Jiwa Akuntan Seorang Ibu


Oleh: Muhammad Aras Prabowo
Mahasiswa Magister Akuntansi Univ. Mercu Buanan Jakarta


Ilmu akuntansi seringkali dijastifikasi bahwa untuk memahaminya perlu pendidikan khusus atau dengan menuntutnya di dunia pendidikan secara formal. Bahkan dianggap sebagai ilmu yang rumit kerana sangat erat kaitannya dengan angka-angka. Akuntansi merupakan sebuah proses yang sistematis dalam mencatat transaksi keuangan dalam sebuah entitas sampai dengan menghasilkan sebuah laporan keuangan untuk menilai kinerja perusahaan dan sebagai bahan pengambilan keputusan untuk masa depan usaha.

Menurut Rudianto, akuntansi merupkan sistem informasi yang menghasilkan laporan kepada pihak-pihak yang berkepentingan mengenai aktivitas ekonomi dan kondisi suatu badan usaha. Sedangkan, American  Insitute of Certified Public Accounting (AICPA) menyatakan bahwa akuntansi sebagai seni pencatatan, penggolongan, dan pengikhtisaran dengan beberapa cara tertentu dalam ukuran moneter, transaksi, dan kejadian-kejadian yang umumnya bersifat keuangan termasuk menafsirkan hasil-hasilnya, dan meringkas dengan cara tertentu dalam ukuran fiskal, pertukaran dan kesempatan yang pada umumnya yang bersifat moneter dan dalam menguraikan hasil.

Berdasarkan standar yang berlaku ilmu akuntansi baru bisa diaplikasikan dalam sebuah organisasi atau perusahaan yang telah mapan. Untuk usaha menengah ke bawah masih memimiliki kendala-kendala dalam penerapannya, masih perlu penyelarasan dan pertimbangan, khususnya dalam bidang sumber daya manusia. Namun dalam praktiknya, secara garis besar ilmu akuntansi telah diterapkan berdasarkan kemampuan terbatas yang dimiliki.

Pancatatan penjualan dan pembelian telah dilakukan, termasuk menentukan laba atas produk yang diperjual-belikan. Tapi, keterbatasan pengetahuan tentang akuntansi, mereka tidak tahu bahwa hal tersebuat adalah praktik akuntansi. Misalnya, analogi penelitian interpretatif yang ditulis Mulya (2014) yang bisa disebut sebagai analogi pedagang cabai di pasar. 

Para pedagang mengetahui persis bahwa jika pasokan persediaan cabai di pasaran sedikit dan pembeli banyak, maka harga cabai akan melambung tinggi, dan sebaliknya jika cabai banyak tersedia di pasaran dan pembeli sedikit (atau tetap), maka harga cabai akan turun. Namun pedagang pasar tersebut tidak menyebut pengetahuan mereka itu sebagai konsep supply – demand.

Kemudian seorang penulis di Kompasiana menuliskan bahwa banyak pengusaha muda yang gagal karena mengabaikan stock opname¸ tidak melakukan pengecekan atas persediaan, tidak melakukan penilaian ulang atas aset yang dimiliki (tidak mencatat penyusutan), mengeluarkan barang dari pembelian terakhir sehingga persediaan sebelumnya kadaluwarsa dan tidak laku lagi.

”Saya tidak tahu akuntansi, tahunya hitung duit saja, lancar walau tidak pakai kalkulator,” begitu tanggapannya, apa yang disampaikannya itu adalah akuntansi terapan. Jika praktik akuntansi ditarik ke dalam lingkungan keluarga, maka akan ditemukan hal yang sama. Praktiknya telah dilakukan dalam memenuhi kebutuhan keluarga, baik secara sadar maupun tidak. 

Hasil observasi penulis kepada suatu keluarga bahwa sebagian besar keuangan keluarga dikelolah oleh istri (Ibu rumah tangga). Seorang Ibu rumah tangga berdasarkan penghasilan suaminya telah mengalokasikan dana tersebut dalam pos-pos tertentu berdasarkan kemampuan perencanaan yang dimiliki. Misal, pos pengeluaran maupun pos investasi. Pos pengeluaran seperti biaya makan minum setiap harinya, biaya belanja bulanan dan kebutuhan skunder lainnya.

Kebutuhan anak misalnya, seorang Ibu telah merencanakannya dengan sedemikian rupa tentunya berdasarkan kemampuan dana yang dimiliki. Bahkan telah memprediksi kapan dan berapa banyak dana yang harus disiapkan untuk waktu tertentu. Mulai dari pendidikan anak ditingkat sekolah dasar sampai dengan tingkat perguruan tinggi.

Untuk pos investasi, biasanya seorang Ibu lebih cenderung menggunakannya untuk membeli sesuatu yang tidak bisa menyusut, seperti membeli tanah, sawah, bangunan dan ternak sebagai investasi keluarga.  Beberapa yang menjadi pertimbangan yaitu, Pertama, tidak bisa menyusut, atau harganya selalu mengalami kenaikan dari waktu ke waktu. Kedua, dapat menghasilkan dana dengan cepat jika dIbutuhkan segera, misalnya jika mendapat musibah dan harus dirawat di rumah sakit tanah atau ternak bisa dijual dengan cepat. Ketiga, bisa diwariskan kepada keturunan kelak.

Melihat hasil observasi penulis di atas, sekali lagi menegaskan bahwa praktik akuntansi telah diterapkan diberbagai tingkatan, mulai dari organisasi mapan (perusahaan), menengah ke bawah, sampai dengan lingkungan keluarga. Meskipun ditingkatan tertentu pengetahuan akuntansi tidak didapat melalui pendidikan formal, ilmu akuntansi tumbuh secara alamiah dalam setiap lapisan kehidupan manusia. Bahkan jiwa akuntan lahir dalam diri seorang Ibu yang tidak pernah mengenyam pendidikan akuntansi secara formal, namun mampu menjalankan roda keuangan dalam keluarga dengan andal.

Tag :

aras-prabowo
  • 899 Dibaca