Hikayat "Bengkel Manusia"

Kisah-kisah dari Pesantren (3)


Seputarsulawesi.com, Makassar - Ditahun 1980-an silam, sebagaimana dituturkan Usman, pondok pesantren Al Urwatul Wutsqaa dibanjiri santri. “Setiap penerimaan santri baru, jumlahnya mencapai ribuan santri”, tutur Usman. Para orang tua, menyekolahkan anaknya di pesantren tersohor itu dengan berbagai macam alasan. Alasan-alasan itu dapat diidentifikasi dari perilaku sang anak yang didaftar sebagai santri disana.

baca juga: Pesantren Al Urwatul Wutsqaa: Dari Kesetaraan, “Bengkel Manusia”, Hingga Asmara

Ada yang menyekolahkan ankanya dipesantren itu dengan motiv agar sang anak kelak mampu menjadi ahli agama (Islam), dan pandai menceramahkan agama kepada masyarakat. Ada yang menyekolahkan anaknya karena ingin membiasakan sang anak hidup dalam kemandirian. Tetapi ada pula yang menyekolahkan anaknya lantaran agar sang anak tak “nakal” dan jauh dari pengaruh lingkungan buruk. Alasan terakhir ini seolah menjadi persepsi publik bahwasannya pesantren persis “bengkel manusia”—tempat menempa anak-anak dengan akhlaqul karimah, saleh, dan jauh dari perilaku moral negatif sebagaimana yang terjadi ditengah-tengah masyarakat saat itu.

Usman menceritakan, ada beberapa senior, atau seangkatannya, dan juniornya yang memang sedikit “nakal”. Nakal yang dimaksudkannya misalnya; tak mendengar kata-kata orang tua dirumah, terlibat pergaulan sosial yang mengkhawatirkan orang tua, atau malas sekolah.

Santri yang dianggap “nakal” seperti itu, menurut Usman biasanya sang orang tua mengkomunikasikannya pada ustad/guru pembina di pondok bahwa anaknya punya perilaku seperti itu sebelumnya. Para ustad/guru pembina dalam proses belajar-mengajarnya senantiasa memberi pengajaran yang tak membedakan mana santri yang berlatar belakang “nakal”, mana tidak.

Cuma saja, seringkali para ustad/guru pembina “kewalahan” menghadapi santri seperti ini. Sebab, biasanya mereka di awal-awal malas ikut belajar, entah itu belajar di kelas, atau mengaji di Musollah.

Dalam pandangan Usman, persepsi masyarakat tentang pesantren sebagai “bengkel manusia” menjadi tantangan bagi pesantren. Espektasi masyarakat tentang pesantren yang mampu merubah moralitas santri didik, dari “nakal” menjadi “alim” atau tak nakal menurutnya bukanlah pekerjaan ringan. “Tak cukup hanya dengan doa-doa untuk mereka”, katanya.

Mereka tak semata-mata perlu didoakan, tetapi mereka perlu dibentuk. Proses pembentukan ini tentu saja tak semudah mengunyah nasi sesuap. Butuh waktu panjang, bahkan kerap kali para ustad/guru pembina makan hati dibuatnya. Misalnya, santri yang bersangkutan mulai akrab dengan rokok. Di pesantren ini, santri dilarang merokok, tetapi sejumlah santri “nakal” tadi seringkali ditemukan mengisap tembakau walau secara sembunyi-sembunyi.

Santri yang ditemukan merokok, tak diberi hukuman berat, cukup dengan teguran-teguran oleh ustad/guru pembina. Mengapa begitu? Dalam amatan Usman, sebab untuk merubah perilaku santri haruslah dengan cara-cara halus. Apalagi, santri jenis “nakal”. Mereka tak bisa diubah dengan cara-cara kekerasan atau kasar. Sebab, Nabi mengajarkan untuk merubah kaum harus dengan cara-cara akhlak mulia.

Begitupun dengan santri yang malas ikut pengajian kitab di Musollah, atau malas ikut belajar di dalam kelas. Mereka diberi teguran-teguran khusus, tanpa dengan cara-cara kekerasan. Jarang sekali santri yang nakal disurati orang tuanya—sebagaimana sekolah-sekolah umum.

Bahkan, tak jarang santri yang dianggap nakal, dipanggil khusus oleh ustadz ke Musollah atau Aula untuk didoakan sembari ditiup ubun-ubunnya oleh sang ustadz agar santri bersangkutan berakhlaq baik kelak.

baca juga: Di Pondok Ini, Semua Setara

Itulah salah satu tantangan pesantren ini, ia seolah dintuntut menjadi “bengkel manusia”, lembaga pendidikan yang melahirkan generasi manusia berakhlaq baik ditengah segala keterbatasannya. (Bersambung)

Tim Redaksi

  • 336 Dibaca