HSN dan Nasionalisme Kaum Santri


Seputarsulawesi.com, Barru - Hari Santri Nasional (HSN) yang jatuh pada tanggal 22 Oktober atau bertepatan dengan keluarnya fatwa Resolusi Jihad oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama (NU) dikenang sebagai hari bersejarah di bangsa ini.

Fatwa yang dikeluarkan oleh Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari saat itu mampu "membakar" semangat kaum santri  untuk melakukan perlawanan terhadap para penjajah. Semangat Resolusi Jihad NU itu, sampai saat ini masih terus diperinganti.

Hal tersebut terbukti dengan adanya beberapa rangkaian kegiatan dari kalangan kyai dan santri untuk memeriahkan peringat Hari Santri Nasional di setiap Pondok Pesantren, tak terkecuali pondok pesantren di Sulawesi Selatan. Salah satunya adalah, Pondok Pesantren Al-Ikhlas Addary, Darul Da'kwah Wal Irsyad (DDI) Takkalasi, Kabupaten Barru.

Baca juga:

Pondok Pesantren yang dipimpin oleh Drs. Kiai Mansyur Mustafa ini, selain menggelar porseni kepesantrenan, zikir, dan upacara HSN, juga menggelar pawai yang dirangkaikan dengan lantunan shalawat nariyah.

“Peringatan HSN ini adalah bentuk apresiasi pemerintah atas perjuangan para ulama dan santri untuk membela tanah air dari penjajah,” ungkap Juhri Bungas, salah seorang pembina Ponpes DDI Takkalasi, Senin, 23 September 2017. 

Menurutnya, dengan adanya peringatan hari santri itu, generasi- generasi selanjutnya tidak akan lupa sejarah dan akan menghormati serta memelihara keutuhan NKRI. Sehingga anggapan yang mengatakan, pesantren adalah sarang teroris menjadi tidak terbukti kebenarannya.

"Inilah nasionalisme kaum santri," kata Juhri Bungas.

  • 370 Dibaca