KH Musthofa Aqil Siradj (Doc. MDHW)

Islam Kebangsaan Menurut KH Musthofa Aqil Siradj


Seputarsulawesi.com, Jakarta– Ketua Umum Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW) KH Musthofa Aqil Siradj menerjemahkan Islam Kebangsaan dengan istilah al amanu qoblal iman (aman dulu baru iman). Mengapa? Sebab orang beribadah itu di atas negara.

Menurutnya, Negara yang kacau dan selalu dihinggapi peperangan, masyarakat di dalamnya sulit menjalankan ibadah. Sebaliknya, negara yang tertib, damai dan aman, akan membuat ibadah masyarakat jadi khusyu’. Begitu pula untuk menuntut ilmu, dibutuhkan negara yang aman dan tenteram.

“Salah satu contoh. Saya pernah ke Palestina. Saat itu Masjid jauh dan waktu sudah malam. Jadi saya sholat di tempat penginapan. Saat saya hendak sholat dan tanya penjaga penginapan terkait arah kiblat, saya terkejut mendengar jawaban penjaga penginapan tersebut. Dia menjawab kira-kira begini, “Buka saja jendelanya kalau kelihatan Masjid itu kiblatnya,” paparnya, Senin 26 Februari 2018 lalu di Jakarta.

Mendengar jawaban itu saya tertegun sejenak kata KH Musthofa. Namun tidak lama kemudian dirinya paham bahwa ini persoalan keamanan negara. Orang Palestina tidak tahu arah kiblat karena perang dengan Israel sejak tahun 1967. Jadi orang Palestina tahunya perang, sulit untuk belajar agama karena negara selalu tidak aman.

“Cerita ini merupakan salah satu contoh betapa mencintai tanah air atau nasionalisme itu sangat penting dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegasnya.

Itulah mengapa para ulama dulu lanjut dia, sangat gigih ikut berjuang melawan penjajah. Mereka tahu bahwa tanpa negara yang tenteram maka dakwah Islam dan penyebaran ilmu pengetahuan akan sulit dilakukan.

Dalam konteks melawan penjajahan dan mengobarkan semangat perjuangan di kalangan santri dan umat Islam kala itu, Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari sampai mengeluarkan fatwa Resolusi Jihad. KH Hasyim Asy’ari juga membuat jargon berbunyi hubbul wathon minal iman (mencintai tanah air sebagian dari iman).

Ini pula yang menjadi landasan mengapa ukhuwah wathaniyyah (persaudaraan sebangsa dan se-tanah air) perlu didahulukan baru kemudian ukhuwah islamiyah (persaudaraan sesama muslim). Jika persaudaraan nasional ini sudah kokoh, sangat mudah untuk membangun persaudaraan sesama umat Islam.

“Logikanya sederhana. Orang ingin membangun masjid, pasti butuh tempat berpijak. Jadi masjid itu dibangun di atas tanah,” tutur Pengasuh Pondok Pesantren Kempek Cirebon itu. (ali rif’an)

Sumber: kabar9.wordpress.com

  • 324 Dibaca