Identitas dan Refleksi Sumpah Pemuda


Kisah kaum muda terdahulu bukanlah cerita dongeng atau cerita fiktif belaka. Mereka adalah manusia biasa, akan tetapi nyata dalam gerakan. Mereka mampu mengukir prestasi gemilang di masanya.

Identitas sebagai pemuda telah tertanam dalam jiwa dan raga mereka serta menjadi inspirasi gerakan, dan itu teruji dengan lahirnya semangat patriotisme yang mampu mewujudkan cita-cita kemerdekaan bangsa ini.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kalangan pemuda bangsa saat itu mampu menciptakan sejarah baru, dibuktikan dengan lahirnya sumpah pemuda. Tentu hal ini merupakan prestasi yang luar biasa.

Pertanyaanya kemudian, apakah kita sanggup melanjutkan perjuangan tersebut? Tentu jawabannya sangat bergantung pada kesadaran dan kesediaan kita.

Refleksi

Peristiwa sumpah pemuda pada 1928 menjadi titik balik sejarah tentang hasrat untuk menyiapkan kemerdekaan. Peristiwa menjadi embrio jejaring pemuda antaretnis dan geografis, sehingga mampu memproduksi energi anak-anak bangsa untuk menyongsong kemerdekaan pada 1945.

Tentu rangkaian sejarah paruh pertama abad ke XX yang berpengaruh penting dalam historiografi Indonesia. Momentum sumpah pemuda mengingatkan kita tentang subtansi persatuan dan kecintaan terhadap tanah air.

Interaksi antarkomunitas dengan formula bahasa yang dijadikan sebagai roh sumpah pemuda, dalam konteks ini menemukan ruang refleksi sebagai performa kepemimpinan di tengah krisis kemanusiaan, yang merupakan dampak dari persaingan global, perebutan kekuasaan, kontestasi ideologi maupun langkah politik yang hanya mencari dan menetapkan kepentingan yang kemudian berdampak pada kebijakan publik.

Persoalan kepemudaan tak sekadar hadir dalam gerakan-gerakan ambisi semata, maupun kepuasan terhadap tuntutan, akan tetapi ia mampu menciptakan sebuah langkah-langkah strategis yang mampu memberikan solusi dari setiap permasalahan yang dihadapi bangsa ini.

Pemuda hadir sebagai pemikir dan penggerak perubahan. Dalam konteks ini, pemuda tak sekadar menjadi figur bagi dirinya sendiri, apalagi menjadi pemicu konflik, melainkan ia menjadi oase di tengah kegersangan nilai-nilai kemanusiaan, kesenjangan sosial, ekonomi, politik dan budaya.

Olehnya itu, visi gerakan kaum muda yang berpijak pada nilai-nilai humanis sangat penting untuk diwujudkan, demi tegaknya persatuan dan kesatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Kepemimpinan

Sumpah Pemuda 1928 penting untuk direfleksikan kembali demi menguatkan kecintaan kepada bangsa dan tanah air. Selain itu, sumpah pemuda perlu dimaknai ulang dan disesuaikan dengan konteks kekinian, tentu bukan dengan model sumpah jabatan yang bergerak pada alur formal, tanpa penghayatan spritual maupun tanggung jawab kultural.

Sumpah Pemuda juga harus dikaji dengan pendekatan sejarah, salah satunya dengan melihat sumpah palapa yang pernah diikrarkan oleh Gajah Mada, yang notabene mampu mewujudkan semangat persatuan.

Ikrar sumpah Gajah Mada bukan dengan luapan egoisme, melainkan sebagai bentuk pengabdian, pernyataan, pengharapan, dan pembuktian. Gajah Mada berujar “ Jika telah berhasil menundukkan nusantara, saya baru akan istirahat. Sumpah inilah diucapkan sebagai janji sepenuh hati pada 1256 saka atau 1334 masehi.

Selain itu, pemuda juga harus mampu menjadikan sumpahnya sebagai sumber kekuatan spritual, sehingga konsistensi terhadap setiap gerakan maupun perjuangan tidak mudah terpengaruh dengan hal-hal yang sifatnya oportunis.

Hal ini penting, sebab kondisi generasi muda akhir-akhir ini sangat memprihatinkan, tidak sedikit dari mereka terperangkap dalam budaya matrealistik dan perilaku hidup mereka dipengaruhi oleh cara berpikir dari luar tradisi mereka. Ironisnya, hal itu tak hanya terjadi dalam dunia mode atau gaya hidup, tapi juga ideologi.

Pada konteks inilah, semangat sumpah pemuda harus mampu dibumikan dalam nalar berpikir generasi  muda bangsa ini, dan kalau perlu ia menjadi sprit kepemimpinan, sebab di tangan merekalah nasib bangsa dan negara ini bergantung.

Penulis: Agung

(Koordinator GUSDURian Maros)

Tag :

gusdurian
  • 219 Dibaca