Islam Toleran (Bagian pertama dari empat tulisan)


KH. Mahmud Suyuti

(Ketua MATAN Sulawesi Selatan)

Islam toleran dalam bingkai civil society sebagai yang dibangun oleh Nabi Muhammad SAW di Madinah bertujuan untuk memupuk sikap toleransi antara umat beragama. Sahifah ay Watsiqah Madinah atau Madinah Charter yang dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “Piagam Madinah”, item-itemnya berisi statement tentang persatuan dan kesatuan, persamaan hak, keadilan, kebebasan beragama, bela Negara, pelestarian adat, perdamaian dan proteksi.

Misi risalah Islam yang diembang Nabi Muhammad SAW adalah memupuk sikap toleransi antar umat beragama. Komunitas non Muslim pun ketika itu mengakui bahwa Islam adalah agama yang cinta kedamaian, karenanya Piagam Madinah tersebut ditandatangani oleh seluruh komponen; Nasrani, Yahudi, Muslim dari kaum Ansar dan Muhajirin.

Islam mengajarkan umatnya bahwa berbeda agama dengan orang atau kelompok lain adalah aturan ketuhanan yang bersifat natural (QS. al-Baqarah/2: 62 dan 256). Perbedaan-perbedaan di antara umat manusia adalah dinamika (QS. al-Hujurat/49): 13), sehingga mengingkari perbedaan atau tidak mampu menerima perbedaan merupakan sebuah pelanggaran. Berbeda itu indah, berbeda itu cantik, berbeda mengasyikkan asalkan perbedaan-perbedaan tersebut mengantar kita untuk saling menghargai dalam bingkai toleransi.

Teks hadis bahwa, al-Ikhtilafu ummatiy rahmah (mengelolah perbedaan adalah rahmat) merupakan asas untuk membuat kemajemukan sebagai anugerah, yang tentunya hal ini berimplikasi pada sebuah rekomendasi tentang urgennya membangun sikap toleransi itu sendiri. Itulah tawaran Islam yang menghendaki adanya toleransi termasuk inter dan antar agama seperti kesediaan hidup berdampingan antara pemeluk agama yang berbeda sekaligus saling bekerja sama dalam masalah sosial kemasyarakatan, atau tidak dimaksudkan sebagai penerapan percampuran akidah dalam agama.

Semua agama yang eksis sekarang ini, secara formalitas eksoteris peribadatan memang memiliki perbedaan dan itu ada jaminan dalam al-Qur’an, misalnya QS. al-Kafirun/109: 6, Lakum diinukum waliyadin (untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku). Katakanlah: "Bagiku pekerjaanku dan bagimu pekerjaanmu. Kamu berlepas diri terhadap apa yang aku kerjakan dan akupun berlepas diri terhadap apa yang kamu kerjakan" (QS. Yunus/10: 41).

Dengan begitu, antara satu agama dengan agama lainnya dalam aspek teologi terutama untuk kegiatan ritual ibadah tidak dapat dipersandingkan, diperkawinkan, diperbandingkan, apalagi dipertandingkan, karena akan berujung pada konflik egosentris antara pemeluk agama-agama dan ini tentu menyalahi doktrin Islam toleran, Rahmatan lil Alamin.

Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq

  • 308 Dibaca