Gambar/ youtube.com

Duka Lara Pasukan Ramang di Mattoanging


Seputarsulawesi.com, Makassar- Kekalahan memang pedih. Apalagi jika terjadi di kandang sendiri. Pun, lewat gol di menit akhir laga. Lebih tragisnya, harus rela menelan mimpi untuk meraih gelar juara. Begitulah yang menimpa PSM Makassar malam tadi, di Stadion Mattoanging, Senin, 6 November 2017. Menjamu salah satu penantang juara Bali United, Pasukan Ramang dipaksa menyerah dengan skor akhir 1-0.

Sepanjang laga, PSM begitu sangar. Pertahanan Bali United diberondong tembakan beruntun. Naas bagi PSM, Wawan Hendrawan tampil gahar. Kiper Bali United, beraksi bak spiderman. Melompat kesana kemari, jatuh bangun tanpa henti. Menyelamatkan gawang Laskar Tri Datu dari kengerian lini serang Pasukan Ramang.

Bali United bukannya tanpa peluang. Beberapa kali, Comvalius bersama Bachdim dan Lilipaly, mengacaukan pertahanan PSM Makassar. Bali United harus menunggu hingga masa injury time babak kedua. Lilipaly berhasil menuntaskan umpan mendatar Comvalius, dan berhasil menjebol gawang Rifky Mokodompit.

Selepas gol Lilipaly, sontak membuat gemuruh dukungan suporter sejenak terhenti. Berganti gerutu di dalam hati. Namun itu hanya terjadi sejenak. Gemuruh kembali menggema, tapi nadanya lantas berganti. Terdengar sayup-sayup kekecewaan dan makian kepada wasit. Tak lama kemudian, botol beterbangan ke dalam lapangan. Mengincar mereka yang jauh-jauh datang dari Bali, hanya untuk bermain sepakbola.

Kekacauan yang diakibatkan oleh sebagian penonton, membuat wasit kemudian menyudahi permainan. Sementara di tengah lapangan, para pemain PSM Makassar tertunduk lesu. Seakan tak percaya dengan apa yang sedang terjadi di hadapan mereka. Para pemain seolah tak kuasa menerima kenyataan. Hanya tangis, jadi ekspresi yang menggambarkan kekecewaan.

Publik Makassar tak pernah menyangka hal ini bakal terjadi. Padahal jauh hari sebelumnya, optimisme tinggi sudah digaung-gaungkan. Mulai dari official, para pemain, fans, hingga politisi lokal, ramai-ramai mengumbar kepercayaan diri yang tinggi. Prediksi kemenangan, mutlak bagi PSM. Selebihnya, hanya tebakan skor yang berbeda-beda.

Satu hari menjelang laga, Roberts Rene Alberts pun mengungkapkan rasa optimis demi kewajiban memenangkan laga ini. “PSM fokus menjelang pertandingan, karena wajib bagi kami untuk memenangkannya,” ungkapnya dalam sesi jumpa pers, Minggu 5 November 2017 di Hotel Same.

Namun, hal sebaliknya malah terjadi. Optimisme tinggal cerita. Prediksi tak ubahnya tebak-tebakan. Sepanjang 90 menit, Dewi Fortuna tak hinggap di kaki-kaki pemain tim Juku Eja. Meski permainan yang disuguhkan begitu dominan, tapi faktor keberuntungan begitu jauh dari Mattoanging.

Sialnya, kekalahan ini membuyarkan kadogelar juara di saat perayaan 102 tahun PSM Makassar, baru saja dilangsungkan 2 November kemarin. Kado itu, berganti jadi kecewa yang begitu dalam. Niatan mengulang kesuksesan meraih gelar juara Ligina musim 1999/2000, berakhir di kaki Stevano Lilipaly. Malam yang tak akan dilupakan ratusan ribu publik Makassar.

Sudah gagal, PSM Makassar juga terancam sanksi akibat kelakuan sebagian fans melakukan lemparan botol air mineral, ke bench official Bali United. Polisi dengan sigap mengamankan official dan pemain Bali United, hingga meninggalkan stadion. Bahkan, mereka sampai dibawa menggunakan mobil Baracuda milik kepolisian.

Duka lara di Mattoangin, bukanlah salah siapa-siapa. Tapi mungkin, belumlah rejeki bagi sang Ayam Jantan dari Timur. Dalam sepakbola, menguasai permainan tak menjamin kemenangan. Tren positif di kandang tanpa kekalahan, hanyalah hitungan statistik. Sepakbola itu bundar. Kemungkinan apapun bisa terjadi. Dan kemungkinan kalah, justru berada di sisi PSM Makassar.

  • 257 Dibaca