Di Pondok Ini, Semua Setara

Kisaha-kisah dari Pesantren (2)


Seputarsulawesi.com, Makassar- Pesantren Al Urwatul Wutsqa, tempat Usman menimba ilmu pengetahuan agama pada 1989 silam terletak di Kelurahan Benteng (dulu Desa Benteng), Kecamatan Baranti, Kabupaten Sidrap. Pesantren ini berdiri pada bulan April, 1974. Didirikan oleh seorang ulama kharismatik, KH. Abd. Muin Yusuf, atau Kali Sidenreng  (1920-2004) di atas lahan 8 hektare.

Sebelum mendirikan pesantren ini, tahun 1971, KH. Abd. Muin Yusuf aktif di Partai Nahdlatul Ulama. Dan tak lama kemudian, ia menjadi ketua tanfidziyah. Di bawah kepemimpinannya, NU berhasil tumbuh beserta badan otonominya, IPNU/IPPNU, GP Ansor, Fatayat NU. Pemilu 1971, ia tercatat sebagai anggota DPRD Sidrap dari partai NU. Di tahun 1980-an ia menjabat sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sulsel, selama dua periode (1985-1995).

Jarak pesantren ini kurang lebih 1 Km dari kota tua, Rappang, Sidrap. Pesantren Salafi ini cukup populer di kawasan Sidrap dan sekitarnya. Tak heran bila santrinya berasal dari berbagai kabupaten luar Sidrap, seperti Kabupaten Pinrang, Kota Parepare, Soppeng, Wajo, Luwu, Enrekang, Mamuju, bahkan dari Provinsi Kalimantan Timur. Di zaman itu, pesantren ini cukup tersohor. Setiap tahun di tahun 1980-an dan 1990-an, pesantren ini menerima ribuan santri.

Ada sekitar 70-an tenaga pendidik di pondok ini. Beberapa di antara mereka berstatus PNS (khususnya Depag), sebagian lainnya direkrut dari alumni pondok ini yang telah tammat S1 di Perguruan Tinggi agama (Islam) dan umum. Sebagian lagi juga alumni pondok ini yang sukses meraih gelar sarjana di Mesir bergelar LC. Kurikulumnya, memadukan kurikulum “petunjuk” Depag-Diknas dan kurikulum khas Pesantren Salafi.  

Tenaga pendidik berlatar belakang PNS digaji oleh pemerintah, sementara tenaga pendidik non-PNS diupah dari pembayaran sumbangan santri dan usaha produktif pondok. Di awal tahun 1990-an, pondok ini mengelola peternakan ayam ras petelur puluhan ribu ekor. Hasil usaha produktif ini, sebagiannya dialokasikan untuk membayar gaji pendidik (ustad/ustadzah) non-PNS.  

Di bulan Ramadhan, santri pondok ini mengemban misi terjun ke masyarakat menjadi Da’i di Masjid-masjid, khususnya di kawasan pelosok di beberapa kabupaten. Karena itu, sepekan sebelum bulan Ramadhan tiba, di pondok ini diadakan training khusus untuk membekali santri keterampilan ceramah agama. Trainernya adalah para senior yang duduk di tingkat Madrasah Aliyah atau alumni yang menempuh kuliah di Perguruan Tinggi.  Uniknya, metode ceramah yang diajarkan khas bahasa bugis. Jadi di sini, khasanah Islam dan lokalitas sangat mencolok.

Khasanah Islam dan lokalitas di pesantren ini memang cukup populer. Pendiri dan Pemimpin pesantren ini, almukarram KH. Abd. Muin Yusuf (Kali Sidenreng) dalam berdakwah di tengah masyarakat memang senantiasa menggunakan bahasa Bugis. Ia dikenal sebagai ulama yang mampu memadukan Islam dan lokalitas dalam menyampaikan pesan-pesan Islam. Bahkan, bukan hanya dalam berdakwah, dalam produksi teks keagamaanpun, khususnya tafsir Al Quran, Anregurutta Kali Sidenreng pun memadukan Islam dan lokalitas (Bugis). Buktinya, pada tahun 1985 ia memulai menulis tafsir Al Quran berbahasa Bugis. Pada tahun 1994, tafsir ini selesai dikerjakan.

Di pesantren yang diasuh Anregurutta Kali Sidenreng itu, Usman adalah satu di antara ribuan santri baru di penghujung tahun 80-an silam. Dan ia adalah salah satu dari ratusan santri berlatar belakang keluarga petani. Sebagian lainnya, adalah santri berlatar belakang anak pegawai negeri (PNS)/pejabat, anak pegawai swasta, hingga anak saudagar kaya.

Menariknya, walau beda latar belakang sosial, tetapi para santri di pondok ini menyatu seakan tiada beda. Syaiful, salah seorang rekan sekamar Usman adalah putra seorang Jaksa di Kota Parepare. Di kamar lainnya, ada pula putra seorang anggota DPRD kabupaten Pinrang. Di kamar lainnya lagi, ada pula putra seorang pemilik pompa bensin. Dan banyak lagi. Pokok kata, pesantren ini menghimpun putra-putri kaya dan miskin dalam satu ikatan “santri pondok pesantren Al Urwatul Wutsqaa”.

Di antara mereka, tak ada perbedaan mencolok. Mereka meniup nyawa di kamar yang sama, mereka mandi di sumur yang sama, mereka memasak di kamar yang sama, mereka belajar di kelas yang sama, mereka mengaji di Masjid yang sama, mereka bermain di lapangan yang sama, mereka sama-sama memiliki sarung, kopiah, dan mereka berak di WC yang sama.

Mereka pun sama-sama membayar uang sumbangan setiap bulan sebesar Rp. 6.000 saat itu. Besaran biaya sumbangan ini juga menunjukkan bahwa pesantren ini mengakomodir semua kalangan, tanpa membedakan kalangan tertentu, sebab biaya Rp. 6.000 itu relatif dapat dijangkau semua lapisan masyarakat.

“Santri di sini punya status yang setara, kami tak membeda-bedakannya”, ujar salah seorang ustadz pengasuh pondok ini dalam sebuah kesempatan upacara pagi.

Yang sedikit berbeda adalah “dapur umum”. Dapur umum ini adalah tempat santri menyantap makanan dengan sistem pembayaran per bulan. Harganya, Rp. 10.000 per santri untuk sebulan dengan frekwensi makan 3x per hari (pagi, siang, malam). Pengelola dapur umum ini adalah warga sekitar pesantren, bukan dikelola oleh managemen pesantren.

Harga yang terbilang murah itu, membuat pelanggan dapur umum ini bukan saja oleh santri berlatar belakang kaya, tetapi juga santri berlatar belakang anak petani pun mengaksesnya.  Tetapi, jumlah santri yang menjadi pelanggan dapur umum ini sangatlah kecil. Itupun tak selamanya  mereka terdaftar sebagai pelanggan dapur umum. “Ada yang hanya dua bulan, berhenti lagi”, ingat Usman.

Tetapi “dapur umum” ini menjadi berkah tersendiri bagi warga yang bermukim di sekitar pesantren.

Selain dapur umum, di sekitar pesantren ini sejumlah warga membuka usaha warung; warung makan dan warung campuran. Para santri berbelanja kebutuhan hari-hari di warung-warung ini. Ada yang menjajakan makanan, kue-kue, ada pula yang menjajakan barang campuran. Dan konsumen terbesarnya adalah para santri pesantren Al Urwatul Wutsqaa ini.

Dengan demikian, kehadiran pesantren ini benar-benar membawa berkah ekonomi bagi warga sekitar. Apalagi, ekonomi warga disekitar pesantren ini rerata tergolong kelas bawah. Sebagian besar penduduk di desa ini bekerja sebagai petani (penggrap dan pemiliki sawah). Sistem pertanian pun bergantung pada curah hujan, tak ada sarana irigasi. Sebagian yang lain bekerja sebagai buruh bangunan. Adapula yang bekerja sebagai buruh pabrik penggilingan padi yang terletak di desa sebelah. (Bersambung)

Baca Juga : Pesantren Al Urwatul Wutsqaa: Dari Kesetaraan, “Bengkel Manusia”, Hingga Asmara

Tim Redaksi

  • 345 Dibaca