Karl Marx dan Kritikannya Terhadap Agama


Oleh : Nur khaliq

Ketua Umum PP IMDI

Agama dan wacana keagamaan marak diperbincangkan oleh banyak kalangan dewasa ini. Sayangnya, wacana yang berkembang di tengah masyarakat itu bukan karena prestasi agama yang gemilang dalam mensejahtraan kehidupan sosial dan spiritualitas masyarakat, tapi justru karena kondisinya yang seolah tak lagi mampu menjadi solusi bagi manusia moderen yang semakin gamang.

Wacana agama sebagai candu, pertama kali dilontarkan oleh Karl Marx (1818-1883) dalam narasi pembongkarannya terhadap praktek eksploitasi kaum borjuasi terhadap proletariat. Tesisnya ini pula yang melambungkan namanya sebagai intelektual paling keras memerangi agama.

Menurutnya, praktik keagamaan yang dijalankan oleh kaum agamawan telah berselingkuh dengan kaum borjuasi dan menjadikannya sebagai candu sosial. Kaum proletariat yang lelah dan tidak berdaya dengan penidasan dan penghisapan sistem industri, tak lagi menjadi manusia sebagai mana laiknya sebagai manusia.

Kerja yang seharusnya menjadi esensi kehadiran agama di muka bumi, justru mengasingkannya dari kehidupan. Disisi lain, agama yang seharusnya menjadi alat tranformasi sosial, justru ditangan kalangan agamawan seolah menjadi obat penenang masyarakat.

Sebesar apapun gejolak revolusi yang membatin dalam diri orang-orang tertindas, ketika mereka masuk ke dalam institusi agama, maka perlahan akan dihilangkan dan ditenagkan dan selanjutnya diganti dengan kepasrahan menerima nasib seraya menunggu pembalasan akhirat yang “katanya”, “mereka yang di hari kemudian akan dikedepankan, dan mereka yang hari ini di depan, saat itu akan dibelakangkan”.

Institusi agama bagi Marx adalah alat yang ampuh menghapuskan gejolak perlawanan, yang hasilnya menguntungkan kapitalisme. Dengan kata lain, semakin tenang masyarakat, semakin banyak modal yang bisa ditumpuk.

Bagi kapitalisme, gejolak sekecil apapun dalam masyarakat akan merusak kerjasama sosial. Dengan kata lain, kedamaian merupakan syarat bagi terjaganya kerjasama sosial; terjagannya kerjasama sosial merupakan syarat keberlangsungan hidup kapitalisme; dan lestarinya kapitalisme berarti lestarinya pula penindasan terhadap kaum mustad’afin.

Dalam posisi meminimalisir gejolak inilah para pemuka agama berdiri di garda terdepan, sebagai “pahlawan kedamaian”, yang oleh Marx di sebut sebagai para “pengedar narkotik-candu sosial”.    

Disisi lain, bagi intelektual psikologi, agama hanyalah sekadar cara yang diterima secara bersama untuk mengatasi ketegangan, kecenderungan, dan penderitaan. Lebih lanjut, Wiliam James (1842-1910) menjelaskan, bahwa kesadaran keberagamaan adalah hal yang sangat subyektif.

Baginya, kebenaran harus ditemukan, bukan melalui argumen logis, akan tetapi melalui pengamatan atas data pengalaman. Posisi agama yang secara psikologis sangat subjektif inilah yang sering terjebak dalam gejala psikologis yang mengantarkan penganutnya pada keinginan untuk merasa benar sendiri.

Agama seringkali terpenjara dalam tubuh-tubuh manusia pengidap penyakit mental, yang biasanya siap mengorbankan kebenaran logis di atas kebenaran egois. Patologi sosial ini oleh kalangan psikolog di sebut dengan istilah kompleks Fourier, sebuah kondisi sikap mental patologis—dari kebencian dan kondisi neurasthenia yang ditandai oleh kondisi kelelahan, kecemasan, sakit kepala, neuralgia [sakit saraf] dan depresi.

Penyakit mental ini berkaitan dengan rasa tidak suka dan kedengkian yang besar disebabkan iri hati. Rasa tidak suka merajalela saat seseorang memiliki kebencian yang luar biasa terhadap orang/lembaga yang berada dalam kondisi yang jauh lebih menguntungkan, sehingga mereka siap menanggung kerugian hanya sekedar untuk meruntuhkannya.

 Hal ini terjadi dikarnakan penyakit ini melibatkan kerusakan serius pada sistem syaraf yang lebih memerlukan perhatian seorang psikolog daripada dialog ilmiah antar mazhab atau lintas aliran.

Penyakit mental individual ini kemudian menjadi lebih kompleks ketika diidap secara berjamaah dan seringkali di tambah dengan embel-embel Ikatan Teologis; Ikatan komunitas yang kuat serta politik identitas eksklusif dengan mendefenisikan diri sebagai yang berbeda dengan yang lain, mendorong agama menemukan jalan kebenarannya dalam perang, penghancuran, caci-maki, dan bahkan kerap menggunakan dalil-dali agama. Seolah Tuhan yang maha kasih bersmanya dalam kebiadaban.

Akhirnya, nampaknya realitas keberagamaan kita yang serba penuh dengan warna-warni dan terpolarisasi pada dua kelompok diatas, harus terus mendapatkan pengawalan dalam kerja pendidikan dan dakwah yang lebih bijaksana, agar nantinya lahir generasi yang lebih arif dalam menyikapi perbedaan.

Tag :

  • 339 Dibaca