Kambas

Kambas dan Potret Kemiskinan di Polman


Seputarsulawesi.com, Polewali Mandar- Jalannya sempoyongan, rambut di kepalanya sudah memutih, tubuhnya pun terlihat bungkuk, ditambah penglihatan yang sudah mulai rabun. Seperti itulah sosok tubuh Kambas, pria berusia 75 Tahun yang tinggal di Kelurahan Manding, Kecamatan Polewali, Kabupaten Polewali Mandar.

Di lokasi ini, Kambas tinggal di sebuah gubuk kurang lebih berukuran 3x4 Meter yang terbuat dari papan bekas. Rumah yang dibangun di atas lahan milik warga itu, atapnya terbuat dari daun rumbia. Meski jalan ke kerumah Kambas terlihat mulus, namun tak semulus dengan perjalanan hidupnya. Kambas resmi menduda, sejak isterinya meninggal dunia pada tahun 2011 lalu.

Untuk mencukupi kebutuhan kesehariannya, ia bersama anak perempuannya, Husnawati bekerja di sebuah warung yang tak jauh dari tempat tinggalnya itu. Dalam sebulan, Kambas mendapat upah sebayak Rp. 500 ribu. Meski penghasilannya itu jauh dari cukup, namun Kambas beserta anaknya berusaha mencukupkan hasil keringatnya itu untuk memenuhi kebutuhan keseharian mereka.

Sebelumnya, Kambas pernah tinggal di Desa Pasiang, Kecamatan Matakali, Kabupaten Polman. Ia pun sempat hijrah ke Tapalang, Mamuju pada tahun 2001 lalu. Selama di Tappalang, nasib Kambas tak berubah, dan bahkan nyaris tak bisa berbuat apa-apa, selain karena tempat tinggalnya jauh dari pusat kota, jalanan menuju ke lokasinya juga terjal dan sepi penduduk. Kondisi itu yang kemudian membuat dirinya tak betah tinggal di wilayah tersebut, dan memutuskan untuk kembali ke Polman pada tahun 2013.

Sekembali dari Mamuju, Kambas tinggal di Manding. Saat itu, ia bekerja sebagai pemungut buah kelapa di salah satu kebun miIlik warga setempat. Dalam sepekan, ia hanya mampu mengumpulkan 10 buah kelapa kemudian dijual seharga Rp. 3000/ikat.  Hasilnya digunakan untuk membeli beras dan lauk pauk seadanya.

Kondisi tersebut pun sempat mengundang perhatian warga saat itu. Meski demikian, warga setempat juga tak bisa berbuat banyak, karena kondisi mereka juga tak jauh beda dengan kehidupan Kambas.

Fenomena Kemiskinan

Potret kehidupan Kambas ini, sebenarnya bukanlah fenomena baru  di Kabupaten Polewali Mandar. Kasus seperti ini sudah seringkali terjadi dan kerap menjadi sorotan media. Kasus terbaru adalah Borahima (58), seorang kakek yang tinggal sebantang kara di sebuah gubuk berukuran 2x2 meter di Dusun Garasi, Desa Nepo, Kecamatan Wonomulyo, Kabupaten Polman.

Kakek Borahima mengaku sudah 10 tahun tinggal digubuk yang dindingnya terbuat dari pelepah batang kelapa dan bagian atasnya ditutupi seng dan daun rumbia seadanya. Tak butuh tenaga yang banyak untuk merubuhkan gubuk ini, sekali digoyang dengan kekuatan orang dewasa, gubuk ini sudah rata dengan tanah. 

Baca: Kakek Hidup Sebatang Kara Dalam Gubuk, Luput dari Perhatian Pemerintah 

Kasus Kakek Borahima dan Kambas ini sekaligus menyangsikan kata malaqbi yang kerap diperdengarkan saat musim Pilkada tiba. Slogan itu nampaknya hanya sekadar kata yang tak kunjung menemukan wujud. Buktinya, deretan derita rakyat jelata masih terlihat begitu jelas di depan mata, dan seolah mereka hidup tanpa negara. Bahkan dari sekian banyak persoalan yang terjadi di Kabupaten Polman, persoalan kesehatan dan kaitannya dengan kemiskinan yang paling banyak menuai sorotan.

Cerita memilukan itu bermula pada tahun 2007 lalu, saat salah seorang warga berinisial KBC meninggal dunia di Rumah Sakit lantaran tak mendapat pelayanan. Ironisnya, fenomena kesehatan ini terus berlanjut, ditandai dengan munculnya berbagai pemberitaan kasus gizi buruk di wilayah tersebut. Salah satunya adalah kasus yang dialami Nurmaya, warga Kecamatan Tubbi Taramanu beberapa bulan lalu. 

Baca juga :

Fenomena Nurmaya ini sekaligus menjadi bukti bahwasanya Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di wilayah ini tidak mampu melakukan rekayasa atas peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat.

"Kenapa mesti ada kasus Nuramaya setelah sekian puluh tahun terjadi tragedi kemanusiaan di Rumah Sakit. Ini artinya, OPD di Polman gagal melakukan rekayasa atas peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat, dan ini yang terjadi sampai hari ini," papar salah seorang Akademisi Universitas Asyiariah Mandar, Abdul Hakim Pariwalino, Senin, 25 Desember 2017 lalu.

Kepedulian

Berdasarkan hasil penelusuran Seputarsulawesi.com, rentetan peristiwa memilukan itu tak lepas dari minimnya kepedulian, serta buruknya pelayanan kapada rakyat. Hal ini sekaligus membuktikan bahwasanya konsep ideal tentang kepemimpinan di Mandar hanya menjadi sebaris kata yang berakhir dengan ucapan. Kosep tersebut adalah: 

“Naiyya Mara’dia tammatindoi dibongi, tarrarei diallo namandandang mata dimamatanna daung ayu, dimalimbongna rura, dimadinginna lita’ diayarianna banne rupa tau anna diattepuanna agama”. 

Artinya; Seorang penguasa, tidak boleh tidur nyenyak di malam hari, tidak boleh berdiam diri di waktu siang, tetapi ia harus senantiasa memperhatikan hijau suburnya daun kayu, dalam dangkalnya tebat, aman tentramya Negara, berkembang biaknya manusia, dan lahirnya kemantapan kehidupan beragama. (Idham Khalid; Lokal Wisdom: 44)

Pasang ini sudah sangat popular di tanah Mandar, dan bahkan sudah banyak tulisan tentang pasang ini. Pasang yang disampaikan oleh Maraqdia Balanipa, Daetta ke-IV Kakanna I Pattang ini merupakan penegasan terhadap pasang yang pernah disampaikan oleh Todilaling. Adapun yang menjadi esensi pasang adalah kepedulian.

Dalam pasang lain disebutkan: 

"Pa’banua ala turu’ massumayai sara’ anna da tori tuo madoyong-doyong,  pa’banua asayangidi todi rio rannuna.

Artinya; Kehendak rakyat dalam berbagai urusan tolong didengarkan, agar mereka tidak hidup dalam kemelaratan. Kasihanilah mereka dan segenap harapan hidupnya. (Idham Khalid; Lokal Wisdom; 51).

Pasang ini mengambarkan betapa penting dan berartinya rakyat di dalam sebuah negara, sehingga seorang pemimpin dituntut untuk mendegarkan keinginan dan keluhan mereka, karena rakyat jelata yang luput dari perhatian pemerintah, menurut pasang akan hidup madoyong-doyong (melarat).

Pada konteks ini, potensi rakyat untuk cappu rannu (putus asa) pun sangat memungkinkan terjadi. Cappu rannu ini bisa menjadi musibah bagi sebuah pemerintahan, sebab ia tak hanya berwujud dalam bentuk ketidakpercayaan terhadap pemimpin, tapi juga berefek pada pisikologi rakyat.

Ada begitu banyak warga yang terpaksa harus meninggalkan kampung halamannya (merantau) pada masa lalu, lantaran harapan hidup di tanah kelahirannya tak kunjung terealisasi. Pepatah lama yang mengatakan "hujan emas di negeri orang, hujan batu di negari sendiri, masih lebih baik di negeri sendiri" sama sekali tidak belaku bagi mereka yang sudah cappu rannu.

Olenya itu, tentu kita tidak menginginkan ada warga yang pasrah pada keadaan, dan pada akhirnya mati dalam keadaan madoyong-doyong lantaran tidak adanya kepedulian dan kepekaan pemimpin terhadap nasib mereka.

Penulis: Rahmayani dan Suaib

  • 507 Dibaca