Islam Toleran (Bagian kedua dari empat tulisan)


KH. Mahmud Suyuti
(Ketua MATAN Sulawesi Selatan)

Nabi Muhammad SAW bersabda, barang siapa yang membunuh orang yang terikat dengan perjanjian setia dengan kaum muslimin, maka ia tidak akan merasakan baunya syurga, dan sesungguhnya bau syurga itu  telah didapatkan (dirasakan) dengan jarak tempuh empat puluh tahun lamanya (HR. Bukhari, Muslim dan al-Turmuzi).

Mereka yang terikat dengan perjanjian (mu’ahidan) saat hadis ini disabdakan adalah orang-orang kafir zimmi, yakni non-Muslim yang mempunyai ikatan janji dengan orang Islam berupa jaminan keamanan dari orang-orang Islam. Sama halnya di Negara kita NKRI semua agama yang saat terikat dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia dan seterusnya. Sehingga apapun agamanya yang pasti berketuhanan, berkemanusiaan dan merawat persatuan dalam arti mengutamakan sikap toleran, maka itulah buah ikatan janji setia antar sesama.

Intinya bahwa Islam mengutamakan sikap toleran sehingga yang karena itu Nabi saw dalam hadis tadi, melarang orang Muslim untuk membunuh non-Muslim dengan tidak beralasan. Ini menunjukkan bahwa Nabi saw sangat menghormati, bahkan melindungi jiwa seseorang. Demikian pula, hadis tersebut memberi pertunjuk bahwa seorang Muslim jika membunuh seorang kafir hanyalah pada saat peperagan atau di medan jihad, di luad medan ini tidak ada perintah untuk membunuh.

Perspektif toleransi yang dipahami dalam hadis, terletak pada faktor-faktor yang mengakibatkan mudahnya timbul konflik di antara Muslim dan non-Muslim. Nabi saw tampaknya memahami benar bahwa masyarakat yang dihadapi adalah masyarakat majemuk (Muslim non Muslim) baik dari segi golongan (kabilah), yang masing-masing golongan bersikap bermusuhan terhadap golongan lain. untuk itu, Nabi saw mengajukan statemen perlunya adanya penataan masyarakat. Untuk menghindari hal-hal yang negatif maka terhadap non-Muslim diberikan jaminan, atau perlindungan atas jiwa mereka.

Sikap keteladan Nabi saw tersebut sebagaimana yang dijelaskan dalam hadis adalah mengadakan perlindungan terhadap jiwa ahli kafir zimmah dan hal ini  terkait dengan teks piagam Madinah pasal 16 bahwa, Sesungguhnya Yahudi yang mengikuti kita berhak mendapat pertolongan dan persamaan tanpa ada penganiaan dan tidak ada yang menolong musuh mereka.

Dalam sejarah juga disebutkan bahwa Nabi saw pernah mengadakan perjanjian dengan kaum Nasrani di Najrān. Perjanjian itu menyebutkan bahwa mereka mendapat jaminan keamanan dan perlindungan, tidak ada penindasan atas mereka, bebas melaksanakan ajaran-ajaran agamanya, menghoramti sarana peribadatan mereka, mengakui hak-hak mereka dan pajak tidak dipungut dari mereka.

Demikian pula yang dilakukan Nabi saw kepada komunitas Majusi dalam bentuk sepucuk surat yang dikirimkan kepada Farrukh bin Yaksan, kepala daerah Yaman. Isi surat tersebut menyebutkan bahwa jiwa dan harta mereka dijamin, mereka bebas menggunakan sumber-sumber air dan tempat pengembalaan mereka, mereka tidak akan ditindas dan dimusuhi dan mereka bebas melaksanakan ajaran agamanya.

Demikian besar perhatian Nabi saw dalam aspek toleransi ini, sehingga terhadap non Muslim, kedudukan mereka sebagai golongan minoritas harus dilindungi dan bahkan diberikan hak yang sebabas-bebasnya untuk melaksanakan ajaran agamanya. Mereka diberikan perlakuan yang sama dengan umat Muslim. Karenanya, perlakuan diskriminatif terhadap non-Muslim sama sekali tidak dibenarkan. Apalagi dalam sebuah negara yang demokrasi yang mana setiap warga negara (Muslim plus non Muslim) mempunyai hak yang sama.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq

Baca Juga : Islam Toleran (Bagian pertama dari empat tulisan)

  • 151 Dibaca