Ekspresi Keagamaan Pasca Reformasi


Seputarsulawesi.com, Makassar,- Dinamika keagamaan berkembang cukup pesat di Indonesia, pasca reformasi. Berbagai organisasi keagamaan baru, khususnya agama Islam, mulai banyak bermunculan. Kebanyakan dari kelompok keagamaan tersebut, adalah mereka yang ditekan kemunculannya pada masa orde baru. Era reformasi memberi angin segar bagi mereka di ruang publik.

Kemunculan berbagai ragam dan corak organisasi bisa dilihat dari berbagai bentuk, ada yang tampil sederhana, terbatas, dan ekslusif misalnya An-Nadzir, Al-qiyadah Al-Islamiyah, Qur'an Suci, Satrio Peningit, Gerakan Fajar Nusantara (GAFATAR), Penganut Al-Quran Sejati, Paruru, Hidzbuttahrir Indonesia (HTI), Wahdah Islamiyah (WI) dan kelompok-kelompok salafi. Ada yang tampil dalam bentuk ekspresif  seperti Front Pembela Islam (FPI), serta ada pula yang muncul dalam bentuk radikal seperti Majelis Mujahidin Indonesia dan Jamaah Islamiyah. Pasca reformasi juga membuat kelompok aliran yang sudah lama di Indonesia, kembali muncul di permukaan seperti Ahmadiyah, Syiah dan Lia Eden.  

Lester Kurts dan Peter. L Berger menganggap bahwa gerakan keagamaan alternatif muncul sebagai respon terhadap modernitas dan multikulturalisme. Sementara menurut Sartono (1973:5) agama baru sangat mungkin melihat kebudayaan status quo sebagai kondisi ketidaknormalan yang berkepanjangan dan terlalu jauh dari kultur ideal. Sehingga "agama baru" terdorong untuk melakukan gerakan dengan spritualitas. Kalau menggunakan analisa Koentjaraningrat, gerakan "agama baru"  dapat juga dilihat sebagai bentuk penarikan diri dari himpitan kesukaran hidup sehari-hari menuju sebuah dunia impian dan pengalaman batin suatu kerinduan pada masa silam (Sartono, 1973:126).

Sejalan dengan kemunculan ragam dan corak organisasi keagamaan ini muncul pula potensi konflik baru. Ekspresi yang beragam yang beragam itu muncul dalam titik yang berbeda, bahkan cenderung ekstrim. Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang dibentuk sebagai penengah justru memperuncing potensi konflik dengan membuat aturan yang menjadi batas suatu aliran tergolong sesat atau tidak.

Dari Sempalan Jadi Sesat
 
Istilah sesat menjadi populer di Indonesia untuk kelompok aliran keagamaan yang berbeda dengan aliran mainstream pasca reformasi,   
terutama setelah munculnya fatwa MUI tentang penyesatan Ahmadiyah tahun 2015. Kata sesat sangat cepat digunakan untuk menyebut kelompok yang mempraktekkan ajaran yang berbeda dengan kelompok keagamaan yang mainstream di Indonesia. Sebelum reformasi, kata sesat jarang digunakan.

Martin Van Bruynssen (1992) menyebutkan aliran keagamaan seperti Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, Mujahidin'nya Warsidi (Lampung), Syi'ah, Baha'i, Inkarus Sunnah, Darul Arqam (Malaysia), Jamaah Imran, gerakan Usroh, Aliran-lairan tasawwuf berpaham Wahdatul Wujud, Tarekat Mafarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah (Aceh) dianggap sempalan, bukan menyebut sesat.

Sempalan dan sesat dua-duanya bermakna pejoratif (dalam tradisi kekristenan disebut sekte). Kata ini menunjukkan adanya kelompok kecil yang memisahkan diri dari kelompok besar (mainstream) dan acapkali menjadi pengkritik terhadap kelompok besar, tetapi oleh kelompok besar mereka pahami sebagai sesuatu yang keliru, nakal dan keluar dari kebenaran.

Sehingga Martin Van Bruynssen memandang untuk mendefinisikan sempalan harus dimulai dengan mengenal siapa yang maistream. Ini penting karena defenisi "sempalan dan sesat" sangat terkait dengan batasan-batasan kebenaran yang diyakini oleh kelompok maisntream.

Peneliti Litbang Agama Makassar, Saprillah Sahril mengatakan dengan melihat kembali beberapa teori maka sampailah kita pada pemahaman  bahwa idiom sesat sejatinya adalah idiom sosiologis atau bahkan idiom politik. Karena ukuran sebenarnya sesat menjadi sangat tergantung pada siapa yang menguasai formasi wacana.

"Bahasa sederhananya, andai di negeri ini mayoritas dihuni oleh orang-orang syiah atau Ahmadiyah, maka tak mungkinlah ada yang berani mengeluarkan fatwa sesat atau sempalan kepada Syiah atau Ahmadiyah," kata Saprillah.

Jadi, istilah mainstream dan sempalan serta sesat dalam perspektif sosiologis adalah istilah relatih yang bisa saling bertukar dan tidak bersifat tetap.   

Sumber : Balitbang Agama Makassar Tahun 2017

  • 212 Dibaca