Nua Afia, Pendamping Lokal Desa Terbaik di Bulukumba

Ibu Dua Anak Ini Pendamping Desa Terbaik di Bulukumba


Seputarsulawesi.com, Bulukumba- Nur Afia menjadi perbincangan di Kabupaten Bulukumba. Ibu Dua anak ini terpilih sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) terbaik di Kabupaten Bulukumba. Bahkan perempuan kelahiran 17 Agustus 1975 di Desa Salassae Kecamatan Bulukumpa ini akan ikut dalam ajang seleksi PLD teladan Sulsel 2017 yang diselenggarakan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) Provinsi Sulsel.

Sejak 2015, Nur Afia mengemban tugas sebagai PLD di Kecamatan Bulukumpa, Kabupaten Bulukumba. Sejak itu, ia harus mendampingi empat desa di antaranya Desa Kambuno, Desa Tibong, Desa Balang Pesoang dan Desa Barugae dengan kondisi geografis yang menantang.

Meski keempat desa dampingannya berada di daerah terpencil tepatnya di perbatasan Kabupaten Sinjai dengan jarak tempuh 50 Kilometer dari desa satu ke dasa yang lain tak menyurutkan semangatnya untuk mengunjungi desa dampingannya. Terkadang ia harus berangkat malam hari ketika ia dibutuhkan di desa dampingannya.

"Profesi itu harus dinikmati," katanya kepada Seputarsulawesi.com, Kamis, 10 Agustus 2017.

Dalam kesehariannya Nur Afia adalah seorang ibu rumah tangga yang tidak pernah mengabaikan keluarganya. Baginya keluarga berperan penting sebagai penyemangat dalam menjalankan kewajibannya sebagai PLD yang selalu siap kapanpun dibutuhkan. Suaminya Asdar Gani serta kedua anaknya Alifia Oktavia A.Gani dan Muammar A.Gani, sadar betul peran dan tugas Nur Afia sebagai pendamping desa.

Pengalaman dalam  program pemberdayaan sebagai ketua kelompok Simpan Pinjam Perempuan (SPP) Seruni menjadikannya sosok pribadi yang luwes dalam berkomunikasi dan pandai bergaul sehingga ia mudah diterima masyarakat desa dampingannya.

Keberhasilan Nur Afia sehingga terpilih sebagai Pendamping Lokal Desa (PLD) terbaik di Bulukumba karena mampu menjadikan desa dampingannya mandiri secara administrasi pemerintah dan dalam pengelolaan keuangan. Ia mampu menyadarkan masyarakat dampingannya untuk berupaya mewujudkan kemandirian desa.

"Saya coba yakinkan masyarakat, seperti saya yakinkan diri saya sebagai pendamping masyarakat. Itulah strategi saya," katannya.

Ia juga selalu berupaya mengasah diri agar setiap fasilitas yang diberikan kepada desa digunakan untuk kepentingan desa yang di dampingi.

 

"Mereka kadang sesungguhnya tidak tertarik dengan kepentingan mereka sendiri dan saya selalu berusaha untuk meyakinkan itu.
Selalu berusaha mencari cara yang paling sederhana dan mudah menyelesaikan permasalahan desa. Sehingga masyarakat yakin kedatangan PLD untuk memberikan kemudahan bagi desa bukan malah sebaliknya." Tambahnya.
 
Kepada Seputarsulawesi.com, Nur Afia berbagi tips keberhasilannya sebagai PLD teladan di Bulukumba;

1. Dengan banyaknya regulasi yang harus dipahami. Seorang PLD selalu berusaha memakai aturan dengan melakukan diskusi kepada  PDP di tingkat kecamatan dan TA di tingkat kabupaten. Karena tidak mungkin regulasi dibuat untuk menyulitkan desa. Dengan memahami regulasi yang ada dengan sendirinya seorang PLD mampu mengawal dan menjelaskan kepada desa dampingan dengan cara yang sederhana dan mudah dipahami pula.

2. Seorang PLD harus mampu menemukan dan mengikuti potensi desa dampingan khususnya aparat desa maupun lembaga yang ada sehingga motor penggerak desa mudah ditemukan.

3. Seorang PLD harus mampu memposisikan diri sebagai pendamping yang mendampingi desa sehingga ada keterbukaan. Dengan demikian memudahkan untuk menyampaikan rencana-rencana kerja yang akan dilakukan di desa dampingan.

4. Seorang PLD harus lebih banyak memberikan contoh terhadap desa dampingan bahwa pasti bisa berbuat yang lebih baik.

5. Memberikan motivasi kepada desa dampingan dengan mengolah dan menyediakan data sedemikian rupa agar mereka terdorong untuk saling berkompetisi.

Langkah inilah yang dilakukan Nur Afia sehingga desa dampingannya, Desa Balang Pesoang bisa mewakili Kabupaten Bulukumba ikut lomba desa silat tingkat Provinsi Sulsel dan Desa Kambuno yang mewakili kabupaten sehat ke tingkat Provinsi Sulsel.

Terlepas dari cara-cara sederhana itu, Nur Afia melanjutkan bahwa yang tidak kalah pentingnya adalah membangun komitmen bersama teman-teman antar sesama pendamping desa di tingkat kecamatan.

"Selain itu, pola pendampingan yang dilakukan tidak hanya melalui jalur formal, sekali-kali bimbingan yang dilakukan melalui jalur nonformal dengan diskusi bebas." Kata Nur Afia.

 

  • 667 Dibaca