Marwah

Film Sang Kiai Antar Gadis Asal Bone Ini Raih Sarjana di UIN Alauddin


Seputarsulawesi.com, Makassar– Mahasiswi asal kabupaten Bone, Marwah (21) meraih gelar Sarjana Ilmu Komunikasi, di Jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Universitas Islam Negeri (UIN) Makassar, Kamis, 18 Desember 2017.

Marwah yang juga bergelut di Korps Puteri PMII ini mengangkat penelitian dengan judul skripsi ‘Nilai-nilai Nasionalisme dalam Film Sang Kiai’.

Skripsi yang menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes ini, diuji oleh Firdaus Muhammad, salah satu pengamat komunikasi politik di Sulsel, di samping penguji lainnya Andi Fadli, dengan pembimbing skripsi Abustani Ilyas, dan Muh Nur Latif.

Penelitiannya dilatar belakangi oleh maraknya, aksi sektarian, ekslusif dan dalam dikotomi Negara dan agama akhir-akhir ini. Keadaan Indonesia terkesan terpecah belah karena suatu perbedaan. Sementara para pendiri bangsa telah meramu dengan baik perjumpaan nasionalisme dan agama dalam satu tarikan nafas.

“Film Sang Kiai sangat menginspirasi zaman old dan zaman now, mestinya ini menjadi kajian dan riset kaum muda, dalam mendorong pertemuan agama dan Negara dengan sangat baik. Pendiri bangsa telah mencontohkan hal tersebut, terutama para ulama-ulama kiai," beber Marwah.

Tambah aktivis Komunitas Peduli Pemilu dan Demokrasi (KPPD) Sulsel ini. lembaga bentukan KPU Sulsel, menyampaikan film Sang Kiai tetap membawa pesan sangat berharga bagi bangsa Indonesia, yakni perlunya semua golongan, baik Islam, agama lain dan nasionalis dan seluruh komponen, bekerjasama untuk kemajuan bangsa. Bukan meruncingkan perbedaan.

“Dalam Film itu juga digambarkan Institusi pesantren sebagai lembaga pendidikan tradisional Islam di Indonesia, memiliki peran yang sangat penting dalam membangun gerakan yang bersifat keagamaan dan perjuangan bangsa. Kita bisa lihat sekarang bertapa banyak menteri di kabinet, berlatar belakang dari kalangan santri dan masyarakat pesantren,” jelas Marwah, yang meraih gelar sarjana sangat memuaskan tersebut.

Sang Kiai menjadikan pesantren sebagai tempat penguatan keilmuan dan basis kekuatan untuk melawan penjajah, maka nasionalisme kiai dan santri di lingkungan pesantren tumbuh dan semakin menguat.

Kiprah pesantren, ulama dan kiai dan Islam cukup besar dalam menanamkan 'Nasionalisme' Indonesia, karena para tokoh pergerakan nasional tidak dapat dilepaskan dari dunia pesantren.

Tag :

bone sulsel uin
  • 1551 Dibaca