Karomah Syekh Abdurrahim Kamaluddin, Penyiar Islam di Tanah Mandar

Inilah surat Tuan di Binuang. Beliaulah yang mengislamkan kami


Seputarsulawesi.com - Syekh Abdurrahim Kamaluddin, atau lebih dikenal dengan To Salama di Binuang. Tokoh mahsyur yang disebut dalam Lontara Napo Mandar halaman 123 berbunyi, “Iamodi’e pa’anna na sura’ituan di Benuange lamo mepasallang”. Maksud dari naskah itu yakni, “Inilah surat Tuan di Binuang. Beliaulah yang mengislamkan kami”. Ialah seorang Waliyullah dari Tanah Mandar, yang hidup pada abad XV.

To Salama di Binuang menyiarkan agama Islam di wilayah Binuang, yang kala itu berada di bawah kekuasaan Raja IV Sipajollangi. Beliau juga menyebarkan islam ke wilayah-wilayah di luar Binuang, yakni ke daerah Allu, Palili serta sebagian besar Banggae. Pada saat yang sama, beliau mendirikan pesantren dan masjid sebagai pusat pendidikan Agama Islam di Pulau Tangnga-Tangnga. Dan mengumpulkan sebanyak 40 pemuda untuk dididik khusus.

Sang Waliyullah memiliki dua murid yang juga sangat termasyur namanya, yaitu Syekh Al Magribi dan Syekh Al Ma’ruf. Nama pertama adalah seorang sufi, ahli kenegaraan dan berasal dari Maroko. Yang kedua, juga seorang sufi, ahli pertanian serta bangunan dan berasal dari wilayah Samarkhan dekat Bukhara, Rusia Selatan.

Berkat kehadiran To Salama dan dua orang muridnya, Binuang sangat populer sebagai pusat pengembangan agama Islam di Tanah Mandar. Sehingga dalam kurun waktu yang singkat, jumlah pengikut beliau semakin bertambah. Baik yang berasal dari Tanah Binuang, ataupun wilayah-wilayah lainnya.

Dalam sejarah penyebaran Islam di Tanah Mandar, Raja Balanipa yang pertama kali memeluk Islam adalah Daettta Kanna I Pattang atau biasa disebut dengan Daetta Tommuane. Berkat sang Raja memeluk agama Islam, seluruh rakyat Balanipa juga ikut menyatakan ke-Islaman mereka.

Sementara di wilayah Sendana dan Pamboang, agama Islam diriwayatkan datang dari Kalimantan. ‘Ikapuang Jawa’ yang dikenal sebagai Raden Mas Arya Suriodigolo, membawakan risalah keislaman tersebut. Kemudian, datang juga Sayyid Zakriah Al Magriby membantu Ikapuang Jawa, untuk menyebarkan islam di negeri Pamboang. Pada akhirnya, Maraqdia Pamboang, Tomatindo di Bo’di pun memeluk agama islam.

Ada juga nama Syekh Abdul Mannan yang bergelar Tuan di Salabosse, yang menyebarkan Islam di negeri Banggae. Beliau berhasil mengajak Maraqdia Tondo atau Tomatindo di Masigi, memeluk agama islam. Di wilayah Campalagian atau Tomadio, Islam disebarkan oleh Tuan di Tanase. Dan di Pitu Ulunna Salu, penganjur Islam pertama kali adalah Tuan di Bulo-Bulo.

Karomah To Salama di Binuang dan Jubah Hitam

Kisah Syekh Abdurahim Kamaluddin, bukan hanya seputar keberhasilannya menyebarkan Islam di tanah Mandar. Melainkan dalam berbagai cerita rakyat, To Salama di Binuang dinarasikan memiliki kharomah yang luar biasa. Bahkan konon kabarnya, kedatangan beliau bersamaan dengan cahaya yang turun dari langit kampung Penanian (Bate Tangnga).

Beliau terlebih dahulu dikenal sebagai orang berjubah hitam. Dalam kedatangannya, beliau tinggal di kediaman Tomakaka Penanian dan diterima dengan baik. Semenjak mendiami rumah tersebut, kehidupan Tomakaka dikisahkan bersinggungan dengan banyak keajaiban. Tomakaka dan warga Penanian, sering melihat orang berjubah hitam bolak balik dari rumah ke kebun, tetapi sedikitpun pakaiannya tidak basah.

Selain itu, orang berjubah hitam sering terlihat duduk bersimpuh, bertafakkur serta bertasbih di atas daun dari pohon pisang yang masih tumbuh. Setelah berdoa, beliau lalu turun dari atas pohon pisang tersebut. Pernah juga, Tomakaka pergi melaut bersama beliau. Sesampai di laut, Beliau langsung berjalan di atas air, dengan kaki yang sedikitpun tidak basah. Bahkan, ikan-ikan malah menjadi jinak dan bernaung di bawah kakinya. Beliau tinggal memilih mana saja yang diambilnya.

Jika Syekh Abdurahim Kamaluddin sedang tidur, tubuhnya tidak rapat di atas tikar, melainkan satu jengkal di atasnya, seperti terapung di udara. Juga kala hendak ke pulau sekitar Binuang, beliau hanya memanjatkan doa kepada Allah. Tak berselang lama, berkat kekuasaan Allah, pulau yang hendak beliau tuju, justru mendekat dan hanya sekali melangkah, Syekh Abdurahim Kamaluddin sudah berada di seberang.

Karomah Syekh Abdurrahim kamaluddin ini kemudian menjadi bahan pembicaraan orang banyak, hingga sampai ke telinga Raja Sipajollangi. Raja Sipajollangi akhirnya dibuat penasaran sehingga merasa curiga terhadap tamu Tomakaka itu. Raja menyangka bahwa orang berjubah hitam tersebut adalah seorang penyihir. Ia pun kemudian memanggil untuk menguji kebolehan Syekh Abdurrahim Kamaluddin.

Tomakaka Penanian beserta Syekh Abdurrahim Kamaluddin tiba di Istana. Raja Sipajollangi lalu memerintahkan kedua putrinya untuk maju ke depan. Seorang diantara putri raja itu sudah bersuami dan tengah hamil dua bulan, sehingga perutnya belum kelihatan sedang mengandung. Sedang yang satunya masih perawan duduk di sebelah kanan kakaknya.

Raja Sipajollangi kemudian meminta Syekh Abdurrahim Kamaluddin untuk menebak siapa putri yang mengandung. Karena kekeramatannya, beliau sudah mengetahui bahwa Raja hendak mengujinya. Bahkan ia sudah tahu bahwa putri yang duduk disebelah kirilah yang sedang mengandung.

Syekh Abdurrahim Kamaluddin lalu berdoa kepada Allah agar putri yang masih perawan itu hamil. Setelah berdoa, beliau lalu menunjuk bahwa putri yang sedang hamil duduk di sebelah kanan.

Raja yang merasa yakin bahwa putri yang ditunjuk Syekh Abdurrahim Kamaluddin adalah putrinya yang masih perawan akhirnya menjadi murka. Syekh Abdurrahim kamaluddin mengetahui raja Sipajollangi marah kepadanya. Beliau kemudian segera memohon diri. Sewaktu beliau melangkah turun dari tangga Istana. Raja Sipajollangi menyaksikan kaki beliau tidak menyentuh anak tangga melainkan satu jengkal di atasnya.

Beberapa hari setelah pertemuan Syekh Abdurrahim Kamaluddin dan raja di istana. Syekh Abdurrahim Kamaluddin memohon diri kepada Tomakaka Penanian, beliau akan menuju ke negeri Tammajarra ( wilayah Tinambung) untuk menemui Raja Balanipa IV, Daetta Kenna I Pattang.

Sesampainya di negeri Tammajarra, beliau lalu mengutarakan maksud kedatangannya kepada Raja Balanipa, yaitu menyebarkan agama Islam kepada Raja Balanipa. Raja Balanipa menerima dengan baik maksud kedatangan Syekh Abdurrahim Kamaluddin ini. Beliau lalu diizinkan tinggal di Istana. Syekh Abdurrahim Kamaluddin kemudian memulai dakwahnya.

Sejak kepergian Syekh Abdurrahim Kamaluddin dari negeri Binuang, wilayah tersebut tiba-tiba saja ditimpa berbagai macam musibah. Mulai dari wabah penyakit yang menerpa rakyat dan tumbuh-tumbuhan. Rakyat menjadi sengsara dan banyak yang meninggal

Sedangkan, Putri raja yang tadinya perawan karena Kekuasaan Allah menjadi benar-benar hamil. Putri raja ini sering mengalami tanda kehamilan yang tidak wajar dan selalu mengigau menyebut-nyebut nama tamu Tomakaka Penanian. Putri Raja itu betul-betul sangat tersiksa.

Melihat keadaan ini. Raja Sipajollangi Kebingungan. Semua dukun, Pelalai, Pajuntai yang piawai sudah dipanggil untuk mengobati sang putri. Tetapi tak satupun yang berhasil. Seorang ahli nujum kemudian menyarankan kepada Raja Sipajollangi untuk mencari seseorang yang pernah tinggal dirumah Tomakaka Penanian.

“Menurut ramalan saya, satu-satunya orang yang bisa menyembuhkan putri raja dan menyelamatkan rakyat kita disini adalah orang yang pernah tinggal di rumah Tomakaka Penanian” ujar ahli nujum.

Tomakaka Penanian akhirnya diminta untuk memberi tahu keberadaan Syekh Abdurrahim Kamaluddin. Tomakaka kemudian memberi tahu bahwa tamunya itu sedang berada di Tammajarra.

Raja Sipajollangi lalu mengutus orang untuk mencari Syekh Abdurrahim kamaluddin. Utusan raja lalu berangkat ke negeri Tammajarra. Setelah menempuh perjalanan selama enam hari tujuh malam, akhirnya utusan Raja yang dipimpin oleh Lamakarra bertemu dengan Syekh Abdurrahim Kamaluddin.

Syekh Abdurrahim Kamaluddin kemudian bertanya “Ada keperluan apa kalian datang kemari?”. Lamakarra yang menjadi pimpinan rombongan menjawab “Kami diutus Raja Binuang. Beliau meminta pertolongan tuan. Kalau penyakit putrinya sembuh, Tuan akan dinikahkan dengan putri itu.”

Syekh Abdurrahim kamaluddin diam sejenak, lalu beliau berkata “Agama Islam mengajarkan untuk menghormati tamu apalagi yang datang dari jauh, aku tidak akan sampai hati mengecewakan kalian serta Raja Binuang, katakan pada Raja, aku akan kesana untuk melakukan apa yang bisa kulakukan, berangkatlah kalian kesana.”

Mendengar perkataan tersebut, Lamakarra menjadi puas. Dia beserta rombogannya segera meninggalkan Syekh Abdurrahim Kamaluddin dan kembali ke Negeri Binuang. Mereka harus kembali menempuh perjalanan selama enam hari tujuh malam.

Alangkah terkejutnya Lamakarra ketika sampai di Soraja (Istana) Binuang, sebab suasana di Soraja begitu meriah, padahal sejak ia dan rombongannya meninggalkan tempat itu dua minggu yang lalu, tempat tersebut hanya diselimuti oleh kesedihan dan kemuraman.

Setelah dia selidiki, ternyata Raja Sipajollangi tengah merayakan ketujuh hari pesta pernikahan putrinya dengan Syekh Abdurrahim Kamaluddin. Lamakarra tak percaya dengan kenyataan ini. Barulah setelah bertemu dengan mempelai pria, Lamakarra merasa yakin bahwa mempelai pria itu benar-benar Syekh Abdurrahim Kamaluddin.

Syekh Abdurrahim Kamaluddin wafat di Penanian, setelah kurang lebih 40 tahun menyebarkan Agama Islam. Sampai saat ini, nisan yang telah menjadi makam tersebut masih dipelihara baik oleh masyarakat yang bermukim di Pulo Tangnga-Tangnga bahkan pengunjungnya atau peziarahnya selalu ramai setiap saat.

Tag :

mandar sulbar
  • 322 Dibaca