Fajar Terbenam di Pesantren

Cerita di Pesantren 1


Seputarsulawesi.com, Majene - Tahun 2012 silam ketika Aco telah menyelesaikan pendidikannya disalah satu sekolah menengah pertama yang terletak di Kecamatan Tubo Sendana, Kabupaten Majene. Ia sempat kebingungan akan melanjutkan kemana pendidikan selanjutnya. Saat fajar mulai menyingsing di ufuk barat ia masih berada di depan rumah samping jendela ruang tamu.

Tak pernah lepas dalam benaknya tentang kelanjutan sekolahnya, saat itu adzan magrib terdengar ia bergegas untuk melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim yaitu sholat namun, sholat yang ia lakukan hanya didalam rumahnya. Hal itu wajar karena Aco adalah anak kedua dari empat bersaudara yang agak malas mengerjakan sholat.

Bahkan orang tuanya sering berpesan “Nak Hanya Sholat Yang Bisa Menyelamatkan Kamu Jadi Jangan Pernah Tinggalkan”  namun Aco yang memang anaknya agak bandel sehingga pesan itu selalu ditiadakan. Hingga keesokan harinya saat kedua orang tua Aco membicarakan tentang kelanjutan pendidikan anaknya sehingga mereka mengambil keputusan untuk menyekolahkan Aco di salah satu Pesantren yang terletak di Kabupaten Polewali Mandar.

Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash nama pesantren yang akan di tempati Aco untuk menimbah ilmu pengetahuan selama tiga tahun. Pesantren ini terletak di Desa Lampoko Kecamatan Campalagian Kabupaten Polewali Mandar sekitar 28 KM menuju kota Kabupaten Polewali Mandar. warga sekitaran Pondok Pesantren ini didominasi oleh para petani hal itu ditandai dengan luasnya hamparan sawah yang subur mengelilingi lokasi pesantren ini yang luasnya kira-kira 12,5 Ha.

Setelah Aco menyanggupi keinginan kedua orang tuanya, tibalah saatnya Aco akan menuju tempat belajarnya selama tiga tahun yaitu, Pondok Pesantren Modern Al-Ikhlash. Sembari mengemas barang-barang yang akan ia bawa ke pondok air mata yang sedikit demi sedikit mulai terasa di ruangan yang berukuran 5x7 meter diikuti suasana yang haru.

Kedua orang tuanya serasa tidak cukup kuat untuk melepas anaknya belajar selama tiga tahun mondok. Tapi apa mau dikata hal itu akan tetap terjadi karena, keinginan orang tuanya sendiri menginginkan anaknya mondok di pesantren. Karena, mengingat juga dari empat bersaudara hanya Aco satu-satunya anak yang mondok di pesantren karena ketiga saudaranya hanya menempuh pendidikan di sekolah umum.

Aco mengemas barang-barangnya, satu per satu seperti, pakaian sholat, alat mandi dan beberapa lembar pakaian untuk dipakai sehari-hari. Setelah mengemas barang-barangnya Aco mulai beranjak menuju jalan poros untuk menunggu sebuah angkot (Pete-pete). Jarak dari rumah Aco menuju lokasi pesantren lumayan jauh berkisar 89 KM. Aco harus menaiki Pete-pete ­dua kali, Dari rumah Aco menuju Kota Majene dan dari Kota Majene menuju Kecamatan Campalagian. Untuk sampai ke pesantren Aco harus mengeluarkan uang yang sudah disisipkan oleh ibunya sebanyak Rp.15.000.

Selama 3 jam dari rumahnya menuju pesantren, tibalah Aco didepan pintu gerbang pesantren yang dipenuhi dengan serba-serbi berwarna hijau. Teman-teman Aco yang lainpun silih berganti berdatangan itu bukti bahwa, Aco akan menemukan teman baru. Saat dirinya memasuki gerbang pesantren ia menyempatkan dirinya untuk melihat daftar nama-nama yang lulus dan benar urutan nama Aco berada pada peringkat ketiga dari 97 santri yang mendaftar. Setalah itu Aco pun melihat persyaratan dan pembayaran untuk uang pembangunan pesantren, disitu tertulis bagi santri yang dinyatakan lulus harus melengkapi perlengkapan sehari-hari selama mondok dipesantren seperti, kasur yang berukuran 1 meter, Al-Qur’an, bantal dan sarungnya dan baju pondok yang seragam dipakai oleh semua santri baru.

Senja mulai nampak, panas matahari mulai tak terasa lagi dan gelappun mulai mendekati namun, Aco masih sibuk untuk mengurus perlengkapannya. Tiba-tiba suara dari Masjid mulai berbunyi itu artinya waktu sholat magrib sudah mulai tiba. Aco bergegas menuju ruang tamu tepat berada di samping belakang masjid untu bersiap-siap melaksanakan sholat namun, tiba-tiba suara dari belakang terdengar memanggil-manggil namanya, iya suara itu tak asing bagi Aco saat menoleh ke belakang ternyata suara itu datang dari sahabatnya waktu duduk di bangku SMP namanya, Umar.

Aco nampaknya menghilangkan raut wajah yang sedih karena, ternyata Umar sahabatnya itu juga pondok di pesantren yang sama. Lalu mereka berdua bersama-sama menuju masjid, saat Aco dan sahabatnya itu masuk ke masjid dan melihat semua santri di pondok itu duduk sambil melantunkan ayat suci Al-Qur’an.

Saat Aco duduk di sudut kiri masjid ia merenung dan mengingat suasana yang haru ini saat di kampung halamannya, tiba-tiba ia tak sadar mengeluarkan air mata karena suasana seperti ini akan tetap ia rasakan di pesantren yang masih asing baginya. Dan saat fajar mulai terbenam di pesantren maka saat itu pula perjalanan spiritual sekaligus perjalanan ilmu pengetahuan Aco pun dimulai.

Bersambung!!!

Kontributor: Fathullah Syahrul

Tag :

lipsus
  • 748 Dibaca