Gambar: pelitakarawang.com

Jihad dalam Konteks Moral dan Spiritualitas


Al-Asyimawahi, sebagaimana yang dikutip oleh Zuly Qadir dalam tulisannya yang berjudul “Jihad, Terorisme, dan Kaum Muda di Indonesia; Perspektif Sosiologis” menyebutkan bahwasanya term jihad dalam kosakata Islam adalah sesuatu hal yang sangat sensitive, dan tak jarang dipahami, didengar dan digunakan secara emosional.

Menurut mantan Ketua Pengadilan Kairo itu, jihad bagi sebagian non Muslim, dimaknai sebagai bentuk perlawanan dengan pedang yang terhunus, dan tidak mudah disarungkan. Sementara bagi kebanyakan orang Muslim, jihad dimaknai sebagai sebuah kewajiban untuk membimbing non muslim menuju iman yang lebih benar.

Bagi kelompok militan Islam, kata Asyimawahi, memaknai Jihad sebagai perintah Tuhan untuk memaksakan Islam dan iman terhadap non muslim. Dari pemaknaan tersebut, hanya sebagian kecil umat Islam yang memaknai Jihad dalam pengertian moral dan spiritualitas.

Sehingga dengan demikian, praktek kekerasan yang kerap kali terjadi, tak terkecuali di bangsa ini, salah satunya disebabkan oleh doktrin keliru tentang jihad. Akibatnya, kedamaian yang menjadi harapan dan mimpi setiap orang semakin jauh dari kenyataan yang diharapkan.  

ISIS

Fenomena kekerasan yang mengatasnamakan agama telah mendunia. Apalagi sejak munculnya kelompok yang mengatasnamakan diri sebagai Negara Islam di Irak dan Suriah atau ISIS. Kelompok yang kerap menampilkan wajah Islam yang garang dan sadis.

Kelompok ini, sebagaimana yang dikemukakan oleh A. Setyo Wibowo dalam tulisannya berjudul “Nietzsche: Geneologi Kaum Fanatik” menyebutkan bahwa kelompok ISIS tak hanya melakukan pembunuhan terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai musuh, tapi juga memperjualbelikan wanita untuk jadi budak seks, mengambil organ manusia secara hidup-hidup guna menyelamatkan kombatan mereka, merampok Bank, menghancurkan artefak kuno dan menjualnya di pasar gelap.

Tak hanya itu, dilansir dari Koran Tempo, 15 Agustus 2015, A. Setyo Wibowo, menyebutkan bahwa ISIS telah mengeksekusi 19 perempuan yang menolak bersetubuh dengan para pejuangnya, hal itu dilakukan atas nama agama dan kebenaran daulah islamiyah.

Menurutnya, penyembelihan terhadap manusia, bom bunuh diri, memerangi orang Syiah, atau menumpahkan darah orang-orang muslim, tak hanya dibolehkan, tapi juga dibenarkan atas dasar agama. Apalagi teror, disebutnya sebagai gerakan amaliah, dan bahkan dalam keadaan darurat perang dibolehkan untuk merampok bank.  

Moral dan Spiritualitas

Dampak dari gerakan ISIS tak hanya meruntuhkan tatanan ekonomi, politik, identitas budaya dan struktur pemerintahan, tapi juga telah berdampak pada kehancuran masa depan peradaban dan kemanusiaan di wilayah ISIS bersarang.

Semboyan jihad yang menjadi pemantik gerakan mereka telah mengaburkan batas-batas moralitas kemanusiaan. Dendam telah menjadi fundamen dari semangat jihad mereka, sehingga keadilan dan kemanusiaan sulit ditemukan. Padahal jika ingin hidup damai, jihad semestinya dipahami dalam konteks moral dan spiritualitas.

Moralitas keberagamaan terlihat pada sikap dan perilaku yang senantiasa peduli pada hak-hak dan nilai-nilai kemanusiaan, atau dalam artian, memuliakan manusia adalah bagian dari upaya memuliakan Sang Pencipta, merendahkan manusia berarti merendahkan Sang Pencipta itu sendiri.

Inilah salah satu makna dari spiritualitas kemanusiaan, agama tak hanya hadir untuk urusan teologis, tapi juga untuk kepentingan kemanusiaan. Tak ada spiritualitas tanpa moral, dan moralitas tanpa spiritual akan menuai kehampaan.

Penulis: Suaib Amin Prawono

Koordinator GUSDURian Sulawesi

Tag :

jihad teroris
  • 509 Dibaca