Dr. Muhammad Nawawi Yahya Abdurrazaq, MA., Ulama dari Mandar Bereputasi Internasional


Oleh: Wajidi Sayadi

Ketua Komisi Fatwa MUI Kalimantan Barat 

Ulama dan tokoh Mandar Sulawesi Barat ini tidak banyak dikenal oleh masyarakat Mandar sendiri, sebab masa pengabdian dan hidupnya lebih banyak dihabiskan di luar negeri. Beliau berusia 53 tahun, dan 39 tahun usianya dihabiskan untuk belajar dan tinggal di luar negeri. Beliau pernah di Belanda, Mekah dan Madinah, terakhir menetap di Kairo Mesir hingga nikah dengan warga negara Mesir.

Namun wafat di kampung halaman tempat kelahirannya di Dusun Manjopai (Majapahit) Karama Tinambung Polewali Mandar tahun 1982. Beliaulah yang memberi nama Wajdi kepada penulis. Tahun 1969 ketika sempat pulang dari Kairo Mesir, Beliau berpesan kepada ayah saya (M. Sayadi) keponakannya, berilah nama puteramu dengan nama Muhammad Wajdi. 

Oleh kepala Madrasah Ibtidaiyah Bonde, ketika menulis nama di ijazah, kata "Muhammad" tidak ditulis, dan nama ayah saya "Sayadi" ditulis di belakang nama, jadilah sampai sekarang bernama Wajidi Sayadi.

Satu minggu sebelum wafat pada hari kamis, sempat shalat jumat bersama Beliau sebagai imam shalat jumat dan saya khatib jumat, ketika usia 14 tahun di Masjid Nurul Yaqin Kelurahan Pappang Campalagian. Pada sore jumat saya ikut bersama Beliau ke rumahnya di Manjopai. 

Beliau banyak memberikan nasehat dan motivasi, antara lain: Beliau mengatakan, Hei cucuku! Jangan pernah merasa malu dan minder, hanya karena ayahmu sudah tiada, karena Anda anak yatim. Ayah saya (M. Sayadi) wafat ketika saya berusia 8 tahun. 

Beliau mengatakan ketahuilah: ليس اليتيم ما لا اب له ولكن اليتيم ما لا علم ولا أدب له (Bukanlah anak yatim karena ayahnya sudah meninggal, akan tetapi anak yatim adalah orang yang tidak ada ilmu dan akhlaknya). 

Cucuku, rajinlah belajar dan selalu perbaiki akhlak. Ketika keluarga di Campalagian menawarkan kepada Beliau agar cucunya Nakda Wajdi ikut dibawa ke Mesir. Beliau menjawab, nantilah suatu saat nanti setelah selesai di IAIN, dia akan pergi ke Mesir. 

Ternyata ucapannya terbukti, tahun 2009 saya berkesempatan ke Kairo Mesir Program Short Course di Universitas Al-Azhar, Darul Ulum, Ainu Syam, Darul Ifta', dan lainnya. 

Saat itulah, saya mencari Disertasinya di sana. Alhamdulillah atas bantuan adik sepupu Dr. Abdillah Mandar yang saat itu sedang studi di Universitas Al-Azhar juga cucu dari Dr. Muhammad Nawawi Yahya, Disertasinya ditemukan di Wisma Indonesia di Kairo. 

Disertasi Dr. Muhammad Nawawi Yahya berjudul الزكاة والنظم الاجتماعية المعاصرة. Disertasi ini ditulis di atas kertas HVS berukuran 30 X 21 cm terdiri dari 6 jilid 3246 halaman.

Dr. Muhammad Nawawi Yahya Abdurrazaq lahir di Manjopai tahun 1929. Beliau dibesarkan dan dididik dalam lingkungan keluarga yang kental dengan tradisi dan ajaran agama Islam yang kuat.

Ayahnya adalah KH. Yahya Abdurrazaq imam (Qadhi) masjid Manjopai. Masa kecil dan remajanya dihabiskan di kampung halaman di Polewali Mandar. Riwayat pendidikan tingkat dasar dan menengah diselesaikan di Mandar. 

Muhammad Nawawi Yahya berangkat ke Kairo Mesir sesaat setelah peristiwa pembantaian oleh Westerling di Galung Lombok Mandar. 

Peristiwa ini populer di Sulawesi Selatan dengan nama Peristiwa Korban 40.000 jiwa khususnya di Galung Lombok Mandar tanggal 2 Pebruari 1947.

Dalam peristiwa pembantaian warga Mandar oleh Westerling ini selain korban tewas juga banyak tokoh dan pemuda Mandar ditangkap, termasuk di antaranya saudara kandungnya bernama Muhammad Zawawi Yahya ikut tertangkap, namun ia selamat lolos dari maut. 

Sehari setelah peristiwa Westerling di Galung Lombok Mandar, Muhammad Nawawi Yahya waktu itu umurnya 18 tahun segera tinggalkan Mandar menuju Sawitto Pinrang. Selanjutnya menuju Makassar. 

Mengingat perjalanan darat dari Mandar ke Makassar pada saat itu dalam situasi dan kondisi yang tidak aman sehingga memerlukan waktu beberapa hari hingga sampai di Makassar. Pada tahun itu juga, Beliau berhasil berangkat ke Kairo Mesir tahun 1947.  

Pendidikannya di Kairo Mesir mulai dari Madrasah Aliyah, S1, S2, hingga S3 di Universitas Al-Azhar. Sebelumnya pernah belajar di Mekah dan Madinah, dan juga pernah di Belanda. 

Program Doktornya di Fakultas Syariah wa al-Qanun selesai tahun 1980. Pada masanya, Dr. Muhammad Nawawi Yahya tercatat sebagai satu-satunya Doktor bidang Syariah wa al-Qanun dari Asia Tenggara. Karya monumentalnya berupa Disertasi 6 Jilid 3246 halaman.   

Tidak lama setelah menyelesaikan program Doktornya, bahkan Disertasnya yang saya temukan di Wisma Indonesia masih asli belum sempat diperbaiki. Beliau kembali ke Indonesia silaturrahmi dengan keluarga di kampung halamannya di Manjopai Polewali Mandar. 

Sekitar satu bulan di kampung halaman, Beliau wafat pada hari kamis dalam keadaan mendadak seusai shalat dhuha dalam posisi sedang memegang kitab kuning yang tipis dan mendekapkan di dadanya (saya tidak tahu nama kitab itu) pada tahun 1982 dalam usia 53 tahun. 

Jenazahnya dimakamkan di samping makam ayah dan ibunya di halaman masjid Manjopai Tinambung Polewali Mandar. إنا لله وإنا إليه راجعون   

Semoga pemberian nama sebagai doa dan harapan serta motivasinya selalu terpatri di hati dan terpelihara sepanjang hayat dan akan melanjutkan cita-cita dan harapannya. Semoga.

Jakarta, 20 Desember 2017
 

  • 792 Dibaca