Hamli: Negara Tak Bisa Sendiri Melawan Radikalisme dan Terorisme


Seputarsulawesi.com, Ambon- Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme, Brigjen. Pol. Ir. Hamli, M.E., mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia adalah negara besar. Sikap tak mudah diadu domba harus dirawat dan tumbuhkan, agar kedamaian yang sudah ada bisa dijaga. 

Hal itu disampaikan Hamli saat membuka kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme yang diselenggarakan BNPT dan 32 Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) se-Indonesia, Kamis 5 April 2018 di Kota Ambon, Maluku. 

"Ambon memiliki sejarah masa lalu yang harus kita jaga agar tidka lagi terulang. Indonesia adalah negara besar, demikian juga Ambon yang sangat beragam.  Karena itu kita jangan dengan mudah diadu domba," ungkap Hamli.

Ditegaskan pula oleh Hamli, Indonesia saat ini sudah sangat damai. Masyarakat diimbau untuk tidak mudah tergoda rayuan untuk menghadirkan kedamaian yang bersifat khayalan.

"Informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya jangan mudah diterima," tandasnya. 

Terkait kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dalam Menghadapi Radikalisme, Hamli mengajak agar juru penerangan bisa meluruskan penafsiran ayat-ayat kitab suci secara tekstual semata, yang tak jarang memicu lahirnya radikalisme dan aksi-aksi terorisme. 

"Dibutuhkan kehati-hatian dalam menafsirkan ayat kitab suci. Yang banyak terjadi sekarang ayat ditafsirkan secara tekstual, disebarkan secara lisan dan di media sosial. Ini yang mengakibatkan radikalisme dan harus kita hadapi bersama-sama," tegas Hamli. 

Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Maluku, Fesal Musaad, di kesempatan yang sama menegaskan radikalisme dan terorisme bukan budaya Indonesia yang disebutnya memiliki kearifan lokal sangat kaya. 

"Ajaran radikal dan teror tidak seharusnya kita biarkan tumbuh di Indonesia. Kenapa? Karena Indonesia kaya kearifan, kaya cinta kasih dan sikap saling menghormati," kata Fesal. 

Kementerian Agama disebut oleh Fesal sangat mengdukung kegiatan penguatan kapasitas penyuluh agama, karena sebagai bagian dari garda terdepan dalam penerangan ke masyarakat, tak semuanya memiliki kapasitan yang sama. Pihaknya menyampaikan ucapan terimakasih kepada BNPT atas kegiatan ini. 

"Dan yang tak kalah penting, keterlibatan penyuluh agama dalam pencegahan radikalisme dan terorisme sangatlah penting. Negara tidak bisa sendirian melawan radikalisme dan terorisme, keterlibatan penyuluh agama sangat dibutuhkan," tuntas Fesal. 

Kegiatan Penguatan Kapasitas Penyuluh Agama dilaksanakan oleh BNPT dan FKPT dengan menggandeng sejumlah pihak, antara lain Kementerian Agama, Indonesian Conference on Religion and Peace (ICRS) dan Indonesian Institute for Society and Enpowerment (INSEP). Output dari kegiatan ini adalah naskah dakwah yang dihasilkan oleh penyuluh agama, yang nantinya akan dibukukan dan disebarluaskan ke masyarakat. [shk/shk]

Tag :

bnpt radikal
  • 233 Dibaca