Gizi Buruk


Penulis: Abdul Karim

(Peminat Masalah Sosial)

Kabar murung berkumandang dari arah barat pulau Sulawesi. Di Kabupaten Polman, provinsi Sulawesi Barat, dalam sepekan terakhir ini muncul satu persatu keadaan memilukan. Gizi buruk terkuak bagai penemuan sesuatu yang bersejarah. Abdul Rasyid, bayi malang asal Desa Galung Tulu, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman yang menderita gizi buruk dipulangkan dari RSU Wahidin Sudirohusodo, Makassar lantaran kedua orang tuanya tak punya uang membayar ongkos di rumah sakit plat merah itu. Dikampungnya, orang tua Abd Rasyid bekerja sebagai nelayan. 

Habis Abdul Rasyid terbitlah Nurmaya (12) bocah penderita gizi buruk asal Desa Poda-Poda, Kecamatan Tutar, Kabupaten Polman terpaksa dipulangkan dari RSUD Polewali lantaran tak punya biaya untuk melanjutkan pengobatan. 

Usai Nurmaya, terkuak pula bocah gizi buruk bernama Sofyan (2,5), warga Dusun Babalembang, Desa Pambusuang, Kecamatan Balanipa, Kabupaten Polman. 

Kabar buruk gizi buruk itu bagai bisul pecah ditengah ramainya ditelinga janji-janji kesejahteraan. Gizi buruk disana cukup subur bertumbuh laksana biji kacang yang ditanam di musim gerimis. Tentu kita tercengang dengan keadaan ini, sebab selama ini kabupaten Polman populer sebagai lumbung pangan di provinsi Sulbar, dan karena itu, Bumi Tipalayo ini dikenal sebagai penyanggah utama pangan di jazirah Mandar. 

Apalagi, wilayah bocah penderita gizi buruk itu tentulah area tanggungan negara. Bukan belantara tanpa negara. Disana, berdiri tegak pemerintahan yang dipilih oleh rakyat, termasuk orang tua dan karib kerabat bocah penderita gizi buruk itu. Mereka dipilih untuk melayani rakyat. Mereka dipilih untuk menyejahterahkan warga. Tetapi kemana pemerintah disana? Didunia mana merek berkelana?   Mengapa seolah layanan masyarakat dan penyejahteraannya terasa beku? 

Di kabupaten itupun kita tahu duduk berjejer puluhan wakil rakyat yang dipilih oleh rakyat termasuk pula karib kerabat bocah gizi buruk itu. Fatalnya, tak sekalipun wakil rakyat disana meresahkannya. Bahkan barangkali, sebagian diantara mereka tak mengetahui bila di pelosok sana ada bocah bernyawa tanpa gizi. 

Memang kita tak mengingkari doa, doa-doa tetaplah dipanjatkan untuk kesembuhan bocah dan bayi gizi buruk itu. Tetapi “takdir” demokrasi pemerintah dan wakil rakyat terang disebut dalam konstitusi bahwa mereka mutlak mengurus rakyat.

Tentu kita tak rumit menganalisis keadaan itu. Pertama-tama mesti diakui kasus gizi buruk yang subur itu adalah wujud nyata kelalaian pemerintah dan wakil rakyat setempat. Bisa pula kita duga kasus itu semacam pembiaran laksana membiarkan asap rokok berhembus dari mulut ditengah keramaian. Dapat pula disangka kasus gizi buruk itu diacuhkan seraya menanti kucuran bantuan dana jumbo untuk mengatasi hal-hal buruk dimasyarakat. Kalau yang terakhir ini benar adanya, maka kita baru tahu rupanya ada tepuk tangan yang bergemuruh ditengah menyeruaknya kasus gizi buruk yang pilu. 

Tetapi barangkali ada diantara kita meremehkan kasus pilu itu. Sebab saat ketiga bocah itu merintih dengan buruk gizi yang dideritanya, disudut lain di kabupaten subur itu terlahir ratusan bayi sehat dengan gizi memadai. Atau mungkin diantara kita tak pernah pusing dengan keadaan itu, sebab di saat yang sama ribuan bocah bertumbuh disana, berlarian kesana-kemari dengan tubuh stabil. Lagi pula, kasus gizi buruk itu tak kuasa menghalau pencairan gaji dan honor para abdi negara dan wakil rakyat disana. Persoalan itu lalu dianggap hal biasa saja. Bukan sesuatu yang patut dicemaskan. 

Namun, bila kita, pemerintah, dan wakil rakyat disana benar-benar tak mempersoalkannya, kita patut memeriksa kelengkapan anggota tubuh kita. Barangkali kita telah kehilangan hati. Dimana letak satu-satunya anugerah Tuhan yang mampu mencurahkan rasa itu? 

Hati kita beku, hati pemerintah beku dan hati wakil rakyat yang terhormat beku. Tetapi saat laga pilkada dan pileg sebulan lagi digelar, hati mereka mekar nan cair, tampak peduli dan sensitif. Padahal, seharusnya sepanjang waktu hati kita mestinya cair, harusnya sensitsif terhadap kasus gizi buruk dan kasus-kasus buruk lainnya. Bila tidak begitu, sungguh, kita tergolong mahluk buruk yang meniup nyawa ditengah semarak keburukan.

  • 513 Dibaca