Cegah Radikal-Terorisme Perspektif Ilmu Audit


Kelompok teroris kembali menjadi dalang dari rentetan aksi bom bunuh diri yang dilakukan diberapa titik di Surabaya. Ledakan bom terjadi di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Ngagel. Kemudian bom juga meledak di dua gereja lainnya yaitu GKI Jalan Diponegoro dan Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

TKP pertama, yaitu Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel, jumlah korban meninggal dunia tujuh orang. Masing-masing dua adalah pelaku dan lima merupakan korban masyarakat. TKP kedua yakni GKI Jalan Diponegoro, jumlah korban meninggal dunia tiga pelaku ibu dan anak-anaknya. Sedangkan TKP ketiga Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno jumlah korban meninggal delapan orang yang terdiri 7 korban masyarakat dan 1 pelaku. Sehingga total korban meninggal dalam peristiwa terorisme penyerangan gereja sebanyak delapan belas orang. (Sumber: Kompas.com).

Setelah rentetan aksi bom bunuh diri di tiga Gereja di Surabaya, apakah bisa ditarik kesimpulan bahwa pemerintah gagal dalam penanggulangan terorisme?. Penulis kira bahwa yang membangun asumsi tersebut tidak melekat di dalam dadanya sikap nasionalisme. Sebab warga negara yang baik tidak hanya menikmati hidup dalam suatu negara, tapi juga perlu memberikan konstribusi positif terhadap negara. Termasuk mambangun simpati terhadap negara untuk memperkuat kesatuan bangsa. Hal tersebut bisa dimulai pada tingkat paling bawah seperti lingkungan keluaraga.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme Republik Indonesia (BNPT RI) yang merupakan representasi pemerintah dalam pencegahan terorisme tidak akan sanggup menangani sendiri kelompok terorisme di Indonesia. Meskipun telah menggandeng sebanyak tiga puluh enam kementerian dan lembaga dalam bekerjasama memhalau faham radikal-terorisme penulis kira hal tersebut belum cukup efektif untuk mengurai benang kusut terorisme di Indonesia. Sebab akar persoalannya adalah ideologi, sehingga pendekatannya harus berbasis akar rumput dan simultan. 
Artinya semua pihak harus turut berkonstribusi dalam pencegahan faham radikal-terorisme, mulai dari organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, pemuka agama, akademisi, praktisi, hingga lingkungan keluarga. Sekali lagi pemerintah tidak akan sanggup melakukannya sendiri tanpa kerjasama dari seluruh lapisan masyarakat.

Kembali kasus terorisme di Surabaya, setelah ditelusuri oleh pihak kepolisian ternyata pelaku berasal dari satu keluarga. Berdasarkan hasil penyelidikan yang dilakukan terungkap bahwa pelakunya adalah Dita Oepriarto bersama istrinya Puji Kuswati dan empat anaknya. Informasi dari kepolisian menyebutkan dua anak lelaki Dita yang yang beraksi di Gereja Santa Maria Tak Bercela, sementara istrinya Puji Kuswati dan kedua anak perempuannya meledakkan diri di GKI Jalan Diponegoro. Sedangkan Dita Oepriarto menyerang Gereja Pantekosta di Jalan Arjuno.

Mencermati kejadian bom di Surabaya yang dilakukan oleh satu keluarga, maka menurut penulis pengawasan terhadap ideologi teroris harus dilakukan mulai dari lingkungan keluarga. Hubungannya dengan audit bahwa perlu deteksi dini, khususnya dalam lingkungan keluarga mengenai faham yang telah meresahkan bangsa Indonesia. Audit dalam ilmu akuntansi adalah suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen, terhadap laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti pendukungnya, dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan tersebut (Sukrisno Agoes , 2004).

Jika penulis tarik dalam pencegahan faham radikal-terorisme dalam lingkungan keluarga bahwa audit adalah proses sitematis yang dilakukan oleh orang tua baik Bapak dan Ibu kepada anaknya atau sebaliknya anak kepada orang tuanya secara kritis tapi santun untuk mendeteksi secara dini faham radikal-terorisme yang kemungkinan bisa menyusup dalam lingkungan keluarga. Fungsi audit yaitu untuk menghalau virus tersebut agar tidak masuk dalam lingkungan keluarga. Baik yang ditularkan melalui kelompok dan orang tertentu, media sosial hingga referensi bacaan yang ekstrim.

Namun sebelum itu, perlu membangun kesadaran bahwa pentingnya mengenali ciri-ciri faham radikal-terorisme sebagai instrumen audit dalam mengawasi/mendeteksi ideologi tersebut dalam lingkungan keluarga. Sehingga mampu menarik sebuah kesimpulan bahwa anggota keluarga saya sedang terpapar faham radikal-terorisme atau tidak. 

Berdasarkan data yang dirilis tim redaksi Al-Ma’un berikut sembilan deteksi dini paparan radikalisme-terorisme (1) tidak upacara dan hormat bendera; (2) menutup diri dengan keluarga; (3) anti sosial; (4) suka membid’ahkan ibadah orang lain; (5) merasa paling benar dan gemar mengkafirkan; (6) intoleran kepada yang berbeda keyakinan; (7) membenci organisasi Islam mederat; (8) membenci ulama yang berbeda dengan mereka; (9) mendukung/afiliasi dengan organisasi ektrimisme;.

Setelah itu, bisa langsung kita terapkan dalam lingkungan keluarga untuk mendeteksi faham radikal-terorisme. Salah satu prosedur audit yang bisa digunakan ialah observasi dan diskusi. Misalnya, orang tua mengobservasi secara berkala keseharian anaknya, apa dan dengan siapa ia bergaul. Jika menemukan gejala seperti yang disebutkan di atas maka perlu observasi lebih dalam sehingga mampu menarik kesimpulan dan mencari solusi yang tepat jika positif terpapar. Prosedur audit lainnya yaitu diskusi dengan anak agar mampu mengenali lebih dalam mengenai pemahaman si anak.

Ilmu audit tidak hanya digunakan dalam pemeriksaan keuangan dalam suatu perusahaan. Namun, menurut penulis merupakan salah satu alternatif yang juga dapat digunakan dalam membina keluarga, termasuk dalam mendeteksi faham radikal-terorisme yang senantiasa mengintai anggota keluarga kita. Dari lingkungan keluarga akan sangat membantu peran pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran faham radikal-terorisme di Indonesia.

Penulis : Muhammad Aras Prabobowo
(Dosen Universitas Nahdatul Ulama Indonesia)

Tag :

aras-prabowo
  • 580 Dibaca