Anangguru Hudaeda (Sumber FB; Busyirah)

Hudaeda, Sosok Ulama Langka di Tanah Mandar


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Kepergian Anangguru Hudaedah atau yang akrab disapa Nungguru Edda ke pangkuan Ilahi, Jumat 7 Desember 2017 telah meyisahkan duka mendalam bagi segenap warga Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar. 

Bagi warga Bonde, Nungguru Edda tak hanya dikenal sebagai sosok perempuan yang tawadhu, tapi juga keberadaanya terbilang langka di Tanah Mandar. Ia tak hanya dikenal sebagai ulama yang mahir membaca kitab kuning, tapi juga dikenal sebagai sosok ulama yang begitu tulus dalam mengajarkan ilmu agama.

Meski demikian, Nungguru Edda tak pernah mengaku sebagai seorang guru, karena saat mengajar, dirinya mengaku sedang belajar, dan bahkan dalam setiap pertemuan, ia kerap mengakui dirinya sebagai orang bodoh.  

"Saya ini tidak mengajar, tapi sedang belajar, saya hanya orang bodoh, tapi karena barakka (berkah) dari Nunggurutta hingga saya bisa seperti ini," ungkap Dr. Wajidi Sayadi, menirukan ucapan Nungguru Edda.  

Lebih lanjut, santri Nungguru Edda ini mengatakan, semasa hidupnya, perempuan kelahiran Bonde itu juga dikenal konsisten melayani santri-santri yang datang "mengaji tudang" atau mengaji sorogan dengan membawa berbagai macam kitab klasik di kediamannya di Jalan Ulama, Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar.  

Adapun kitab-kitab yang dianjarkan,diantaranya Natan dan Sarh Ajurumiyah, Safinatun Naja, Kasyufatus Saja, Fath al Qarib, Tanqih al Qaul, Ta'lim al Muta'allim, Tafsir al Jalalain, Tanwir al Qulub, Mau'izhatul Mu'mini dan Durratun Nashihin. Selain itu, murid dari KH. Muhammad Zein ini juga mengajarkan tata bahasa arab (nahwu-sharof) bagi santri-santri pemula.   

"Saya cukup lama belajar kepada beliau, baik di Madrasah Diniyah maupun di rumahnya secara sorogan tentang ilmu Sharaf Galaffo, syarh Ajurumiyah, Tanqihul Qaul dan  Irsyadul' Ibad ila Sabilil ar- Rasyad," tutur Ketua Komisi Fatwa MUI Kalimantan Barat ini.

Dalam mengajar, Nungguru Edda, kata Wajidi tidak menjelaskan isi kitab secara panjang lebar. Ia hanya membaca dan menerjemahkan secara literal atau apa adanya, dan itu dilakukan secara terus-nenerus, karena yang terpenting baginya adalah barakka.

Pengabdian 

Nungguru Edda lahir dari keluarga sederhana. Ayahnya bernama Launa, sementara ibunya bernama Sitti. Setelah Nungguru Edda menyelesaikan Pendidikan formal di Sekolah Rakyat (SR) selama tiga tahun, ia pun diminta oleh kedua orang tuanya untuk belajar agama, dan mengabdi kepada salah seorang ulama bernama KH. Muhammad Zein.

Bagi KH. Muhamnad Zein, Nungguru Edda tak hanya dianggap sebagai murid, tapi juga sebagai keluarga sendiri. Dari situlah kemudian Nungguru Edda tumbuh menjadi sosok manusia pembelajar dan cinta akan ilmu agama.

Kesetiaan dan pegabdian Nungguru Edda kepada gurunya, diyakini menjadi sebuah hidayah akan hadirnya ilmu pengetahuan agama dalam dirinya. 

Konon, Nungguru  Edda tak pernah menuntut ilmu secara langsung. Dia hanya tinggal di rumah sang guru, dan terus membantunya. Hingga suatu waktu, dia bermimpi ketemu Imam Syafi’i, dan sejak saat itu, dia memiliki pengetahuan yang amat luas tentang agama. 

Baginya, mencintai ulama akan melapangkan jalan menuju hidayah, dan itulah yang disebutnya sebagai barakka. Barakka itu tak dinimatinya sendiri, tapi juga dibagikan ke yang lain, agar bisa mendatang kebaikan bagi semua orang, tak terkecuali santri-santri yang datang berguru kepadanya. 

Suasana saat pemakaman Nungguru Edda (Foto: Busyirah)

Kepergian Nungguru Edda, tentunya tak hanya meyisakan duka, tapi juga kenangan, ketawadhuan dan keserdehanaan hidup bagi warga dan santri-santrinya. 

Diusia 76 tahun, Nungguru Edda pergi bersama ilmu yang dimilikinya. Ribuan santri dan warga terlihat hadir guna mengantar jenazah perempuan kelahiran tahun 1941 ini ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

  • 2745 Dibaca