Hikayat Panther Sebagai Penghubung Antarkota di Sulawesi Selatan


Seputarsulawesi.com - Di masa jaringan seluler, apalagi koneksi internet, belum menjangkau ke beberapa daerah. Surat adalah satu-satunya cara untuk berkabar. Surat yang ditujukan untuk orang tua dari ananda, yang sedang belajar atau bekerja di ibukota provinsi, bukan dikirim via pos.

Akses pos masih kurang, ditambah biaya yang tak bisa dijangkau oleh para pelajar jadi pertimbangan. Makanya, cara mengirim termudah dengan biaya yang murah saat itu, dengan menggunakan jasa angkutan antarkota.

Surat pada orang tua, yang dibalas dengan kiriman biaya sekolah dan beberapa hasil pertanian, dikirim kembali ke ibukota provinsi via angkutan antarkota tersebut. Adanya angkutan antarkota, begitu memudahkan para perantau (baca: pelajar dan pekerja), untuk berhubungan dengan sanak saudara di daerah. Angkutan kota juga sangat berguna, saat mendekati mudik libur kuliah dan libur lebaran.

Moda transportasi darat yang paling terkenal hingga ke pelosok desa, adalah Panther. Di Sulawesi Selatan, Bus tak begitu terkenal, apalagi kereta api. Yang terakhir, bahkan belum ada sama sekali. Sampai sekarang relnya masih dalam tahap pengerjaan. Itupun, sekadar menghubungkan beberapa kota, dengan mementingkan faktor percepatan ekonomi.

Pada medio awal 90an, pabrik mobil asal Jepang, Isuzu, merilis generasi pertama Isuzu Panther di Indonesia. Mobil dengan kualifikasi MPV atau disebut mobil keluarga, memiliki kapasitas  maksimal 10 orang. Seperti di lansir dari situs otonity.com, mobil ini memiliki mesin yang bertenaga 2238cc.

Dengan kapasitas mesin seperti itu, tentu sangat andal bila berkendara dengan jarak yang jauh. Kemunculan panther, berhasil memikat beberapa orang yang berniat menyediakan jasa angkutan dari daerah ke ibukota provinsi.

Syukur, seorang sopir asal Bulukumba, menggunakan panther generasi pertama sejak 1996 hingga akhir tahun 2011. Kini, ia menggunakan Toyota Rush untuk angkutan dari Bulukuma menuju Makassar, karena kondisi panther yang ia miliki sudah mengalami penurunan performa.

“Sejak 90an saya mulai pakai itu mobil untuk angkut penumpang, pulang bale’ Bulukumba-Makassar. Cuman banyak mi rusaknya, jadi saya parkir mi di rumah saja sekarang. Sekarang, mobil Rush mi saya pakai.” kata Syukur kepada seputarsulawesi beberapa pekan lalu, Jumat, 28 Juli 2017.

Penggunaan Panther untuk angkutan ke ibukota, tersebar ke pelbagai daerah di Sulawesi Selatan. Daerah yang bisa dijangkau dengan durasi 4-6 per jam, dari kota Makassar, lebih banyak dihubungkan oleh transportasi darat satu ini. Sekarang, di beberapa daerah yang waktu tempuh lebih dari enam jam, bus adalah yang populer.

Dengan durasi hingga enam jam, para sopir Panther, bisa kembali lagi ke Kota Makassar dalam satu hari. Ada yang berangkat pagi dari daerah, dan bisa kembali pulang di malam hari. Ada pula yang berangkat sore, dan pagi hari mengangkut penumpang kembali ke daerah.

Sejak kemunculan generasi Toyota Kijang pada pertengahan 90an, dengan performa mesin dan kapasitas penumpang yang sama, semakin banyak bermunculan penyedia jasa angkutan ke Kota Makassar. Apalagi saat ini, mobil Toyota Avanza sekalipun, telah beralih fungsi sebagai mobil angkutan. Kepopuleran Toyota yang meningkat pesat, membuat jumlah pengguna Panther agak menurun belakangan ini.

Tetapi, di beberapa daerah, nama Panther tetap melekat dalam pikiran. Mau merek mobil angkutannya Kijang, Avanza, Xenia, atau Honda sekalipun, akan tetap disebut Panther. Penyebutan panther bisa dianggap sebagai metonimia.

Dalam kajian linguistik, metonimia adalah semacam hubungan kemaknaan. Metonimia merupakan sebutan pengganti sebuah objek atau perbuatan dengan atribut yang melekat pada objek atau perbuatan yang bersangkutan.

Dengan durasi berkendara hingga 14 jam, sopir Panther tetap punya dedikasi dan pelayanan tinggi kepada penumpang. Kelelahan adalah hal biasa, dan penumpang tetap harus dilayani sebaik-baiknya. Mobil Panther hanya mengangkut penumpang yang sudah memesan terlebih dahulu. Mereka akan siap sedia menjemput penumpang di depan rumah masing-masing dan mengantar sampai tujuan.

Pekerjaan para sopir bisa tiap hari tanpa jeda. Kecuali pada hari-hari tertentu, semisal hari raya atau ada kepentingan keluarga.

Keberadaan angkutan Panther, sangat menunjang hubungan antarkota di Sulawesi Selatan. Angkutan ini yang telah membantu banyak pelajar yang sedang melanjutkan pendidikan di Kota Makassar. Di saat transportasi belum mampu dikelola dengan baik oleh pemerintah, mereka berinisiatif sendiri membuka ladang penghasilan.

Meski demikian, Panther yang dulu populer, kini mesti berhadapan dengan mobil-mobil pribadi yang dimiliki langganannya dahulu.

Orang-orang yang punya penghasilan lebih dan tak ingin bersempit-sempit di dalam mobil penumpang, lebih memilih mengkredit mobil pribadi. Bayang-bayang kehilangan penumpang semakin besar. Tetapi, Panther atau yang sekarang lebih banyak dikenal sebagai mobil sewa, tak akan berhenti berlari. Karena Panther, adalah pelayan terbaik yang akan mengantar sampai di depan pintu rumah.

 

Penulis: Andi Ilham Badawi

  • 213 Dibaca