Gamabar : Hirzul Jausyan

Ihwal Mantra dan Rajah


Seputarsulawesi.com,- Dahulu, mantra atau jampi-jampi dan rajah digunakan oleh orang-orang sebagai media pengobatan atau penyembuhan. Jika mantra berarti media pengobatannya dirapalkan oleh si pengguna mantra atau raqin (Arab) atau tabib/dukun (Indonesia). Sedangkan rajah semacam ‘kode pengobatan’ yang wujudnya berupa simbol-simbol atau ‘kode-kode rahasia’ yang maknanya hanya diketahui oleh sang tabib. Yang jelas, keduanya digunakan untuk mengobati penyakit yang diderita pasien. Kedua jenis pengobatan ini kadang-kadang dipadukan dengan tumbuh-tumbuhan tertentu.

Jauh sebelum ditemukannya media-media pengobatan modern atau terapi-terapi ilmiah, mantra dan rajah kemudian dipadukan tanaman-tanaman yang memiliki khasiat tertentu inilah yang digunakan oleh tabib untuk mengobati suatu penyakit yang diderita oleh seseorang.

Hampir semua bangsa-bangsa kuno, sebagaimana disebut Khalil Abdul Karim dalam Al-Judzur at-Tarikhiyyah lisy-Syariatul Islamiyyah, menggunakan kedua hal ini sebagai metode pengobatan. Khalil menyebutkan bagaimana para tabib Mesir kuno merapalkan jampi-jampi yang dipanjatkan pada Dewi Isis agar menyembuhkan suatu penyakit yang diderita seseorang.

Bangsa Arab juga sering memanjatkan mantra-mantra untuk berhala-berhala mereka serta jampi-jampi untuk mengusir jin dan setan. Kandang-kadang bangsa Arab pra Islam juga menggunakan mantra-mantra kesembuhan agar terhindar dari gigitan semut, kalajengking dan berbagai binatang berbisa lainnya.

Pada periode Nabi, praktek jampi-jampi ini tetap berlangsung. Bahkan, seperti yang disebut Khalil juga dalam buku tersebut di atas, ada salah seorang sahabat nabi bernama Syifa’ binti Abdullah diminta mengajarkan jampi-jampi agar terhindar dari gigitan semut kepada istri beliau, Hafshah. Padahal mantra yang digunakan Syifa’ adalah mantra yang diketahuinya dari pra Islam. Nabi dan para sahabat dalam berbagai literatur Islam juga sering disebut menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an mengobati penyakit yang diderita seseorang.

Jauh sebelum Islam dan agama-agama besar lainnya masuk ke Indonesia, penggunaaan mantra dan rajah sebagai metode penyembuhan, juga telah banyak dipakai oleh para balian, dukun di komunitas Dayak atau Bissu, tokoh spiritualitas Bugis kuno pra Islam, atau berbagai tabib yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.

Tolak Bala’

Sebagaimana mantra, rajah juga digunakan untuk kepentingan pengobatan. Tetapi, rajah kadang-kadang digunakan oleh orang-orang tertentu atau mereka yang memiliki kemampuan “khusus”, meski terdapat juga mantra-mantra yang hanya dimiliki oleh tabib ‘sakti’.

AG. Al-Allamah KH. Muhammad Nur, pada salah satu kesempatan pengajian yang diasuhnya saat beliau hidup, menyampaikan satu cerita tentang Nabi Saw saat perjalanan ke Sidratul Muntaha pada peristiwa isra mi’raj tiba-tiba dicegat oleh Ifrit. Jibril yang masih mendampingi beliau pun menempelkan rajah pada punggung nabi. Seketika itu pula Ifrit tidak mampu menguntit nabi lagi.

Anregurutta Al-Allamah Kiai Muh. Nur adalah salah satu ulama yang sering memberi amalan kepada murid-muridnya atau jama’ah yang mengikuti pengajian yang beliau asuh. Amalan itu ada yang berupa wirid, zikir, doa-doa khusus. Terkadang juga ada yang berupa rajah atau hizib dalam bahasa santri.

Salah satu kitab terkait rajah atau hizib yang sangat terkenal di kalangan santri adalah kitab Syamsul Ma’arif dan Mamba’ul Ushulil Hikmah karangan Syekh Ali Al-Buni. Kitab ini banyak memuat hizib-hizib khusus yang diamalkan para kiai khos dan santri-santri di pesantren-pesantren Indonesia.

Masyarakat awam sendiri banyak menggunakan rajah atau hizib yang diberikan oleh para ulama. Mereka mempopulerkannya dengan istilah jimat. Pada tahun 1800-an, pemerintah kolonial pernah digemparkan oleh satu pemberontakan petani Banten yang sangat terkenal itu. Dalam pelacakan kolonial, para penggerak pemberontakan petani itu.disinyalir oleh pemerintah kolonial menggunakan jimat. Karena itu, Snouck Hurgronje, mengusulkan agar penggunaan jimat dilarang dan dianggap bid’ah.

Saat ini, tidak sedikit masyarakat kita menggunakan jimat sebagai sarana tolak bala’. Mereka memeroleh jimat itu melalui majelis-majelis pengajian-pengajian yang diasuh oleh ulama-ulama. Selain jimat tolak bala’, ada juga jimat penglaris, pengasihan, kekebalan dan lain-lain. Penggunaan jimat ini adalah bagian dari upaya kita untuk memenuhi kebutuhan lahiriah atau pun batiniah setiap orang. Tentu saja, semua dikembalikan pada kekuasaan dan rahmat Allah. Rajah, hizib, atau jimat atau amalan-amalan khusus merupakan ilmu Allah yang dilimpahkan kepada ulama-ulama terkasih-Nya. Ulama-ulama yang memiliki ilmu khusus ini yang kemudian mentransformasikannya pada khayalak. Sayang, ilmu rahasia ini sering dituding bid’ah, tahayyul dan khurafat.

Tag :

  • 226 Dibaca