Islam Toleran (Bagian ketiga dari empat tulisan)


KH. Mahmud Suyuti
(Ketua MATAN Sulawesi Selatan)


Diriwayatkan dalam hadis dari ‘Aisyah, bertamu para pendeta Yahudi pada Rasulullah saw, dan mereka berkata; al-saam ‘alayka (kematian atasmu), lalu aku (‘Aisyah) memahami maksudnya, maka aku (‘Aisyah) berkata; ‘alaykum al-saam wa al-la’nat (atasmu kematian dan kutukan). Lalu Rasulullah saw bersabda: Hai ‘Aisyah, hati-hatilah karena sesungguhnya Allah menyukai sikap ramah atas segala urusan. Lalu aku (‘Aisyah) berkata; Hai Rasulullah saw, apakah engkau tidak mendengar apa yang mereka katakan, Rasulullah saw bersabda; ia aku mendengar dan sungguh aku telah jawab wa ‘alaykum (HR Bukhari Muslim).

Nabi saw dalam hadis tersebut melarang untuk mengawali atau memulai ucapan salam terhadap non muslim, tetapi apabila mereka memberi salam, maka hendaklah dijawab dengan ucapan “wa ‘alaikum”. Pendapat ulama seperi Mazhab Syafi‘iyyah, haram memulai memberi salam kepada non Muslim namun wajib menjawab salamnya jika dia bersalam. Beda dengan ulama salaf, boleh memberi salam kepada non muslim, namun dengan ucapan “Assalamu Alaika” bukan Assalamu Alaikum”. Sebagian juga ulama mengatakan bahwa makruh hukumnya memberi salam kepada non Muslim. Akan tetapi jika berkumpul dalam satu majlis atau suatu tempat di mana di dalamnya ada yang muslim dan ada yang non muslim, maka ja’iz (boleh) hukumnya memberi salam kepada majlis tersebut.

Jika hadis tadi ini dipahami secara tekstual menunjukkan adanya pelarangan sama sekali memulai memberi salam kepada non muslim di mana pun mereka berada. Namun jika hadis tersebut dipahami secara kontekstual maka larangan memulai memberi salam kepada non muslim, hanya ketika yang ada di tempat itu adalah non muslim saja. Juga ketika umat Islam sudah bercampur dengan non muslim di suatu tempat atau majelis maka boleh saja memulai memberi salam kepada mereka. Perilaku seperti ini, termasuk salah satu ajaran tentang toleransi.

Salam termasuk salah satu doa. Karena itu orang yang mengucapkan salam kepada kawannya berarti mendoakan kawannya supaya memperoleh apa yang disebutkan dalam kandungan makna salamnya itu. Begitu juga orang yang diberi salam kemudian membalas salam yang diterimanya itu, ia sebenarnya membalas doa kawannya dengan doa pula. Maka memberi dan menjawab salam berarti doa – mendoakan.

Mengucapkan salam dan menjawab salam sebagau disebutkan di atas termasuk bagian dari implementasi toleransi, yang dianjurkan Nabi saw. Ini adalah kebolehan menerima doa keselamatan dari non muslim dan menjawab keselamatan dari non muslim serta menjawab doa keselamatan tersebut dengan doa keselamatan yang sama.

Amaliah toleran dengan salam sebagai yang disebutkan, sejalan dengan firman Allah, Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil (QS. Mumtahanah/60: 8).

Interpretasi ayat tersebut adalah bahwa bersikap toleran dengan cara berbuat baik dan kebajikan kepada mereka, non muslim dan berlaku adil dengan kebaikan dan kebajikan, penting. Allah tidak melarang umat Islam untuk berbuat baik dan memberi apa yang menjadi hak dan bagian terhadap orang-orang non Muslim yang tidak memerangi mereka dan tidak pula mengusir mereka dari negeri mereka karena alasan agama, sebab Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.

Baca Juga : Islam Toleran (Bagian kedua dari empat tulisan)

  • 42 Dibaca