Kemenangan Idul Fitri


Oleh:

Ikhlasul Amal Muslim

"Selamat hari raya idul fitri mohon maaf lahir dan batin" itulah ucapan amat familiar menjalan 1 Syawal 1438 Hijriah, ketika bulan sabit sudah mulai menampakkan wajahnya. Pertanda Ramadan telah meninggalkan kita, bukan meninggalkan untuk selama – lamanya seperti “Roh” manusia tapi Ramadan akan di nikmati kembali setelah melewati fase sebelas bulan lamanya.

Disinilah manusia kembali suci dan bersih, setelah melewati puasa sebulan lamanya. Menahan nafsu amarah, mejauhi hal yang dilarang ketika melaksanan puasa. Kesucian diri ini semoga mampu dipertahankan selamanya karna puasa bukan hanya ada di bulan Ramadan tetapi beberapa puasa sunnah juga mampu melatih diri menjadi pribadi yang lebih baik, termasuk puasa senin - kamis, puasa Daud dan beberapa puasa sunnah lainnya, yang aroma khas ramadannya tak jauh berbeda.

Jangan terlalu bersedih dengan ditinggalkannya bulan Ramadan sebisa mungkin kita berbahagia menyambut hari kemenangan. Sebagaimana kita berperang melawan hawa nafsu, inilah perang paling berat dan paling utama sebagaimana sabdah Rasulullah SAW :

“Jihad yang paing utama adalah seseorang berjihad melawan dirinya dan hawa nafsunya” diriwayatkan oleh Ibnu An – Najjr dari Abu Dzarr Radiyallahu Anhu

Di hadits lain ada yang paling meninggikan derajatnya melawan hawa nafsu. Sebagaimana Sabdah Rasulullah SAW:

“Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wasallam pulang dari sebuah perang, lalu Rasulullah Shallahu alaihi Wassalam bersabda kepada sahabat – sabahab beliau : “Kalian datang dengan datang yang baik, kalian datang dari jihad kecil menuju jihad yang besar”. Sahabat bertanya: “ apakah gerangan jihad yang besar”. Sahabat bertanya: “Apakah gerangan jihad besar itu, wahai Rasulullah?” Rasulullah Shalallahu ‘alaihi Wassalam pun menjawab: “ berperangnya hamba melawan hawa nafsunya” dikutip dari kitab al – zuhd dan hadits ini di riwayatkan oleh Al – Baihaqi

Oleh karna itu ada baiknya sebagai ummat Islam yang berhasil mejalankan puasa di bulan Ramadan sebulan lamanya untuk bergembira menyambut Hari Raya Idul fitri dengan penuh hikmah. Saling berjabat tangan sebagai simbolitas silaturahmi dan mengugurkan dosa – dosa. Bermaafan baik kaum muslim dan non-muslim agar keakraban tetap terjalin baik berbeda agama, mahzab, dan keyakinan sebab hari raya idul fitri sebagai momentum paling istimewa untuk berkujung kesanak keluarga dan tetangga demi menjaga ukhuwa islamiyah.

Momentum berbahagia ini di mamfaatkan sebaik mungkin untuk memberikan  kasih sayang antar sesama manusia sebagai bentuk “hamblum minannas” hubungan antar sesama manusia. Di hari nan fitri ada banyak mankanan khas yang tersedia di meja makanan kita sebagai bentuk rasa syukur tapi tak semua mampu menghidangkan makanan istimewa, seperti ketupat, opor ayam, rendang, dan masakan khas lainnya. Oleh karena itu perlunya berbagi kepada ummat muslim yang tak mampu membahagiakan diri di hari nan fitri agar kebagian itu tertular kepada seluruh ummat muslim.

Sebagai manusia yang di ciptakan oleh Allah SWT dari segenggam tanah seharusnya harus bersifat tanah, tetap tawadduh dalam bersikap. Tak seperti iblis yang terbuat dari api selalu berkobar, suka nyinyir dan mudah marah. Dengan kembalinya ummat muslim kepada yang fitri dan mejalani madrasah Ramadan mampu menjadikan diri bersikap tawadduh tak mudah marah dan lebih produktif.

Karena sebetulnya umma muslim mengalami kemunduran pada produktivitas dan ke ilmuan sejak muncul kaum radikal agama, tak menerima islam ada dalam filsafat dan di cordoba pernah terjadi pembakaran buku filsafat Islam dikarenakan filsafat islam itu menyesatkan, katanya agama Islam tak perlu di logikan disinilah awal mula kemunduran Islam . Padahal dalam seajarah  silam memperlihatkan keperkasaan sebagai agama super power dengan beberapa ilmua muslim seperti Ibnu sina, ibnu khaldun, ibnu batutha, dan beberapa ilmuan islam mencengankan duni. Sebagian orang non muslim pun menerapkan ilmuan Islam.

Dengan berakhirnya bulan ramdhan ini, ummat muslim sedunia merayakan secara seksama demi merenungkan diri apa arti sebulan puasa. Meruntuhkan nafsu amarah sebulan lama hingga meraih kemenangan di hari raya idul fitri.

Tag :

Opini
  • 147 Dibaca
Previous Post

Ihwal Mantra dan Rajah