Chuduriah Dinilai sebagai Figur Penentu Kemenangan di Pilbup Polman


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Perhelatan Pemilihan Bupati (Pilbup) di Kabupaten Polman nampaknya makin seru dan gencar menjadi pembicaraan berbagai kalangan, tak terkecuali masyarakat lapisan bawah (rakyat). 

Selain soal calon Bupati, warga setempat juga ramai-ramai memperbincangkan figur atau sosok calon wakil bupati yang ideal di Pilkada Polman. 

Lambat laun, nama Rektor Unasman, Dr. Chuduriah Sahabuddin, M.Si pun mencuat dalam berbagai perbincangan tersebut. Dan bahkan putri Annaguru Prof. Dr. Sahabuddin ini diprediksi oleh beberapa kalangan akan menjadi penentu kalah-menangnya pasangan calon bupati Polman lima tahun ke depan.

Dosen Fakultas Keguruan Ilmu Penddikan (FKIP) Unasman, Mutmainnah, S.Pdi, M.Pd ditemui media, Selasa malam 28 November 2017 mengatakan, nama Chuduriah Sahabuddin semakin membesar di tengah masyarakat Polman. 

Menurutnya, sosok Chuduriah dinilai sebagai orang kuat, dan penentu kemenangan pilkada, bagi siapa saja calon bupati yang berpasangan dengannya. Pasalnya, doktor sosiologi  politik PPs-UNM ini, pada Pilkada Polman 2014 lalu mampu meraup dukungan 28.701 suara, atau 13,30 persen, dimana saat itu, Chuduriah maju sebagai wakil bupati berpasangan dengan Muh Asri Anas, yang saat ini menjabat sebagai anggota DPD RI. 

"Selain modal politik yang kuat, Chuduriah juga diprediksi satu-satunya balon wakil bupati perempuan, sehingga akan mendapat simpati sesama pemilih perempuan," tandas Ketua Prodi S1 Pendidikan Bahasa Indonesia, FKIP Unasman ini.

Tak hanya itu, perempuan yang dikenal sangat peduli gender ini, juga punya modal jaringan sosial yang kuat, civitas akademika kampus selaku Rektor Unasman. Jaringan alumni, mahasiswa, dosen dan pegawai yang menyebar ke seluruh pelosok Polman dan Sulbar.

"Chuduriah juga salah seorang anak kandung ulama yang sangat dihormati di Tanah Mandar,  Prof. Dr. H. Sahabuddin, yang mengajarkan kearifan tasauf Tarekat Qadiriyah," tegas kandidat doktor ilmu pendidikan PPs-UNM ini. 

Pengikut tarekat tersebut menyebar luas di seluruh lapisan masyarakat Polman dan dikenal sangat fanatik serta setia. Modal kultural itu, menurutnya semakin memberi kekuatan dukungan dengan beragam elemen di masyarakat.

"Chuduriah masuk dalam pusaran pertarungan politik, tidak lari kosong, tapi membawa sendiri kekuatan modal sosial dan kultural yang terbilang cukup besar dan kuat," katanya. 

Laporan: Yahya

  • 530 Dibaca