Islam Toleran (Bagian keempat/terakhir dari empat tulisan)


K.H. Mahmud Suyuti
Ketua MATAN Sulawesi Selatan

Diriwayatkan bahwa, Seorang Yahudi yang membantu Nabi saw tiba-tiba sakit. Lalu Nabi saw menjenguknya sambil duduk di sisinya dan bersabda; masuklah Islam, (ketika itu) si Yahudi memandang bapaknya yang juga duduk di sisinya dan (si bapak) berkata; ikutilah anjuran Abā al-Qāsim (Nabi saw) maka masuklah Islam si Yahūdi tersebut. (dan) ketika Nabi saw pulang, beliau memuji Allah yang menyelamatkan si Yahudi tersebut dari api neraka. (HR. Bukhari, Abu Dawud dan Ahmad).

Yahudi yang dimaksud dalam hadis tersebut adalah, khaadimun fiy baytihi (pembantu Nabi saw di rumah tangganya). Begitu tolerannya Nabi saw, maka non Muslim pun diajak menetap bersamanya dalam sebuah rumah. Ini berarti bahwa ada kebolehan mengambil non muslim sebagai pembantu dalam mengurus rumah tangga. Hadis itu juga menginformasikan kebolehan membesuk non Muslim ketika ia sakit.

Perlu ditegaskan bahwa apabila hadis tersebut dipahami secara kontekstual tentu memberi petunjuk bahwa kebolehan mengambil non muslim sebagai pembantu tidak sebatas sebagai pembantu dalam rumah tangga tetapi pembantu dalam pengertian yang luas seperti pembantu dalam pengembangan ilmu pengetahuan, membantu dalam pelaksanaan pemerintahan dan sebagainya.

Pada masa pemerintahan Muawiyyah bin Abi Sufyan, beliau mempunyai sekretaris seorang Nasrani yang bernama Sarjun. Pada masa pemerintahan Abbasiyah jabatan kementerian pelaksanaan (wizarah tanfkiz) beberapa kali dijabat oleh orang-orang non Muslim antara lain Nasr bin Harūn pada tahun 369 H dan Isa bin Nastra pada tahun 380 H.

Khusus hadis tentang toleransi berkaitan dengan menjenguk atau mambesuk non muslim yang sedang sakit sebagai yang disebutkan, adalah sunnah. Sakit yang dimaksud di sini, bukan hanya sakit dalam arti fisik tapi juga sakit dalam arti non fisik, dan berupaya membantu meringankan beban yang dihadapinya. Ini telah diperaktekkan oleh umat Islam di masa khulafa’ al-risyidīn antara lain ketika khalifah ‘Umar melakukan perjalanan ke Damaskus, pada waktu melewati desa Jabiyah, ‘Umar melihat beberapa orang Nasrani yang menderita penyakit kusta. ‘Umar memerintahkan agar mereka diberi bagian dari uang sedekah dan ditetapkan bagi mereka tunjangan tertentu untuk memenuhi keperluan makanan dan kebutuhan mereka lainnya dengan cara yang teratur.

Intinya bahwa Islam mengajarkan toleransi yang seharusnya teraplikasi dalam kehidupan seperti dibolehkan mendoakan non-Muslim. Hukum dibolehkannya mendoakan non Muslim sama halnya dengan keharusan menjenguk mereka ketika sakit dan keharusan menjawab salam mereka, serta keharusan memberikan perlindungan terhadap mereka. Karena itu, sikap-sikap seperti ini bagian integral nilai-nilai toleransi antar umat beragama yang mesti diamalkan.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Baca tulisan selanjutnya : Islam Toleran (Bagian ketiga dari empat tulisan)

  • 68 Dibaca