neraka jahanam nanti besi itu selalu di
tangannya, ia menusuk­nusukkannya ke perutnya selama­lamanya. Dan barangsiapa bunuh
diri dengan minum racun, maka di neraka jahanam nanti ia akan terus meminumnya selamalamanya. Dan barangsiapa bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung, maka di
neraka jahanam nanti, ia akan menjatuhkan (dirinya) selama­lamanya.” (HR. Muslim, 109)

Begitupun yang ada dalam pandangan Agama Buddha, konsep ke-Tuhan-an dalam ajaran Buddha adalah Tuhan non-persona. Dengan demikian, tidak ada sosok pencipta maupun mahluk adi-kuasa ataupun Yang Menghakimi. Tuhan yang tak berkondisi menjadi tujuan akhir Umat Buddha yaitu Nibanna (keadaan tak berkondisi).

Rick Matthew dalam tulisan artikelnya di Kompasiana.com yang dipublish pada 20 Mei 2016, Ia mengatakan sehubungan dengan konsep ke-Tuhan-an di atas, dalam Ajaran Buddha tidak dikenal hukuman kekal bagi yang bunuh diri. Walaupun mengenal konsep kelahiran kembali, bunuh diri tetap tidak dibenarkan.

Walau jelas dilarang, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menemukan tindakan bunuh diri yang dianggap sebagai tindakan bodoh oleh kalangan masyarakat kita. Beberapa alasan orang melakukan tindakan bunuh diri berikut beberapa orang memilih alasan seseorang melakukan bunuh diri sehingga kasus bunuh masih sering terjadi.

Alasan-alasan tersebut seperti membela tanah air atau agama, tindakan terorisme, himpitan ekonomi, putus cinta (asmara), ganngguan kejiwaan, masalah sekolah, masalah keluarga, promblem pekerjaan, penyakit, kecanduan obat-obatan, bawaan genetik ataupun kondisi otaak.

Dari sekian banyak penyebab seseorang melakukan tindakan bunuh diri, tentu ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan yang dianggap sebagai jalan pintas untuk menyelesaikan persoalan.

Coba menjalin kontak dan mengenali pelaku bunuh diri dan menghargai pemikiran dengan tidak menyalahkan keputusan yang diambil merupakan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegah tindakan bunuh diri.

Secara umum tentunya masyarakat mempunyai tanggungjawab yang besar untuk mencegah tindakan bunuh diri. Masyarakat seharusnya menciptakan norma perilaku untuk membantu anggota masyarakat bertumbuh dengan cara yang positif, sehat dan merasa sejahtera.

Untuk mencegah semakin massifnya kasus bunuh diri di Sulbar, maka masyarakat dan pemerin di Sulbar mesti mendorong tumbuhnya pola berpikir positif, membangun kultur sehat dan memenuhi kesejahteraan warga. (Win)

Tag :

lipsus
  • 635 Dibaca