Jalanan Macet, Kekacauan Mental Menanti


Seputarsulawesi.com – Peningkatan jumlah kendaraan di kota begitu pesat, kepadatan kendaraan menimbulkan efek berantai, tentu saja seperti misalnya macet dan juga polusi udara. Itulah kota tak hanya penuh dengan bangunan gedung, tetapi ia juga disesaki oleh kendaraan bermotor.

Situs data.go.id, menyebutkan jumlah kendaraan bermotor di seluruh Indonesia tahun 2014 adalah 114.209.266 unit. Data ini terbagi atas mobil penumpang sebanyak 12.599.138 unit, mobil bus sebanyak 2.398.846 unit, mobil barang sebanyak 6.235.136 unit dan sepeda motor sebanyak 92.976.240 unit.

Melansir katadata, kemacetan lalu lintas di Indonesia menduduki peringkat kedua, sebagai yang terburuk di dunia. Berdasarkan laporan perusahaan analis transportasi, Inrix, tentang kondisi lalu lintas di seluruh dunia pada 2016, kemacetan menyebabkan orang-orang di Indonesia rata-rata menghabiskan waktu sia-sia di jalan selama 47 jam dalam satu tahun akibat terjebak macet.

Banyaknya waktu yang dihabiskan di jalan oleh masyarakat Indonesia, membuat sebagian aktivitas yang biasanya dilakukan di rumah, berpindah ke dalam mobil misalnya. Seno Gumira Ajidarma dalam Tiada Ojek Di Paris (2015), menyebut mobil sebagai dunia ketiga, setelah rumah dan tempat kerja. Di Dunia Ketiga itu, lanjut Seno, dilangsungkan segala hal yang mungkin – maupun tidak mungkin – terjadi di Dunia Pertama maupun Dunia Ketiga: berkeluarga, bekerja atau bahkan bercinta.

Ibukota Jakarta tercatat sebagai kota tersibuk dan penyumbang kemacetan terparah di Tanah Air. Hal ini karena Jakarta sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian. Bagaimana dengan Kota Makassar, ibukota Provinsi Sulawesi Selatan?

Makassar sebagai pusat perekonomian di Indonesia Bagian Timur, juga semakin hari menunjukkan wajah jalan raya yang kian padat nan sesak. Data yang dirilis oleh Samsat Kota Makassar, jumlah kendaraan bermotor pada 2014, berkisar 1.252.755 unit. Kemudian bertambah lagi sebanyak 87.009 unit pada tahun 2015. Sedangkan pada tahun 2016, kendaraan bermotor di Kota Daeng telah mencapai angka 1.425.151 unit.

Data Dephub.go.id, rata-rata peningkatan jumlah kendaraan di Kota Makassar, khususnya kendaraan roda dua berada di angka 13-14 persen per tahun. Sedangkan untuk kendaraan beroda empat, presentase peningkatan berada di angka 8-10 persen per tahun. Sementara pertumbuhan jalan hanya 0,001 persen per tahun.

Tingginya angka kendaraan bermotor, yang tidak dibarengi oleh pertumbuhan ruas jalan, sering dijadikan dalih penyebab kemacetan. Padahal, hal lain yang seharusnya diperhatikan oleh pemerintah adalah mengenai transportasi publik yang layak dan terintegrasi, serta pembatasan jumlah kendaraan bermotor.

Peningkatan jumlah kendaraan di Kota Makassar, juga diakibatkan oleh meningkatnya taraf ekonomi masyarakat, sekaligus mendongkrak daya beli. Kemudian, diperparah pada saat tahun ajaran baru, di mana para mahasiswa yang berasal dari luar kota Makassar datang dengan menggunakan kendaraan pribadi baik roda dua, maupun roda empat.

Kemacetan di Kota Makassar, yang sebelum tahun 2017, masih di waktu-waktu tertentu, semisal pagi hari (pergi bekerja) dan sore hari (pulang kerja), kini bisa didapati setiap waktu. Ruas jalan di Kota Makassar yang sering mengalami kemacetan juga semakin bertembah, bahkan mencapai jalur-jalur alternatif.

Laporan Amry Syam mengenai Kebijakan Publik dalam Mengatasi Kesemrawutan Lalu Lintas di Kota Makassar (2015) menunjukkan beberapa ruas jalan yang sering mengalami kemacetan parah di Kota Makassar. Jalan-jalan tersebut di antaranya adalah jalan raya utama, yang berhubungan langsung dengan sendi ekonomi, sosial dan pendidikan di Kota Makassar. Ruas jalan tersebut adalah Jalan AP Pettarani, Urip Sumiharjo, Perintis Kemerdekaan, Ratulangi, Antang, Simpang Lima Tol Bandara, beberapa titik di Jalan Veteran, Rappocini, Jalan Sombaopu, Jalan Sulawesi sekitar Pasar Butung, Daerah Pelabuhan Soekarno Hatta, Jalan Penghibur, Jalan Mallengkeri, Alauddin dan Hertasning.

Kemacetan, Stres, dan Cara Mengatasinya

Macet menjadi faktor pemicu tingginya tingkat stres penduduk Kota Makassar. Hal ini diungkapkan Sosiolog Universitas Hasanuddin (Unhas), Dr Rahmat Muhammad kepada Seputarsulawesi.com, Minggu, 3 September 2017.

"Macet yang terjadi di Kota Makassar menjadi salah satu alat yang dapat memicu stres bagi pengguna jalan," katanya.

Wakil Dekan Fakultas Sospol Unhas ini menambahkan tekanan yang terus menerus ditambah kondisi lingkungannya membuat seseorang mengalami stres dan frustasi. Hal ini menyebabkan seseorang mudah emosi.

"Misalnya lelah karena menghadapi macet membuat pengemudi jadi mudah emosional dan akhirnya nekat untuk melanggar aturan lalulintas," katanya.

Melansir dailymail, terjebak dalam satu antrian atau kemacetan parah, juga bisa memicu gangguan mental yang parah, klaim sebuah studi. Kepenatan sehari-hari seperti menunggu lancarnya lalu lintas dapat berkembang dari waktu ke waktu dan menyebabkan masalah mental di kemudian hari, kata psikolog.

Susan Charles, seorang profesor psikologi dan perilaku sosial, menemukan tanggapan negatif terhadap tekanan harian seperti argumen dengan pasangan, konflik di tempat kerja, berdiri dalam antrian panjang atau duduk dalam kemacetan, menyebabkan tekanan psikologis atau kegelisahan dan gangguan mood sepuluh tahun kemudian.

“Terjerat macet adalah penyebab terbesar stres sehari-hari, menurut sebuah survei baru.Sementara dukacita, perceraian dan pindah rumah biasanya merupakan momen paling menegangkan dalam kehidupan manusia,” seperti dikutip dari Telegraph.

Dalam sebuah penelitian, sebanyak 34 respoden dipilih untuk diketahui hal-hal apa saja yang membuat mereka stres. Para responden tersebut, adalah mereka yang baru saja terjebak dalam kemacetan lalu lintas. Hasilnya, enam belas persen didapati mengisi kasus terjebak dalam kemacetan lalu lintas sebagai penyebab stres terbesar.

Bahkan dalam penelitian lain, jenis kelamin seseorang yang terjebak kemacetan mempengaruhi tingkat stres. Ketimbang perempuan, kaum pria lebih rentan terkena stres akibat sering berada dalam situasu kemacetan.

Perusahaan perangkat navigasi berbasis satelit asal Belanda, Tom Tom, dalam penelitiannya menunjukkan bahwa ketika terjebak dalam sebuah kemacetan, tingkat stres kaum pria meningkat 60 persen. Sementara pada saat yang sama, tingkat stres para kaum wanita hanya 8,7 persen.

Para ahli di Inggris yang terlibat dalam penelitian itu mengatakan, kondisi stres tersebut dapat menyebabkan tekanan denyut jantung lebih cepat. Selain itu, mereka juga akan mengalami pusing serta sesak napas.

Anehnya, banyak di antara 10 ribu relawan obyek penelitian itu yang mengaku tidak tahu dengan kondisi yang mereka alami. Sebanyak 67 persen dari wanita yang diteliti mengaku tidak menyadari mereka telah mengalami stres. Sedangkan setengah dari relawan pria tidak menyadarinya, setelah terjebak selama 20 menit di kemacetan akut.

Padahal, kenyataan menunjukkan sebaliknya. Meski demikian 86 persen dari responden mengakui kondisi lalu lintas memiliki dampak negatif dalam kehidupan mereka.

Penelitian tersebut dilakukan di seluruh kota-kota besar Inggris dan melibatkan 10 ribu relawan sebagai obyek. Para ahli meneliti tingkat stres relawan dengan menggunakan dari air liur serta napas mereka.

Namun, menurut Linda Wasmer Andrews, seorang psikolog asal Amerika Serikat, yang dilansir dari phisycologytoday, stres akibat kemacetan lalu lintas dapat diatasi dengan melakukan beberapa hal. Solusi terbaik adalah menghindari wilayah yang sering mengalami kemacetan lalu lintas. Misal dengan menghindari lalu lintas pada jam sibuk yang paling buruk dengan meninggalkan rumah sejam lebih awal.

Tetapi, apabila sudah terlanjur berada dalam kondisi kemacetan, hal yang perlu dilakukan untuk meredam emosi, adalah dengan berelaksasi. Hal ini bisa dilakukan dengan menarik nafas dalam-dalam dan mengelurkan secara perlahan. Selain itu, memutar musik dalam kendaraan juga efektif menghilangkan rasa penat tersebut. Menurut Fairlough, seorang peneliti, mendengarkan musik yang menenangkan dan menyedihkan, bisa mengurangi tingkat stres dalam keadaan macet. Apalagi ketika sedang tergesa-gesa.


Tag :

  • 267 Dibaca