Irfan Amalee, Fasilitator dan penulis buku 12 Nilai Dasar Perdamaian

Irfan Amalee, Menerjemahkan Isu Besar Perdamaian ke Anak-anak


Seputarsulawesi.com, Makassar- Berangkat dari kisah masa kecil yang hidup dalam lingkungan penuh keberagaman. Memori indah masa kecilnya yang kontras dengan situasi intoleransi saat ini membuat Irfan Amalee sedih dan memilih terjun dalam dunia pendidikan perdamaian.

"Saya ingin Indonesia saat ini seperti masa kecil saya yang indah, hidup dalam keberagaman," kata Irfan Amalee kepada seputarsulawesi.com usai melatih 35 guru dan pemuda di Gedung BP-PAUD Makassar, Minggu, 27 Agustus 2017 lalu.

Hal inilah membuat Irfan Amalee mewakafkan dirinya berkeliling Indonesia bahkan keluar Indonesia untuk mengajak kembali melihat nilai-nilai toleransi lewat pendidikan. "Mengajarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, empati dan keberagaman kepada generasi muda terutama anak-anak lewat guru-guru sekolah." jalasnya.

Mengkampanyekan isu perdamaian lewat jalur pendidikan dipilih karena Irfan Amalee melihat banyak orang yang bergerak dalam isu perdamaian, tapi sifatnya terlalu elitis, serius dan akademis. Sementara menurut data dari world bank 90 persen kekerasan diwariskan kepada anak-anak.

"Jadi belum ada yang membumikan tema besar perdamaian ini ke level yang lebih bawah yakni ke anak-anak," kata ayah dua anak ini.

Dengan latar belakang penulis buku anak-anak, inilah yang membuat Irfan Amalee terpanggil untuk menerjemahkan isu-isu besar perdamaian menjadi sederhana dan simpel yang bisa dipahami oleh anak-anak. Pertemuannya dengan Eric Lincoln memudahkan dirinya untuk mewujudkan mimpinya itu.

Bersama cicit Presiden Amerika Serikat ke-16 Abraham Lincoln itu, Irfan Amalee mendirikan Peace Generation Indonesia. Dan bersama sahabatnya itu pula, Ia menulis buku 12 Nilai Dasar Perdamaian untuk anak-anak dengan pendekatan yang menyenangkan dan mudah dipahami oleh anak-anak. Buku ini memiliki dua versi yakni agama Islam dan agama Kristen.

Di bawah naungan Peace Generation Indonesia, Irfan Amalee berkeliling Indonesia dari Banda Aceh hingga Papua untuk melatih dan mengajarkan 12 Nilai Dasar Perdamaian kepada guru-guru dan komunitas penggerak perdamaian. Buku ini juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan diterapkan di Filipina, Malaysia, Australia, hingga Amerika.

"Kalau dihitung-hitung sudah lebih 6 ribu pengajar yang sudah dilatih. Dan dari 6 ribu pengajar itu mereka sudah mengajar siswa-siswanya di berbagai tempat mungkin sekitar 40 ribu siswa," katanya

Mengkampanyekan isu perdamaian di dunia pendidikan bukanlah hal mudah. Berdasarkan pengalaman Irfa Amalee, tantangan terbesar dari semua yang telah dilakukannya ini adalah apatisme. Menurutnya banyak yang menganggap isu perdamaian itu terlalu tinggi, ada juga menganggap lingkungannya itu sudah damai karena tidak ada perang dan sebagainya. Padahal, yang namanya perdamaian itu bukan karena tidak adanya perang atau konflik. Tetapi bagaimana mengelolah konflik itu. Sebab di semua level kehidupan pasti ada konflik. Walaupun konflik itu dalam skala kecil.

"Kita ini mau mengelolah konflik-konflik kecil itu sebelum membesar yang akhirnya berujung pada kekerasan," katan penulis buku "Islam Ramah Bukan Marah" ini.  

 Baca Juga : Jalin Harmoni Bedah Buku Islam Ramah Bukan Islam Marah

Tantangan lainnya ialah munculnya prasangka di kalangan peserta yang dilatih. "Tapi, setelah dijelaskan dengan baik prasangka itu hilang dengan sendirinya." tambahnya.

Kiprah Irfan Amalee di dunia media dan perdamaian mengantarkannya meraih sejumlah penghargaan. Pada 2009, Irfan Amalee dianugerahi penghargaan International Young Creative Entrepreneur dari British Council. Tahun berikutnya, Universitas Atmajaya Yogyakarta mengganjar Irfan dengan UAJY for Multiculturalisme Award. Dua tahun berturut-turut, 2010 dan 2011, Irfan Amalee juga masuk dalam daftar 500 orang Muslim paling berpengaruh di dunia versi Royal Institute for Islamic Studies Amman Yordania. Tahun 2012, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif memilih Irfan menjadi satu dari 17 Wirausahawan Muda Kreatif 2012. Irfan Amalee juga sempat dinominasikan sebagai Ashoka Fellow, sebuah penghargaan bergengsi untuk social entrepreneur.

Berkat kipranya di dunia media, pendidikan, dan perdamaian, tahun 2010 Irfan Amalee terpilih mengikuti International fellowship Program dari Ford Foundation. Dengan fellowship itu, Irfan Amalee menempuh S2 di bidang Peace Studies di Heller School Social and Policy Management, Brandeis University Boston USA.

Stereotip Makassar Orangnya Kasar Membawanya ke Kota Makassar

Irfan Amalee foto bersama peserta TOT Pendidikan Perdamain untuk Guru dan Pemuda di Kota Makassar.

                      Irfan Amalee foto bersama peserta TOT Pendidikan Perdamaian untuk Guru dan Pemuda di Kota Makassar.

Baca Juga : Peace Generation Indonesia Latih Guru dan Pemuda Lintas Iman Tentang Perdamaian

Pria asal Bandung ini tertarik mengkampanyekan 12 Nilai Dasar Perdamaian di Kota Makassar. Terbukti untuk kedua kalinya Irfan Amalee dalam setahun ini berkunjung ke Kota Makassar untuk melatih langsung calon agen-agen perdamaian di kota daeng ini. Secara pribadi, Ia memiliki kedekatan sejarah dengan Kota Makassar. Di mana pada tahun 1998, Ia mulai bersentuhan dengan Kota Makassar dengan kampanye gerakan tanpa kekerasan. Dan stereotip bahwa Kota Makassar itu orang-orangnya kasar serta kekerasan yang dilakukan mahasiswa Kota Makassar membuatnya tertarik menerapkan buku 12 Nilai Dasar Perdamaian di Kota Makassar.

Namun, ketika pertama kali melatihkan buku 12 Nilai Dasar Perdamaian yang pertama, Irfan Amalee terkejut karena ia mendapatkan banyak penggerak-penggerak perdamaian yang sudah bekerja lama dan sangat serius. Komunitas-komunitas perdamaian tumbuh subur mengimbangi kelompok-kelompok intoleran di Kota Makassar.

Menurutnya yang rentan di Kota Makassar adalah konflik antar suku yang sangat kental dan berafiliasi hingga ke konflik yang ada di kampus-kampus. Sementara di Jawa Barat konflik antar suku ia tidak temukan, justru yang bermasalah di Jawa barat konflik antar agama. Konflik antar suku ini menjadi sangat kontekstual di Indonesia yang memiliki  banyak suku.

"Kalau kita berhasil mengubah suku sebagai potensi konflik menjadi potensi perdamaian, ini akan manjadi hal menarik. Jadi ada kesadaran keberagaman suku itu sebagai kekuatan untuk perdamaian," katanya.   

Irfan Amalee akan kembali melatih 30 pelajar SMA dan 30 mahasiswa di Kota Makassar pada bulan Oktober 2017 mendatang. Tujuannya agar pelajar dan mahasiswa dapat mengetahui gejala intoleransi, radikalisme dan terorisme.

"Pelatihan itu pesertanya akan diajarkan cara membuat media kreatif dalam mengkampanyekan perdamaian." Jalasnya. 

  • 339 Dibaca